“Semut Api”
Ribuan serangga kecil yang memiliki sengatan laksana jilatan bara itu telah mengerumuninya. Jarog mulai panik saat menyadari bahwa bukan hanya tubuhnya yang diserang, melainkan seluruh permukaan tanah di sekitar kolam telah tertutup oleh "karpet hidup" berwarna merah yang bergerak-gerak mengerikan.
Tanpa berpikir panjang, Jarog segera melentingkan tubuhnya, meloncat dengan tangkas ke arah sebuah batu besar yang menonjol di tengah-tengah kolam untuk menghindari kepungan mahluk-mahluk kecil mematikan itu. Dari atas batu, ia terengah-engah sambil terus menepis sisa-sisa semut yang masih menempel di kulitnya.
"Dari mana datangnya ribuan semut ini secara tiba-tiba?" gumam Jarog, suaranya bergetar antara kaget dan tidak percaya.
Pandangannya yang tajam mulai menyisir tepian kolam yang kini dipenuhi gerombolan semut api yang tampak sangat gelisah. Pertanyaan-pertanyaan besar mulai berkecamuk di kepalanya. Hutan ini sebelumnya tenang, namun tak lama setelah guncangan hebat di dasar kolam dan penyusutan air tadi, mahluk-mahluk ini muncul seolah-olah terusir dari sarang mereka.
"Apakah guncangan dahsyat tadi telah menghancurkan koloni mereka di bawah sana? Atau... apakah keberadaan lubang di dasar kolam itu memiliki hubungan dengan kemunculan semut api ini?"
Rasa penasaran Jarog kini bercampur dengan kewaspadaan tinggi. Ia merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar dan berbahaya yang sedang bergerak di bawah tanah tempatnya berdiri. Lubang misterius, energi Batu Abadi, dan kini serangan semut api, semua itu seolah menjadi teka-teki berantai yang menuntut jawaban segera.
Sesaat setelah kegaduhan semut api itu mereda, sebuah pemikiran nekad melintas di benak Jarog. Bayangan tentang lubang berdiameter satu setengah meter yang sempat tersingkap di dasar kolam tadi terus menghantuinya. Tanpa mempedulikan rasa perih di kulitnya, Jarog mengambil napas dalam-dalam, lalu terjun ke dalam air, melesat menuju kegelapan di dasar kolam.
Begitu memasuki celah lubang tersebut, ia segera mengaktifkan Ilmu Ketajaman Insting yaitu ilmu Menutup Idrawi bagian hidung, sebuah teknik pernapasan batin yang diwariskan oleh mertuanya. Dengan teknik ini, ia mampu mengunci katup pernapasannya dan bertahan di dalam air dalam waktu yang lama. Meski para master tingkat tinggi mampu bertahan hingga berjam-jam, Jarog sadar batas kemampuannya saat ini hanyalah tiga puluh menit.
Lorong itu sempit dan berliku, seolah-olah merupakan pembuluh darah raksasa dari bukit di atasnya. Menit demi menit berlalu dalam kesunyian bawah air yang menekan. Ketika waktu penyelamannya menyentuh angka dua puluh lima menit di saat dadanya mulai terasa sesak dan panas lorong itu tiba-tiba melebar.
Jarog memacu sisa tenaganya, berenang ke arah permukaan yang mulai terlihat dangkal. Begitu kepalanya menyembul ke udara, ia tersentak. Ia kini berada di sebuah ruangan bawah tanah yang sangat luas, sebuah gua tersembunyi yang seolah terputus dari dunia luar.
Ia merangkak naik ke tepian kolam yang semakin dangkal, napasnya terengah-engah namun matanya membelalak tak percaya. Ruangan itu tidak gelap gulita. Sebaliknya, gua itu bermandikan cahaya remang-remang yang magis. Cahaya itu bukan berasal dari obor, melainkan memancar langsung dari dinding-dinding gua yang dilapisi oleh kristal-kristal alami yang berkilauan.
Seluruh dinding gua itu berpendar dengan warna hijau kekuning-kuningan emas, persis seperti warna energi yang ia serap selama seminggu terakhir. Cahayanya memantul di permukaan air, menciptakan ilusi ruang yang tak berbatas.
"Apa ini? Tempat macam apa ini?" gumam Jarog pelan, suaranya menggema di keheningan ruangan itu.
Rasa penasaran yang hebat kini mengalahkan rasa lelahnya. Apakah ini adalah ruang penyimpanan rahasia dari zaman kuno? Ataukah ia baru saja menemukan jantung dari seluruh energi Batu Abadi yang ada di bumi? Jarog melangkah perlahan, jemarinya mencoba menyentuh dinding yang bercahaya itu, sementara jiwanya dipenuhi oleh ribuan pertanyaan yang menuntut jawaban di tengah kemilau emas yang menyilaukan mata.
Langkah Jarog terhenti sejenak saat matanya menangkap siluet sebuah lorong di sisi kanan ruangan. Lorong itu tampak sempit, dengan tinggi sekitar 180 cm dan lebar yang hanya cukup untuk satu orang dewasa. Untuk memasukinya, Jarog harus sedikit merundukkan kepalanya, memberikan penghormatan tanpa sengaja pada kemisteriusan tempat tersebut.
Saat ia mulai menyusuri lorong yang cukup panjang itu, dari kejauhan nampak sebuah fenomena visual yang memukau. Seberkas cahaya berpendar, bukan lagi satu warna, melainkan perpaduan antara biru langit, merah membara, kuning keemasan, dan putih murni. Cahaya-cahaya itu menari, menerangi sebuah ruangan rahasia di ujung lorong dengan keindahan yang menghipnotis.
Naluri ksatria Jarog segera bangkit. Ia mengaktifkan ilmu Rasa Jiwa, sebuah cabang dari Ilmu Ketajaman Insting miliknya. Dari jarak sepuluh meter sebelum mencapai pintu ruangan, ia membiarkan radar batinnya menyapu setiap sudut udara. Ia memindai dengan kewaspadaan tingkat tinggi, mencari getaran napas musuh atau jebakan maut yang mungkin tersembunyi di balik keindahan itu.
Namun, indra keenamnya tidak menangkap ancaman. Ruangan itu kosong dari kehidupan, kecuali sebuah pemandangan di tengah-tengahnya yang membuat jantung Jarog hampir berhenti berdetak.
Di pusat ruangan, terletak sebongkah tumpukan batu berbentuk persegi berukuran 50 cm yang memancarkan aura hijau kekuningan emas yang sangat pekat. Namun, yang membuat napas Jarog tertahan adalah apa yang tumbuh di puncaknya. Di atas tumpukan batu yang sangat keras dan padat energi itu, berdiri tegak setangkai bunga yang memancarkan kelopak berwarna-warni warna yang sama dengan spektrum cahaya yang ia lihat dari kejauhan tadi.
Jarog tersentak hebat, matanya membelalak antara kegembiraan yang meluap dan ketidakpercayaan yang mendalam.
"Apa... ini?" bisiknya dengan suara bergetar. "Tumpukan Batu Abadi sebanyak ini... dan di atasnya ada setangkai bunga yang tumbuh subur?"
Kegembiraan luar biasa menyergap jiwanya, tumpukan batu itu saja sudah cukup untuk membawanya melampaui tingkatan pondasi yang ia cita-citakan. Namun, akal sehatnya dipenuhi tanda tanya besar. Bagaimana mungkin sebuah tumbuhan organik bisa hidup dan berakar di atas bongkahan energi padat yang bersifat mineral? Bunga itu tampak begitu anggun namun menyimpan aura kekuatan yang sangat asing, seolah-olah ia adalah penguasa sebenarnya dari ruangan tersembunyi ini.