Jam dinding di ruang dosen menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit ketika Raka menutup buku terakhir. Kuliah hari itu baru saja selesai. Mahasiswa keluar satu per satu sambil masih memperdebatkan materi yang baru saja mereka pelajari.
Raka menyusun beberapa lembar kertas di atas meja. Rutinitas sederhana itu selalu memberinya rasa tenang. Dunia akademik memiliki keteraturan yang ia sukai. Tidak ada garis polisi, tidak ada ruang autopsi. Tidak ada keluarga korban yang menangis meminta keadilan.
Tidak lama kemudian, suara ketukan terdengar. Raka otomatis mengangkat kepala. Sebelum ia sempat menjawab, pintu telah terbuka perlahan. Nathan berdiri di ambang pintu. Di belakangnya, Adam membawa map yang sama seperti kemarin. Raka mendesah lelah, tidak terkejut melihat siapa tamunya.
"Kalian keras kepala." Nathan tersenyum tipis saat menanggapi.
"Aku belajar dari orang yang tepat." Jawaban itu membuat sudut bibir Raka bergerak nyaris tak terlihat.
"Bukankah aku sudah memberikan jawaban kemarin?" sambil bertopang dada, Raka menatap Nathan lekat.
"Aku tahu. Aku tidak memintamu untuk menyelesaikan sebuah kasus. Aku membutuhkanmu untuk melihat sesuatu." Nathan melangkah mendekat.
"Kamu bahkan tidak perlu keluar dari ruangan ini." Raka menggeleng, masih keras kepala dan keras untuk penolakan.
"Nathan." Nada suaranya tetap tenang, dengan tatapan tajam yang tidak membuat Nathan goyah.
"Terkadang, membuka satu pintu berarti membiarkan seluruh masa lalu untuk masuk kembali." Mereka tidak berbicara banyak, hanya dari tatapan dan masing-masing sudah mengerti arti tatapan itu.
"Baiklah." Hanya itu, dan ia meletakkan map itu di atas meja.
Nathan meletakkan salinan surat itu di atas meja, lalu pergi. Pintu tertutup perlahan, meninggalkan ruangan yang kembali hanya diisi Raka seorang. Tatapannya sengaja menghindari selembar kertas yang kini berada tepat di hadapannya.
Tangannya mulai merapikan buku, dan memasukkan laptop ke dalam tas kerja yang ia bawa setiap hari. Dilanjutkan dengan mengambil botol minum. Raka melakukan semua itu seperti biasa. Seolah keberadaan surat itu tidak berarti apapun.
Namun semakin ia berusaha mengabaikannya, semakin besar keberadaan kertas itu memenuhi ruangan.
Sambil berdecak, Raka akhirnya kalah, dengan gerakan lambat, sang dosen menarik kursi dan duduk kembali. Jemarinya menyentuh tepi kertas yang rapuh.
Ada keraguan dalam dirinya, hingga beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia membuka lipatan pertama. Tulisan tangan itu langsung muncul di hadapannya.
Aku lelah.
Aku ingin mengakhiri semuanya di sini.
Jangan salahkan siapa pun.
Raka membacanya sekali, dua kali, Pada bacaan ketiga, dahinya mulai berkerut. Tatapannya berubah. Ia mengambil pulpen dari atas meja dan mulai memberi tanda pada beberapa kata.