Pura-pura Buta

rarapinku
Chapter #6

6. Wajah yang Tak Asing

Pagi itu sekolah tampak lebih tenang daripada beberapa hari sebelumnya. Garis polisi telah dilepas. Halaman yang sempat dipenuhi kendaraan kepolisian kini kembali menjadi tempat para siswa berjalan menuju kelas masing-masing. Bel masuk berbunyi seperti biasa. Guru-guru membawa buku pelajaran. Dari kejauhan terdengar suara siswa menghafal rumus yang dipandu oleh seorang guru matematika.

Kehidupan perlahan kembali berjalan. Setidaknya, begitulah yang tampak dari luar. Namun Raka mengetahui satu hal yang telah lama ia pelajari. Sebuah tempat dapat kembali terlihat normal jauh lebih cepat daripada luka yang ditinggalkannya.

Ia berjalan menyusuri koridor bersama Nathan dan Adam menuju ruang rapat guru. Kepala sekolah telah mengundang seluruh tenaga pendidik yang memiliki hubungan langsung dengan korban. Hari itu bukan untuk menginterogasi siapa pun. Mereka hanya ingin memperkenalkan seluruh pihak yang mungkin dapat membantu penyelidikan.


Ruangan itu cukup luas. Sebuah meja panjang berada di tengah, dikelilingi kursi-kursi kayu yang telah dipakai selama bertahun-tahun. Aroma kopi hangat bercampur dengan bau kertas dan pendingin ruangan yang sudah mulai tua. Beberapa guru telah duduk ketika mereka masuk.

Ada guru matematika yang tampak sibuk membetulkan posisi kacamatanya. Guru bahasa Indonesia yang sejak tadi memegang buku absensi. Guru olahraga dengan postur tinggi yang lebih banyak diam. Di sudut ruangan, Bu Ratih, guru BK, tersenyum tipis ketika melihat Raka.

"Terima kasih sudah meluangkan waktu." Ujar Kepala Sekolah setelah semua orang duduk.

"Saya berharap pertemuan ini bisa membantu proses penyelidikan." Nathan menganggukkan kepala.

"Kami hanya ingin mengenal lingkungan sekolah dengan lebih baik." Tidak ada pertanyaan. Tidak ada tekanan. Hanya percakapan ringan yang perlahan membuat suasana mencair. Raka lebih banyak mendengarkan. Sesekali ia mencatat nama, bukan karena takut lupa, melainkan karena ia memiliki kebiasaan lama. Nama selalu memiliki cerita.

Pertemuan berlangsung hampir tiga puluh menit ketika kepala sekolah kemudian berdiri.

"Baik, sebelum kita selesai, izinkan saya memperkenalkan Bapak Raka kepada seluruh guru." 

Satu per satu guru berdiri, mereka berjabat tangan dengan Raka, memperkenalkan diri dan lainnya.

"Pak Doni, guru matematika."

"Senang bertemu."

"Bu Siska, wali kelas X-B."

"Salam kenal."

"Pak Heru, guru olahraga."

"Semoga penyelidikannya lancar."

Senyum, sapaan, jabat tangan. Semuanya berlangsung biasa. Raka membalas setiap sapaan dengan sopan. Ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, hingga kepala sekolah kembali berbicara.

"Pak Raka, perkenalkan." Beliau menoleh ke arah seorang pria yang sejak tadi duduk di sisi paling ujung meja.

"Ini Pak Bayu." Pria itu segera berdiri. Usianya sekitar pertengahan tiga puluhan. Tubuhnya tegap. Rambutnya dipotong rapi. Kemeja biru muda yang dikenakannya disetrika tanpa satupun lipatan kusut.

Di wajahnya terukir senyum yang hangat. Senyum seorang guru yang mudah dipercaya.

Ia melangkah mendekat sambil mengulurkan tangan.

"Senang berkenalan, Pak Raka." Raka menyambut uluran tangan itu, sambil membalas.

Lihat selengkapnya