Pura-pura Buta

rarapinku
Chapter #4

4. Sanksi yang Membisu

Pagi datang bersama cahaya yang lembut. Langit membentang biru tanpa dihiasi awan kelabu. Matahari menyinari halaman sekolah dengan hangat, mengeringkan sisa hujan yang selama beberapa hari terakhir membasahi kota. Dari kejauhan terdengar suara burung yang bertengger di pucuk-pucuk pohon mahoni, sementara hembusan angin menggerakkan bendera merah putih yang berkibar tenang di halaman SMA Cahaya Pemuda.

Segalanya tampak begitu damai. Terlalu damai. Mobil kepolisian berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Beberapa siswa yang sedang berjalan menuju kelas menghentikan langkahnya. Tatapan mereka mengikuti tiga orang yang turun dari kendaraan itu.

Nathan, sang penyidik dari kepolisian melangkah lebih dahulu. Di belakangnya, penyidik yang lebih muda membawa map berisi seluruh berkas penyelidikan. Orang terakhir yang turun adalah Raka, seorang dosen yang mendatangi tempat kejadian.

Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu muda dengan celana hitam sederhana. Sebuah tas kulit tua tersampir di bahunya. Penampilannya tidak menunjukkan bahwa ia pernah menjadi bagian dari dunia investigasi. Ia lebih menyerupai dosen yang tersesat menuju kampus yang salah. Namun, sejak kedua kakinya menginjak halaman sekolah, sorot matanya berubah.

Ia tidak langsung melihat gedung. Tidak pula memandang garis polisi yang masih membentang di sekitar taman belakang. Ia memperhatikan manusia.

Seorang guru yang mendadak menghentikan percakapannya ketika melihat polisi, dua siswa yang saling berbisik sebelum buru-buru masuk ke kelas. Seorang petugas kebersihan yang berpura-pura tetap menyapu, meski sapunya berhenti bergerak sejak beberapa detik lalu.


Kepala sekolah menyambut mereka di ruangannya. Ruangan itu cukup luas. Rak-rak buku memenuhi salah satu sisi dinding. Beberapa piala tersusun rapi di dalam lemari kaca. Foto-foto kegiatan sekolah dipajang dengan bingkai kayu yang mengkilap. Sekilas, ruangan itu memancarkan kebanggaan sebuah sekolah berprestasi, sekolah yang tertib, sekolah yang menjadi kebanggaan kota.

"Terima kasih sudah datang kembali, Pak Nathan." Kepala sekolah menyambut mereka dengan senyum sopan.

"Lalu ini," Sang kepala sekolah bertubuh tambun beralih kepada Raka. Wajah baru, ia tidak melihat orang ini beberapa hari yang lalu.

"Raka Arya Pratama." Nathan yang memperkenalkan. "Beliau membantu kami sebagai konsultan bahasa." Kepala sekolah menganggukkan kepala, kepala plontosnya berkilau terkena cahaya.

"Senang bertemu dengan anda, Pak." Raka membalas senyum itu tipis.

"Terima kasih sudah menerima kami." Percakapan berlangsung singkat. Nathan mulai menanyakan kembali beberapa hal mengenai korban. Prestasi akademik, hubungan dengan guru, catatan pelanggaran. Semua jawaban terdengar nyaris sempurna, dan sama seperti sebelumnya.

Ketika kepala sekolah menyebut kata pendiam, ia berhenti sesaat sebelum melanjutkan kalimat berikutnya. Jeda itu sangat singkat, kurang dari satu detik, namun cukup untuk menarik perhatian Raka.

"Apakah ada masalah antara korban dengan siswa lain?" tanya Nathan. Kepala sekolah menggeleng.

"Sejauh yang kami ketahui, tidak ada."

"Bullying?" Pria itu kembali menggeleng lagi.

"Kami memiliki program anti perundungan yang berjalan sangat baik." Jawaban yang diberikan sang kepala sekolah terdengar meyakinkan. 

Raka akhirnya ikut berbicara. "Boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu."

"Ketika Bapak mengatakan 'sejauh yang kami ketahui'," Raka berhenti sejenak. " Apakah itu berarti Bapak yakin tidak ada perundungan?."

"Saya..." Ia tersenyum kecil. 

"Di sekolah sebesar ini tentu sulit mengetahui semua yang dilakukan siswa."

Raka mengangguk pelan. "Terima kasih." Hanya itu. Tidak ada pertanyaan lanjutan, namun Nathan mengenal sahabatnya cukup lama untuk memahami bahwa Raka baru saja menemukan sesuatu.

Tak lama kemudian, wali kelas korban datang menghampiri mereka. Namanya Bu Mega, wanita yang sama dengan sebelumnya mereka temui tempo hari. Usianya sekitar lima puluh tahun, dengan wajah teduh yang kini tampak jauh lebih lelah dibandingkan dua hari lalu, juga itu, sebuah senyuman yang dipaksakan sama seperti sebelumnya.

Lihat selengkapnya