Pura-pura Buta

rarapinku
Chapter #5

5. Rahasia yang dipelihara

Di lantai dua gedung kepolisian, waktu seolah berhenti. Ruang penyelidikan hanya diterangi cahaya lampu putih yang menggantung tepat di atas meja kayu besar.

Berkas-berkas perkara memenuhi hampir seluruh permukaannya. Foto tempat kejadian, hasil autopsi, rekaman CCTV, daftar nama siswa, hingga salinan surat terakhir korban tersusun dalam kelompok-kelompok kecil yang mulai memenuhi ruangan.

Adam menguap pelan, matanya yang bulat melirik jam dinding. Pukul sembilan lewat tiga puluh tujuh menit.

"Pak." katanya sambil menutup map yang baru selesai dibacanya. "Kita sudah memeriksa hampir semua data." Nathan mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari papan penyelidikan di depannya.

"Dan kita masih belum punya nama." Kalimat itu terdengar getir. Selama bertahun-tahun menjadi penyidik, Nathan terbiasa menghadapi jalan buntu. Namun kali ini terasa berbeda.

Semakin banyak informasi yang mereka kumpulkan, semakin kabur arah yang harus mereka tuju.

Korban dikenal baik, nilainya tidak buruk, tidak memiliki catatan pelanggaran.

Raka duduk di sudut ruangan dengan secangkir kopi yang sejak satu jam lalu tidak lagi disentuhnya. Di hadapannya hanya ada satu benda.

Salinan surat terakhir korban. Ia telah membacanya puluhan kali, mungkin lebih, namun setiap kali kembali mengulanginya, selalu ada sesuatu yang terasa belum selesai. Bukan karena surat itu terlalu rumit, justru sebaliknya. 

Surat itu terlalu sederhana. Terlalu bersih. Seolah seseorang sengaja menghapus semua emosi yang seharusnya hadir di dalamnya.

Adam memperhatikan Raka yang diam di sudut ruang.

"Pak?" Raka mengangkat kepala perlahan. 

"Apa Bapak menemukan sesuatu?" Sang dosen tidak langsung menjawab, sebagai gantinya, ia menggeser surat itu ke tengah meja.

"Coba kalian baca lagi." Adam menurut.

"Aku lelah. Aku ingin mengakhiri semuanya di sini. Jangan salahkan siapa pun." Selesai membaca, ia mengangkat bahu.

"Masih sama."

Raka mengangguk. "Memang. Justru karena masih sama." Adam semakin bingung. Raka mengambil sebuah pulpen.

"Kalian tahu apa yang paling sering dicari orang ketika membaca surat bunuh diri?."

"Alasan." jawab Nathan cepat. 

"Ya. Tetapi surat ini tidak memberi alasan."

"Bukankah kata lelah sudah menjadi alasan?" tanya Adam. Raka menggeleng.

"Tidak. Lelah adalah akibat, bukan penyebab. Kalau seseorang berkata, 'aku lelah,' pertanyaan berikutnya selalu sama. Lelah karena apa? Tidak ada jawabannya." Ia memindahkan ujung pulpennya ke kalimat kedua.

Lihat selengkapnya