Pura-pura Buta

rarapinku
Chapter #20

20. Harga yang Harus Kubayar

Keesokan harinya, aku melangkah melewati gerbang sekolah dengan tungkai yang terasa seberat besi. Udara pagi yang biasanya segar kini terasa mencekik. Beberapa teman yang sedang berkerumun di dekat papan tulis mendadak menurunkan volume suara mereka, berbisik sambil melirik ke arahku.

Sementara yang lain, dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat, memalingkan wajah dan menghindari kontak mata denganku sama sekali.

Tidak ada lagi ejekan keras yang terlontar seperti sebelumnya, tetapi keheningan ini justru membuatku semakin gelisah. Aku berjalan menuju bangku ketiga dekat jendela, menurunkan tas biruku dengan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan bunyi berisik.

Aku hanya bisa duduk diam, meremas jemariku yang dingin di bawah kolong meja, sambil merapikan buku pelajaran.

Dalam hati, aku terus merapalkan doa yang sama berulang-ulang, Semoga, hari ini berlalu tanpa ada masalah baru.

Namun, semua ketenangan itu hanyalah semu. Menjelang siang, saat jam pelajaran ketiga sedang berlangsung, pintu kelas diketuk dari luar. Seorang guru piket melangkah masuk, membisikkan sesuatu kepada guru yang sedang mengajar di depan, lalu matanya menyapu seisi ruangan.

"Bayu, silakan ikut Ibu ke ruang guru sekarang," ucap guru piket itu lantang.

Seketika, seluruh pasang mata di kelas beralih tertuju pada satu titik. Bayu yang biasanya bersandar santai di kursinya sempat menunjukkan ekspresi terkejut. Alisnya bertaut, dan tubuhnya menegang selama beberapa detik sebelum ia akhirnya berdiri.

Kelas mendadak hening, mencerna kejadian yang jarang sekali terjadi ini.

Sebelum melangkah keluar melewati pintu, Bayu sengaja menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh, menatap lurus ke arahku dengan sepasang mata yang menyipit penuh intimidasi.

Tatapan itu begitu tajam dan dingin, hingga membuat bulu kudukku meremang dan memicu rasa cemas yang luar biasa di dalam dadaku.

Aku menjadi sulit untuk fokus. Suara guru di depan papan tulis hanya terdengar seperti dengungan lebah yang samar di telingaku. Pikiranku sepenuhnya melesat keluar ruangan, dipenuhi berbagai kemungkinan mengerikan tentang apa yang sedang terjadi di ruang guru saat ini.

Apakah Bu Guru sedang memarahinya? Apakah Bayu sedang dihukum? Apakah semua ini karena kemarin Mama datang ke sini?

Satu jam kemudian, pintu kelas kembali berderit.

Bayu melangkah masuk. Seketika itu juga, suasana kelas terasa sangat berbeda. Tidak ada seorang pun yang berani bertanya secara langsung mengenai apa yang terjadi di dalam sana, tetapi rasa penasaran yang besar terpahat jelas di wajah teman-teman dan tentunya aku juga.

Bayu sendiri berjalan lurus ke bangkunya tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri. Ia terlihat jauh lebih pendiam dan murung dari biasanya.

Lihat selengkapnya