Kabut tebal selalu memeluk Lembah Sarawit, sebuah ceruk tersembunyi di bawah kaki Gunung Puncak yang seolah sengaja menutup diri dari riuh rendah dunia. Di sana, hanya ada sebelas rumah kayu yang berdiri kokoh, dihuni oleh lima belas kepala keluarga yang hidup dalam harmoni yang sunyi. Di tengah pemukiman mungil itu, sebuah rumah berdiri paling megah, menandakan kediaman sang sesepuh sekaligus pelindung kampung.
Di dalam rumah besar itulah, Masari, putri sang kepala kampung, merajut bahagia. Ia hidup bersama suaminya, Jarog, dan putra kecil mereka Bernama Kent Jarog Brajanata yang baru berusia dua tahun seorang bocah lelaki yang menjadi pelengkap tawa di tengah dinginnya kabut lembah.
Namun, di balik kesederhanaan hidup sebagai penduduk lembah, mengalir darah yang luar biasa di dalam nadi Jarog.
“Rahasia dari Kerajaan Jaya Wijaya”.
Jarog bukanlah pemuda biasa. Ia adalah putra dari Barajanata, sosok pilar perkasa dari Kerajaan Jaya Wijaya, sebuah kekaisaran agung yang berdiri di tepian benua. Semasa hidupnya, Barajanata adalah panglima yang namanya digetarkan oleh angin peperangan, ia adalah pedang kerajaan yang menumpas pemberontak, sosok yang ditakuti lawan dan dipuja kawan karena kedigjayaannya yang tak tertandingi.
Maut akhirnya menjemput sang panglima di usia delapan puluh tahun. Namun, sebelum napas terakhirnya lepas, Barajanata meninggalkan sebuah wasiat sakral kepada istrinya, Sumartani.
Pusaka Batu Putih Dengan tangan yang gemetar namun sorot mata yang penuh arti, Barajanata menyerahkan sebuah benda yang terbungkus kain sutra lusuh. Di dalamnya terdapat sebuah batu putih berbentuk persegi berukuran sepuluh sentimeter.
Batu itu bukan sekadar batu. Di permukaannya, terukir dengan sangat halus lambang Bunga Wijaya Kusumah berwarna biru muda, simbol keagungan yang mistis. Ukirannya menyimpan rahasia angka yang ganjil:
5 kelopak di bagian atas.
17 kelopak di bagian tengah.
6 kelopak di bagian bawah.
Satu tangkai kokoh yang menyangga seluruh kelopak tersebut, menyatukannya menjadi satu kesatuan yang utuh dan berwibawa.
Wasiat Terakhir
Dalam sisa tenaganya, Barajanata berbisik lirih, suaranya parau namun sarat akan beban sejarah yang panjang.
"Istriku... simpanlah ini baik-baik. Berikan batu dengan simbol bunga ini kepada anak kita, Jarog. Katakan padanya, ini adalah warisan terakhir dariku... satu-satunya kunci untuk memahami siapa ia sebenarnya."
Air mata Sumartani jatuh membasahi jemari suaminya yang mulai mendingin. Ia mendekap batu itu erat ke dadanya, merasakan getaran aneh yang seolah terpancar dari ukiran kelopak bunga tersebut.
"Baiklah suamiku," jawabnya dengan suara bergetar namun tegas. "Aku berjanji, kelak akan kuserahkan pusaka ini kepada putra kita."
"Ketika kabut Lembah Sarawit mulai tersingkap oleh api peperangan, ke mana Jarog harus melangkah? Bisakah ia berlari dari musuh-musuh masa lalu ayahnya yang kini mulai mencium keberadaan pusaka tersebut?"
Di tengah kemegahan rumah besar di pusat kota Jaya Wijaya, Sumartani terduduk lesu. Meski dinding rumahnya berlapis ukiran emas, hatinya hampa. Ia sengaja mengirim Jarog ke Lembah Sarawit sebuah kampung sunyi yang terhapus dari peta demi melindunginya dari belati para musuh Barajanata yang haus kekuasaan.
Sambil mendekap batu putih pusaka itu, air matanya jatuh. Ia teringat wajah Jarog yang kini hidup sebagai orang biasa di kaki gunung, jauh dari hiruk-pikuk pedang dan darah. "Di sana kau aman, Nak," bisiknya pada bayang-bayang. Namun, ia tahu wasiat suaminya tak bisa selamanya disembunyikan. Simbol 5-17-6 itu adalah kompas takdir. Suatu saat nanti, ia harus menembus kabut Sarawit untuk menyerahkan beban ini, meski itu berarti mengakhiri kedamaian putranya selamanya. Di luar, langkah kaki prajurit penjaga terdengar berderap, seolah mengingatkan bahwa waktu terus memburu rahasia mereka.
Kapankah rahasia itu akan terungkap? Dan sanggupkah Jarog memikul beban amanat ayahnya sang panglima ?
Kini, Jarog hidup tenang di Lembah Sarawit, tak menyadari bahwa di tangan ibunya tersimpan sebuah batu putih yang mampu mengguncang tatanan lima benua. Ia belum tahu bahwa simbol 5-17-6 itu bukan sekadar hiasan, melainkan takdir berdarah yang sedang menanti untuk dijemput.
Di Lembah Sarawit, Jarog menjalani hidup dengan napas yang teratur mengikuti ritme alam. Saban pagi, ia memanggul cangkul menuju ladang, bermandikan peluh bersama mertuanya di bawah naungan langit gunung yang ramah. Tak ada kemewahan, hanya tawa kecil putranya dan hangatnya masakan Masari yang menanti di meja kayu sederhana. Baginya, kebahagiaan itu seharusnya sudah cukup.
Namun, segalanya berubah saat senja meredup dan kabut mulai merayap masuk ke celah-celah dinding bambu rumahnya.
Ketika malam mencapai puncaknya, keheningan Sarawit justru menjadi suara yang memekakkan telinga bagi Jarog. Di saat anak dan istrinya telah terbuai mimpi, ia seringkali terjaga dengan dada yang bergemuruh hebat. Perasaan gelisah yang tak masuk akal datang merayap seperti hawa dingin gunung yang menembus tulang.
Dalam keremangan lampu minyak, bayangan wajah ayahnya, Barajanata, muncul begitu nyata di pelupuk matanya wajah yang tegas namun menyimpan duka yang dalam. Jarog meremas jemarinya yang kasar karena tanah ladang, berusaha mengusir sesak yang tiba-tiba menghunjam jantungnya.