Tiga hari yang tersisa di Lembah Sarawit berubah menjadi waktu yang berjalan begitu lambat, namun terasa sangat mendesak. Setiap detik yang berlalu adalah pertarungan antara rasa sayang dan kewajiban.
Hari Pertama, Persiapan Sang Petarung yang Tersembunyi
Pagi itu, Jarog tidak langsung ke ladang. Ia berdiri di belakang rumah, memandang pohon jati tua. Dengan gerakan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, ia mengambil kapak pembelah kayunya. Namun, cara ia menggenggamnya berubah, bukan lagi sebagai alat tani, melainkan sebagai senjata. Ia mengayunkan kapak itu dengan kecepatan yang membelah angin, sebuah insting tempur yang selama ini terkubur di bawah otot petaninya mulai bangkit.
Mertuanya memperhatikan dari kejauhan, lalu mendekat membawa sebuah bungkusan kain tua. "Ini bukan senjata kerajaan, tapi baja ini cukup kuat untuk menemanimu sampai ke kota," bisiknya. Di dalamnya terdapat sebuah belati panjang berkilap perak. Hari itu, Jarog mulai melatih kembali refleks tubuhnya, menyiapkan fisiknya untuk perjalanan yang mungkin takkan pernah ada jalan pulangnya.
Hari Kedua, Perpisahan dalam Keheningan
Udara di Sarawit terasa lebih dingin dari biasanya. Jarog menghabiskan waktu sepanjang hari bersama putra kecilnya. Ia menggendong bocah itu ke tepi sungai, membiarkannya bermain air sementara matanya terus menatap sang anak seolah ingin menyimpan setiap tawa itu di dalam sanubarinya.
Malam harinya, Masari menyiapkan segala bekal perjalanan nasi timbel yang dibungkus daun pisang dan pakaian terbaik yang ia miliki. Tak banyak kata yang terucap di antara mereka. Keheningan itu sarat akan doa. Masari tahu, suaminya sedang bersiap menjadi tameng bagi masa depan anak mereka. "Kembalilah sebagai pemenang atas dirimu sendiri," hanya itu yang Masari bisikkan saat mereka berpelukan di bawah temaram bulan sabit.
Hari Ketiga, Gerbang Takdir Terbuka
Fajar menyingsing dengan kabut yang sangat tebal, seolah Lembah Sarawit pun enggan melepas kepergian putra terbaiknya. Di ambang pintu rumah besar itu, Jarog berdiri dengan tas selempang kulit dan belati tersembunyi di balik pinggangnya. Sosoknya tampak begitu berwibawa, jauh berbeda dengan Jarog yang biasanya hanya memakai caping ladang.
Mertuanya memegang pundaknya kuat-kuat. "Ingat, Jarog, jangan tunjukkan siapa dirimu sampai kau benar-benar berada di depan ibumu. Musuh di kota punya seribu mata."
Jarog mengangguk mantap. Ia mencium kening istrinya dan mengelus rambut putranya yang masih terlelap. Dengan langkah kaki yang berat namun pasti, ia membalikkan badan. Begitu kakinya menyentuh batas luar kampung, kabut lembah seolah tersibak memberinya jalan.
Pandangannya lurus ke depan, menembus hutan dan gunung. Kegelisahan sebulan terakhir kini berubah menjadi api semangat yang dingin. Ia bukan lagi Jarog si petani lembah, ia adalah putra Barajanata yang sedang pulang untuk menagih takdirnya di pusat Kerajaan Jaya Wijaya. Perjalanan yang akan mengguncang lima benua itu resmi dimulai.
Kita putar kembali roda waktu, dua belas tahun sebelum keberangkatan Jarog.
Saat itu, Jarog hanyalah seorang bocah berusia delapan tahun yang masih menyimpan trauma. Ia tiba di Lembah Sarawit dengan napas tersengal, dibawa dalam dekapan Sarkara bawahan paling setia ayahnya yang kini menjadi mertuanya. Namun, Sarkara tahu bahwa menyembunyikan Jarog saja tidak cukup. Musuh Barajanata adalah orang-orang yang licik dan sakti, suatu saat mereka akan menemukan tempat ini.
"Jika kau ingin tetap hidup, kau harus menjadi lebih kuat dari bayanganmu sendiri," ucap Sarkara suatu pagi di lereng terjal Gunung Puncak.
Gemblengan di Puncak Awan
Selama dua belas tahun, antara usia 8 hingga 20 tahun, kehidupan Jarog adalah tentang disiplin dan rasa sakit yang membentuk raga. Setiap subuh, saat kabut masih begitu pekat hingga tangan tak terlihat, Jarog dibawa ke pertengahan tinggi Gunung Puncak. Di sana, di atas bebatuan yang licin dan udara yang tipis, Sarkara melatihnya dengan keras.
Ilmu Bela Diri "Guntur Wijaya Kusumah", Sarkara menurunkan aliran bela diri rahasia milik keluarga Barajanata. Jarog dilatih untuk memiliki gerakan yang secepat kilat namun seberat hantaman palu baja. Ia belajar bagaimana memanfaatkan berat tubuh lawan dan mengubah arah angin menjadi tenaga dalam. Tangannya yang semula halus perlahan berubah menjadi sekeras kayu jati karena setiap hari menghantam batang pohon dan batu gunung.
Ketajaman Insting ilmu Rasa Jiwa, Jarog sering ditinggalkan di dalam hutan gelap dengan mata tertutup. Ia harus belajar "melihat" menggunakan telinga dan kulitnya. Insting inilah yang membuatnya mampu merasakan kehadiran musuh bahkan sebelum mereka menampakkan diri.
Ilmu Pengobatan dan Anatomi, Sarkara tidak hanya ingin Jarog menjadi mesin pembunuh. Di sela-sela latihan fisik, Jarog diajarkan tentang tanaman herbal yang tumbuh di lereng gunung. Ia belajar titik-titik saraf manusia mana yang bisa menyembuhkan dan mana yang bisa melumpuhkan dalam satu sentuhan. Pengetahuan ini membuatnya menjadi pemuda yang tenang dan penuh perhitungan.
Sosok Ksatria di Balik Petani
Tahun demi tahun berlalu, Jarog tumbuh melampaui ekspektasi Sarkara. Di usia 20 tahun, tubuhnya telah mencapai puncak kegagahan. Kulitnya yang tampan kecokelatan terpapar matahari gunung, dan matanya menyimpan sorot tajam yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah menguasai diri sendiri.
Masyarakat Sarawit hanya mengenalnya sebagai pemuda petani yang sangat rajin dan pendiam. Mereka tidak tahu bahwa di balik rutinitasnya membelah kayu dan mencangkul ladang, Jarog adalah seorang ahli bela diri yang mampu menumbangkan sepuluh pria dewasa dalam sekejap mata.
Sarkara melihat transformasi itu dengan bangga sekaligus pedih. Ia tahu, dengan kemampuan sehebat itu, Jarog sudah siap untuk dinikahkan dengan Masari sebagai perlindungan terakhir. Namun, ia juga tahu bahwa kekuatan sebesar itu tidak akan bisa terkurung selamanya di lembah yang sempit ini.
Latihan selama dua belas tahun di atas Gunung Puncak itu telah mengubah bocah yang ketakutan menjadi seorang ksatria yang matang, siap meledak kapan saja saat takdir memanggilnya kembali ke Kerajaan Jaya Wijaya.
Matahari mulai merangkak naik, membakar sisa-sisa embun yang bergantung di dedaunan. Jarog sampai di sebuah bukit tinggi yang menjadi batas terakhir pandangan mata ke arah Lembah Sarawit. Di sana, ia menghentikan langkah. Angin gunung yang kencang mempermainkan ujung pakaiannya.
Ia membalikkan tubuh. Di kejauhan, nampak siluet kecil rumah besar sang mertua yang masih diselimuti kabut tipis. Bayangan Masari yang berdiri di ambang pintu sambil mendekap putranya Kent Jarog Brajanata mereka seolah terpatri di pelupuk matanya. Jarog menarik napas panjang, menghirup aroma kedamaian untuk terakhir kalinya, lalu dengan satu hentakan napas yang berat, ia membalikkan badan. Masa lalunya telah ia titipkan pada lembah itu, kini di depannya hanya ada jalan setapak yang panjang dan misterius.
Jarog bergerak cepat. Tubuhnya yang gagah melesat lincah menyusuri punggung bukit, menuruni lembah curam, dan melompati bebatuan sungai yang mengalir deras ke arah timur. Kecepatan geraknya bukan lagi seperti petani biasa, melainkan seperti harimau yang baru lepas dari pingitan.