Pura-pura Buta

rarapinku
Chapter #23

23. Rahasia Koridor

Mendung yang berkepanjangan menyambut Raka pagi itu. Garis polisi di SMA Cahaya Pemuda memang sudah dibuka, kegiatan para siswa juga sudah kembali seperti biasa, dalam rutinitas para murid yang datang ke sekolah dengan berbagai ekspresi serta suasana hati.

Hanya saja, dibalik senyuman seorang murid perempuan yang menunggu temannya di depan gerbang, di balik wajah ngantuk seorang pemuda yang baru turun dari mobil, pakaian rapi siswa yang turun dari motor, masih ada potongan puzzle yang belum Raka pecahkan.

Ketika seorang siswa ditemukan meninggal dunia di lingkungan sekolah. Saat orang-orang menyebutkan sebagai bunuh diri, Raka tidak setuju dengan itu semua.

"Kita mulai dari mana?" Nathan yang baru keluar dari dalam mobil bertanya.

"Periksa lagi lokasi kejadian. Adam bisa bertanya kepada petugas sekolah yang lain."

"Bagaimana denganmu?"

"Aku akan mencari. Mencari celah untuk menemukan petunjuk." Nathan paham.

Raka tidak pernah menjadi orang yang pesimis. Ia selalu percaya dengan instingnya. Bahkan ketika bukti tidak mendukung mereka.

Setelah mendapatkan izin dari kepala sekolah untuk melanjutkan penyelidikan, mereka melakukan tugas masing-masing. Ketika Nathan kembali menelusuri lokasi kejadian dan Adam mulai bertanya kepada penjaga sekolah, Raka berdiri di depan kelas sang murid.

Ia tidak masuk karena tidak ingin mengganggu jam pelajaran, dan meminta izin untuk memasuki ruang kelas setelah pergantian jam pelajaran.

Sambil menunggu bel berbunyi, Raka memperhatikan suasana koridor sekolah yang mulai kembali tenang. Sesekali terdengar suara guru menjelaskan pelajaran dari balik pintu kelas, diselingi tawa kecil para siswa yang segera mereda ketika diingatkan.

Beberapa murid yang melintas memandang Raka dengan rasa penasaran, lalu bergegas melanjutkan langkah mereka.

Raka tidak mengalihkan pandangannya dari pintu kelas. Baginya, menunggu bukanlah waktu yang terbuang. Justru dalam jeda seperti itu, ia dapat mengamati hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian orang lain.

Cara siswa keluar masuk kelas, raut wajah mereka saat melihat keberadaannya, hingga bisikan pelan yang terdengar ketika mereka menyadari ada penyidik di depan ruangan.

Tak lama kemudian, bel pergantian jam akhirnya berbunyi. Suasana koridor yang semula lengang seketika dipenuhi langkah kaki para siswa dan guru yang berpindah kelas.

Setelah guru mata pelajaran sebelumnya keluar, Raka menghampiri wali kelas dan kembali memperkenalkan diri. Usai mendapat izin, barulah ia melangkah masuk ke dalam kelas dengan tenang, disambut puluhan pasang mata yang langsung tertuju kepadanya.

Saat Raka masuk, para murid yang melihatnya langsung menjadi tegang serta kaku. Seperti takut dengan kehadirannya, atau takut dengan auranya.

"Jangan takut. Aku hanya perlu berbicara dengan beberapa murid yang berinteraksi dengannya di hari kejadian."

Raka memutuskan untuk tidak lagi mewawancarai seluruh murid, dan mempersempit penyelidikannya dengan mewawancarai beberapa murid. Selama sang dosen mengeluarkan pertanyaan, jawaban yang mereka selalu sama.

"Aku tidak tahu."

Lihat selengkapnya