Hari-hari berlalu begitu berat tanpa mengizinkan aku untuk merasakan arti sebuah rasa. Aku menjalani hidup seperti sebuah robot yang dipaksa untuk terus melangkah maju. Bangun pagi, mengikat tali sepatu dengan jemari yang dingin, berjalan menunduk melewati gerbang sekolah, lalu duduk diam di bangku ketiga dekat jendela hingga bel pulang berbunyi.
Aku tidak lagi bisa mencerna rasa yang datang. Rasa takut, rasa sedih, rasa kecewa, semuanya telah melebur menjadi satu mati rasa yang sengaja dikubur dalam-dalam. Hatiku seperti telah dilapisi semen yang tebal. Sudah kebas, hambar, dan kosong. Aku hanya bergerak karena keharusan, bukan karena ingatan bahwa aku adalah seorang anak yang memiliki jiwa.
Tanpa terasa, waktu yang bergulir dalam kesunyian itu membawaku tiba di penghujung ujian semester dua di kelas lima.
Ujian demi ujian kulewati dengan cara yang sama seperti biasanya. Di saat anak-anak lain mengeluh di selasar tentang sulitnya soal matematika atau kerumitan menghafal nama-nama pahlawan, aku memilih langsung menenggelamkan diri dalam lembar jawaban.
Menulis dan menghitung adalah satu-satunya momen di mana duniaku terasa bisa dikendalikan. Di atas kertas ujian, tidak ada tatapan sinis Bayu, tidak ada pengabaian dari Aldi, dan tidak ada bisik-bisik yang mengejekku. Hanya ada aku dan angka-angka yang tidak pernah memandangku dengan penuh kebencian.
Ketika hari pembagian rapor tiba, sebuah pengumuman dibacakan di depan kelas. Seperti tahun-tahun sebelumnya, namaku kembali bertengger di barisan tiga juara utama kelas. Bahkan, kali ini nilai-nilaiku melesat melampaui target, menempatkanku di posisi teratas sebagai juara pertama.
Namun, prestasi yang seharusnya memicu sorak bangga itu kini terasa sangat hambar. Tidak ada lagi debar dada yang penuh kebahagiaan seperti saat aku pertama kali masuk sekolah dasar. Bagiku, piala dan angka seratus di atas kertas itu tak lagi memiliki arti sebuah kebanggaan, selain satu-satunya hadiah yang bisa membuat Mama merasa tenang
Jika aku juara, artinya belajarku tidak terhambat sehingga Mama mengira masalahku dengan teman-teman sudah berlalu begitu saja.
Padahal, kenyatannya sangat jauh berbeda. Nilai tinggi itu hanya sebuah angka yang tak memberikan rasa tenang.
Rasa hambar itu kian diperparah oleh atmosfer kelas yang mendadak berubah semakin panas. Keberhasilanku menjadi juara satu ternyata tidak membuat mereka kagum. Hal itu justru menjadi sumber bahan bakar baru yang menyalakan api kebencian yang lebih besar di hati teman-teman sekelas.
"Tukang mengadu mah bebas, nilainya pasti dibagus-bagusin," sindir Dimas saat aku berjalan kembali ke bangku setelah menerima rapor.
Kalimat itu diucapkan dengan volume yang cukup keras, memancing senyum setuju dari beberapa anak di sekitarnya.
Mereka menganggap prestasiku yang selalu bagus adalah hasil dari belas kasihan guru, atau mungkin rasa takut jika Mamaku yang pernah datang ke sekolah dulu akan marah-marah. Aku hanya bisa memeluk erat map raporku, meresapi tatapan-tatapan benci yang kini semakin terang-terangan diarahkan ke sudut jendela tempatku berada.
Meski begitu, jika aku harus mengingat kembali, masa-masa di kelas lima sebenarnya adalah salah satu waktu terbaik yang pernah kumiliki di tengah rentetan kejadian buruk ini. Alasan di balik kenyamanan itu adalah karena kehadiran sosok Bu Astri, wali kelas kami yang baru.
Bu Astri adalah sosok yang sangat berbeda dari Bu Rina atau pun guru lainnya. Ia adalah guru muda yang membawa kehangatan ke dalam ruang kelas yang dingin ini. Bu Astri tidak pernah membeda-bedakan murid.
Ia adalah tipe guru yang akan menghampiri meja anak yang paling pendiam, menepuk pundaknya dengan lembut, dan bertanya apakah ada materi yang belum dipahami. Perhatiannya tulus, bukan jenis keramahan yang dibuat-buat untuk menuntut kepatuhan.
Bagi aku yang sudah terbiasa dianggap sebagai murid tak terlihat, keberadaan Bu Astri adalah sebuah mukjizat kecil. Beberapa kali, saat jam istirahat di mana kelas kosong dan aku menyibukkan diri dengan buku pelajaran, Bu Astri akan duduk di kursi sebelahku.