Memasuki semester pertama di kelas enam, atmosfer di kelas berubah drastis. Lorong-lorong yang biasanya dipenuhi tawa anak-anak kini terasa lebih tegang.
Papan tulis di dalam kelas tidak lagi dihiasi gambar-gambar kapur yang berwarna warni. kini, sudut kanan atasnya dipenuhi oleh tulisan kapur merah yang mencolok
Hitung Mundur Ujian Nasional: 120 Hari Lagi.
Di bawahnya, deretan jadwal try out, kelas tambahan sore, dan simulasi pengisian lembar jawaban komputer berjejer rapi, memaksa kami untuk selalu siap menghadapi serangkaian kelulusan.
Bagi anak-anak lain, kelas enam adalah tentang kecemasan apakah mereka bisa lulus SD dan masuk ke SMP favorit di kota. Namun bagiku, kelas enam adalah tentang bagaimana caranya bertahan hidup setiap hari menghadapi orang-orang di sekitarku yang tak pernah memberiku rasa aman.
Harapan tentang adanya sosok pengganti Bu Astri yang bisa menjadi tempat berteduh langsung menguap di hari pertama. Wali kelas kami yang baru, Pak joko, adalah tipe guru senior yang hanya peduli pada ketertiban dan target kelulusan seratus persen. Baginya, soal hubungan antar murid adalah urusan sepele yang tak perlu dilebih-lebihkan hingga menyita waktu mengajar.
Sepanjang semester berjalan, aku tidak pernah lagi mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan, tidak pernah bersuara saat diskusi, dan memilih menjadi orang yang tak terlihat siapa pun. Aku tak ingin salah berucap dan bersikap yang membuat orang lain menjadikan aku sasaran amarah.
Namun, mengasingkan diri ternyata tidak otomatis membuatku aman. Di kelas enam, intensitas simulasi ujian semakin tinggi. Dan di sinilah masalah baru itu muncul. Setiap kali hasil try out mingguan ditempel di papan pengumuman luar kelas, namaku selalu berada di urutan teratas, berselisih beberapa poin di atas Refa, anak Bu Rina.
Kepintaranku, yang awalnya kukira bisa menjadi tameng pembuktian diri agar tidak lagi disepelekan, justru berubah menjadi target baru yang memicu kecemburuan sosial yang luar biasa kejam di antara teman-teman sekelas. Rumor-rumor mulai disebarkan, berputar di antara barisan meja bagai racun yang tidak terlihat.
"Paling juga dia pegang bocoran soal dari ibunya yang kenal dekat sama guru-guru," bisik Dimas suatu siang, sengaja mengeraskan suaranya saat aku berjalan melewati kerumunannya untuk mengumpulkan lembar jawaban.
"Iya, anak emas mah bebas. Nilai try out-nya bisa diatur supaya tetap nomor satu. Kasihan Refa yang sudah belajar jujur setengah mati, meskipun anak guru tapi dia selalu ramah," sahut anak lain menimpali.
Ucapan-ucapan itu menyebar dengan cepat, membentuk keyakinan baru di kepala mereka bahwa aku adalah seorang anak emas dengan pengaruh orangtua yang bisa membeli soal.
Prestasi yang kuraih dengan cara mengorbankan waktu istirahat untuk membaca di kelas kosong, kini dihargai dengan sebutan curang.
Aku tidak mencoba membela diri. Aku tahu, di dalam kelas ini, suaraku sudah lama kehilangan haknya untuk didengar.