Fajar baru saja menyingsing, menyebarkan rona merah di kaki langit saat Jarog perlahan mengakhiri meditasinya. Begitu kedua kelopak matanya terbuka, sekilas berkas cahaya berwarna kuning keemasan memancar tajam, membelah keremangan pagi sebelum akhirnya meredup kembali. Bersamaan dengan itu, ia mengembuskan napas panjang yang membawa aroma tidak sedap, sebuah proses pembersihan alami di mana sisa-sisa energi kotor dan polusi batin dibuang keluar setelah tubuhnya dipadatkan oleh energi alam yang murni.
Jarog merasakan aliran tenaga yang lebih solid merayap di setiap serat ototnya. Namun, ia tidak lantas berbangga diri. Ia justru termenung, menatap telapak tangannya sendiri yang kini terasa lebih bergetar oleh daya.
"Semalam penuh aku bertaruh dengan kesunyian, namun aku hanya mampu beranjak dari Tahap Pondasi 3 ke Tahap Pondasi 4," gumamnya lirih, suaranya tenggelam di antara kicauan burung pagi.
Pikiran Jarog melayang pada wejangan mertuanya. Jalan ksatria yang ia tempuh ternyata masih sangat panjang dan terjal. Tahap Pondasi bukanlah akhir, melainkan gerbang awal yang terdiri dari 17 tingkatan yang sangat menguras ketabahan. Sementara dirinya, dengan segala usaha keras semalam, baru saja menginjak anak tangga keempat.
"Masih ada tiga belas tingkatan lagi untuk menyelesaikan Pondasi," batinnya dengan dahi berkerut. "Dan setelah itu... aku masih harus berhadapan dengan Tahap Pecahan, sebuah level yang konon hanya bisa dicapai oleh mereka yang sudah melampaui batas kemanusiaan."
Jarog terdiam dalam renungan yang dalam. Ia menyadari bahwa kekuatannya saat ini mungkin cukup untuk melawan binatang buas, namun untuk menghadapi intrik berdarah di pusat kerajaan dan melindungi keluarganya, ia butuh lebih dari sekadar keberuntungan.
Ada rasa haus yang mulai membakar semangatnya. Usaha ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan. Dengan tekad yang semakin mengeras, ia bangkit berdiri. Setiap langkah yang akan ia ambil menuju kota bukan hanya perjalanan jarak, melainkan perjalanan untuk menempa diri agar layak menyandang nama besar yang diwariskan ayahnya. Ia tahu, untuk mencapai puncak tertinggi, ia harus siap melintasi lembah penderitaan yang lebih dalam lagi.
Jarog bangkit berdiri, tangannya bergerak cepat menepuk-nepuk bagian bawah pakaiannya untuk merontokkan debu dan butiran tanah yang menempel selama meditasi. Tanpa membuang waktu, ia segera melangkah mantap ke arah utara, melanjutkan pengembaraan panjangnya menuju pusat kota. Fokus utamanya kini adalah mencari aliran air, ia butuh membersihkan raga dari sisa-sisa energi kotor yang terbuang serta mengganti pakaiannya agar tampil lebih segar.
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam menembus rimbunnya belantara, telinga tajamnya menangkap simfoni alam yang ia cari, suara gemericik air yang mengalir deras di kejauhan. Jarog mempercepat langkah, dan tak lama kemudian, matanya menangkap siluet sungai kecil dengan air seputih kristal yang mengalir di antara celah bebatuan.
Tanpa ragu, ia melangkah masuk ke dalam air yang dingin menyegarkan. Namun, alih-alih mengikuti arus, Jarog justru berjalan melawan arus, mendaki menuju hulu di mana mata air itu berasal. Saat kakinya terendam lebih dalam, sebuah sensasi aneh mulai menjalar melalui pori-pori kulitnya. Ada getaran tak kasat mata yang merayap naik, membuat bulu kuduknya berdiri.
"Aneh..." batin Jarog, langkahnya melambat. "Aku merasakan ada kepadatan energi yang luar biasa di dalam aliran ini. Air ini seolah-olah membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kesegaran."
Dengan rasa penasaran yang memuncak, Jarog membungkuk. Ia meraup air jernih itu dengan kedua telapak tangannya, menghirup aromanya yang berbau harum tanah purba, lalu meminumnya seteguk. Seketika, sebuah ledakan hangat menjalar dari kerongkongan hingga ke pusat jiwanya.
Jarog tersentak hebat, matanya membelalak lebar. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena sebuah penemuan yang mustahil.
"Ini... tidak mungkin! Energi Batu Abadi!" serunya dalam hati, suaranya bergetar antara tidak percaya dan kegirangan yang meluap-luap.
Gairah yang luar biasa seketika membakar semangatnya. Batu Abadi adalah legenda di dunia persilatan, sebuah sumber energi langka yang bisa memangkas waktu latihan bertahun-tahun dalam sekejap. Tanpa mempedulikan pakaiannya yang kini basah kuyup, Jarog bergegas menyisir sungai dengan langkah seribu. Matanya liar memindai setiap celah bebatuan di hulu sungai, mencari asal-muasal harta karun alam yang baru saja memberinya harapan besar untuk segera melampaui tingkatan pondasinya. Takdir seolah sedang tersenyum lebar pada perjalanannya pagi ini.
Dalam dunia persilatan yang keras, Batu Abadi bukanlah sekadar bongkahan mineral biasa. Ia adalah mitos yang menjadi nyata, sebuah pusaka alam yang paling diburu oleh para jawara dan pendekar tingkat tinggi. Bagi mereka yang mendedikasikan hidupnya pada seni bela diri, menemukan satu keping saja dari batu ini dianggap sebagai anugerah langit yang tak ternilai harganya.
Khasiat batu ini sangatlah melegenda karena kemampuannya dalam memangkas waktu penderitaan saat berlatih. Bayangkan saja, seorang pendekar yang harus memeras keringat dan bermeditasi tanpa henti selama satu tahun penuh, kekuatannya dapat disamai hanya dengan menyerap energi dari satu keping Batu Abadi berukuran kecil sekira panjang 20 cm, lebar 10 cm, dan tebal 1 cm.
Secara matematis, jika seorang pendekar mampu mendapatkan dan menyerap 10 buah kepingan Batu Abadi yang langka ini, ia seolah-olah telah melompati waktu dan berlatih keras selama satu tahun hanya dalam sekejap mata. Energi yang terkandung di dalamnya begitu murni dan padat, mampu memperkuat struktur tulang, memperlebar jalur nadi, serta memadatkan tenaga dalam ke tingkat yang sulit dicapai melalui latihan fisik biasa.
Namun, kelangkaannya membuat batu ini menjadi pemicu tumpah darah. Banyak pendekar yang rela mempertaruhkan nyawa atau menghancurkan sebuah perguruan hanya demi memperebutkan satu keping kecil Batu Abadi.
Kini, bagi Jarog yang baru saja merasakan getaran energi tersebut di aliran sungai, penemuan ini adalah sebuah keajaiban yang tak terlukiskan. Di tengah kekhawatirannya akan lambatnya kenaikan tingkat dari Pondasi 4 menuju tingkat 17, aroma "energi abadi" yang terbawa air sungai itu seolah menjadi jawaban atas doanya. Jika benar di hulu sungai itu terdapat sumber Batu Abadi, maka perjalanan Jarog menuju pusat kota tidak akan lagi sama, ia tidak akan kembali sebagai petani, melainkan sebagai sosok yang kekuatannya mungkin melampaui imajinasi musuh-musuhnya.
Jarog terpaku di tengah aliran sungai, air yang membasahi kakinya kini terasa seperti aliran emas cair. Ingatannya kembali pada bisikan gurunya di masa lalu tentang benda paling dicari di jagat persilatan. Batu Abadi. Benda yang bagi pendekar biasa hanyalah dongeng, kini aromanya nyata tercium oleh indra penciumannya yang tajam.
"Sepuluh keping..." gumam Jarog dengan mata berbinar. "Mertuaku pernah berpesan, sepuluh keping batu ini sanggup merangkum seluruh peluh dan air mata latihan selama satu tahun penuh. Jika aku bisa menemukan sumbernya di hulu ini, perjalananku menuju tingkat Pondasi 17 bukan lagi sekadar mimpi di siang bolong!"