PUSARAN DALAM BADAI KABUT

wahyu selvia
Chapter #1

Prolog

Sepasang kaki mungil berdiri di atas kubangan lumpur tanah merah. Dengan tanpa alas kaki. Bercak-bercak sudah habis mengenai rok hitam miliknya. Baju yang dikenakan pun setengahnya sudah habis basah. Terdengar suara gemuruh hujan dan tangisan yang tiada henti. Tetesan air mengalir tepat mengenai gundukan tanah yang baru saja dibuat. Hanya seorang diri, tanpa  ditemani siapapun. Tampak wajah yang sudah pucat melupakan rasa dingin yang menusuk kulit. Nafasnya masih terengah-tengah. Dia terlambat, Terlambat menerima kenyataan bahwa dia sudah ditinggalkan. Satu kata terakhir belum benar-benar meninggalkan tempat itu.

“Akhirnya ya. Tapi Aku benci ini.”

Suara ramai sudah terdengar dari penghujung jalan akhir rumah. Kaki itu turun dari sepeda motor. Bergerak masuk dalam rumah, ia terduduk di kursi meja makan. Orang-orang didalam tampak menatap iba. Pelukan hangat menghampiri. Bahu kecil itu menyusut habis tidak ada daya. Malam pertama dihabiskan dengan ratapan tangisan.

Lihat selengkapnya