PUSAKA BATU BUNGA WIJAYA KUSUMAH

hidday
Chapter #5

Bab 5

Kita kembali ke kedalaman sunyi, jauh dari ingatan manusia dan hiruk-pikuk peradaban. Di sana, di jantung hutan belantara yang tak terjamah oleh jalan setapak mana pun, hanya ada deru air terjun yang menjadi saksi bisu. Di dasar kolam yang dalam, di balik lorong rahasia yang tersembunyi dari dunia, Jarog masih terpaku dalam keheningan yang agung.

Selama empat belas hari penuh, pagi berganti siang dan siang melebur ke dalam malam tanpa sedikit pun raga itu bergeser. Pemuda berusia 22 tahun itu tenggelam dalam penyerapan energi murni dari tumpukan Batu Abadi. Cahaya hijau kekuningan emas yang semula berpendar di ruangan itu, kini seolah-olah telah berpindah, menetap di dalam sumsum tulang dan aliran darahnya.

Perlahan, kelopak matanya terbuka. Seketika, kilat cahaya kemilau keemasan memancar dari bola matanya, menembus keremangan gua. Jarog mengembuskan napas Panjang napas pembersihan yang membawa sisa kotoran jasmani berbau tak sedap menandakan bahwa seluruh sel tubuhnya telah diperbarui oleh energi purba.

Ia mengangkat kedua telapak tangannya, menatapnya dengan kekaguman yang mendalam. Rasanya seolah-olah ia baru saja mengganti raga manusianya dengan raga dewa.

"Hebat… ini benar-benar luar biasa!" batinnya, sementara dadanya berdegup kencang karena kegembiraan yang tak terbendung. "Dari penyerapan ini, aku telah melompati batas kewajaran. Aku naik lima tingkat sekaligus…dari Tingkat Pondasi 7 kini aku telah berdiri tegak di Tingkat Pondasi 12!"

Gumamannya penuh dengan nada kegirangan yang tiada tara. Jarog kemudian mencoba mengepalkan tangannya dengan kuat. Pada saat itulah, sebuah fenomena dahsyat terjadi. Dari sela-sela kepalan tangannya, meledak sebuah energi kasat mata yang begitu padat. Udara di sekelilingnya terdistorsi, menciptakan tekanan hebat layaknya dua kutub magnet raksasa yang saling bertolak belakang dengan paksa.

Getaran itu merambat kuat, mengguncang dinding-dinding gua hingga butiran debu berjatuhan. Jarog merasakan kekuatan itu mengalir patuh di bawah kendalinya. Rasa percaya dirinya kini menjulang setinggi langit, ia merasa seolah-olah mampu membelah gunung hanya dengan satu hantaman.

"Dengan kekuatan ini, takdir tidak akan lagi bisa mempermainkanku," bisiknya penuh keyakinan. Matanya berkilat penuh kemenangan, menyadari bahwa ia telah berevolusi menjadi sosok yang jauh lebih mengerikan dan perkasa dari sebelumnya. Kini, sasarannya tinggal satu, setangkai bunga misterius yang masih menunggunya di atas tumpukan batu itu.

Pandangan Jarog kini beralih, tertuju tajam pada setangkai bunga yang tersisa di atas tumpukan debu putih sisa-sisa dari Batu Abadi yang kekuatannya telah ia lahap habis hingga hancur menjadi abu. Ruangan yang semula benderang kini mendadak remang, karena sumber cahaya utama telah sirna.

Jarog meraih Bunga Inti Api Planet itu. Tanpa suplai energi dari Batu Abadi, bunga itu tak lagi memancarkan cahaya yang menyilaukan mata, melainkan hanya menyisakan gemerlap halus yang berdenyut di sepanjang tangkai hingga kelopaknya. Namun, keajaiban terjadi, begitu jemari Jarog menyentuhnya, bunga itu seolah bereaksi, bergemerlap kian intens seakan telah menemukan inang baru yang ia cari.

Tanpa keraguan yang matang, didorong oleh ambisi kekuatan, Jarog memasukkan bunga seukuran telapak tangan bayi itu ke dalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat.

Awalnya, rasa hangat yang melegakan seperti mentol menyebar di lidahnya. Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik. Rasa mentol itu dalam sekejap berubah menjadi api cair yang membara, meluncur turun membakar tenggorokannya, lalu menghantam lambungnya dengan ledakan rasa sakit yang tak terbayangkan.

"Arghhh…akhh…!"

Jarog tersungkur, tubuhnya melengkung menahan derita. Di dalam perutnya, seolah-olah ada badai api yang sedang mengaduk-aduk organ tubuhnya dengan paksa. Rasa sakit itu bukan lagi sekadar panas, melainkan sensasi menusuk yang luar biasa tajam, seakan ada ribuan jarum membara yang dipacu keluar dari dalam perutnya menuju setiap inci saraf di sekujur tubuh dari ujung kaki hingga tempurung kepala.

Kepanikan mulai melanda benaknya. Jarog tersentak, batinnya dipenuhi ketakutan yang mencekam. Apa yang salah? Mengapa rasanya seperti tubuhku sedang dihancurkan dari dalam? Pandangannya mulai mengabur, keringat dingin bercampur darah mulai merembes dari pori-porinya. Ia merasa bingung dan kehilangan kendali atas tenaga dalamnya sendiri yang kini bergejolak liar melawan energi bunga tersebut. Dalam sesak napas yang kian menghimpit, sebuah pikiran gelap melintas di kepalanya, Apakah aku akan mati di sini? Apakah ini akhir dari ambisiku?

Kesadaran Jarog mulai goyah di ambang kegelapan. Ia merasa jiwanya ditarik paksa keluar dari raga yang kini terasa laksana tungku api yang siap meledak. Di tengah kesunyian gua yang dingin, Jarog mengerang lirih, bertarung melawan maut yang kian mendekat merenggut nyawanya.

Waktu seolah membeku dalam penderitaan yang tak berujung. Selama tiga jam penuh, raga Jarog menjadi medan tempur antara kesadaran manusianya dan amukan energi Bunga inti api planet. Jeritannya perlahan memudar menjadi rintihan lemah, hingga akhirnya pertahanan terakhirnya runtuh. Jarog pun jatuh terjerembap, pingsan tak sadarkan diri di atas debu-debu keabadian.

Namun, di balik kegelapan pingsannya, kesadaran Jarog tidak benar-benar padam. Ia seolah terseret ke dalam sebuah dimensi yang melampaui nalar, sebuah ruang kosong yang maha luas, putih tak bertepi, tanpa langit maupun bumi. Di tempat itu, kesunyian terasa begitu agung sekaligus mencekam.

Tiba-tiba, di tengah kehampaan tersebut, meledak seberkas cahaya yang membelah pandangannya. Jarog tersentak kaget, batinnya bergetar melihat keajaiban yang tercipta di hadapannya. Secara perlahan dan sangat artistik, cahaya-cahaya itu mulai memisahkan diri menjadi spektrum yang luar biasa indah, biru langit yang tenang, merah membara yang liar, kuning keemasan yang mulia, dan putih kristal yang menyilaukan mata.

Jarog terpaku dalam kekaguman yang mendalam. Ia merasa begitu kecil di hadapan kekuatan sebesar ini. Keempat warna itu mulai berputar, menari-nari seperti pusaran kosmis, hingga perlahan memadat dan membentuk sebuah wujud yang sangat ia kenal, Bunga Inti Api Planet.

Kali ini, bunga itu tidak lagi terlihat sebagai tumbuhan diam, melainkan seperti sebuah entitas yang hidup dan bernapas. Jarog merasa ada ribuan pertanyaan yang bergolak di benaknya. Siapa sebenarnya kamu? Apakah kamu adalah nyawa dari planet ini? Meskipun ia baru saja merasakan sakit yang hampir merenggut nyawanya, anehnya, di ruang bawah sadar ini Jarog tidak merasakan dendam atau kebencian. Sebaliknya, ia merasa ingin mendekat, ingin mengenal lebih dalam rahasia di balik keindahan yang mematikan itu. Ada rasa damai yang ganjil, ia menyadari bahwa kekuatan ini tidak datang untuk memusuhinya, melainkan untuk mengujinya.

Jarog menatap bunga itu dengan pandangan penuh persahabatan dan rasa ingin tahu yang tulus, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan seorang guru besar yang memegang kunci keagungan semesta. Ia berdiri diam, menunggu dengan hati terbuka, siap menerima apa pun yang ingin disampaikan oleh sang inti api kepadanya.

Di dalam dimensi bawah sadar itu, Jarog melangkah ragu namun penuh rasa ingin tahu mendekati wujud bunga raksasa seukuran manusia yang berdiri anggun di hadapannya. Namun, sebelum jemarinya menyentuh kelopak cahaya itu, bunga tersebut tiba-tiba memudar, pecah menjadi ribuan partikel warna-warni yang melesat cepat ke arahnya.

Lihat selengkapnya