PUSARAN DALAM BADAI KABUT

wahyu selvia
Chapter #2

Bagian 1 (2026)

Jalanan tampak ramai. Kendaraan berlalu lalang. Meski jalanan itu sudah luas, kepadatan tetap terasa sesak. Tidak pernah berhenti dengan aktivitas manusia. Aktivitas padat yang tidak pernah berhenti dan berulang-ulang setiap harinya. Siapapun itu akan jenuh dan stres. Maka kebanyakan akan menantikan hari yang selalu ditunggu. Maka yang dinanti pun tiba. Akhir pekan telah tiba. Hari yang dinanti hampir semua kalangan. Beban pekerjaan kantor dihempaskan sementara. Hari dimana bisa menjadi diri sendiri dan melepaskan semua drama yang dilalui. Dan sudah sepatutnya merayakan meski hanya dengan makan di angkringan pinggir jalan. 

Kebanyakan sudah membuat janji dengan orang-orang terdekat. Termasuk mereka 4 wanita yang sedang asik makan dan mengobrol. Obrolan terlihat sangat asyik, sampai lupa jika mereka berada ditengah-tengah keramaian manusia yang berlalu lalang. 

“Jangan lupa minta izin dulu!”

“Aku mengizinkan diriku sendiri!” mengangkat tangan dengan percaya diri.

Mendengar itu langsung menjitak tanpa pikir panjang. Sang pelaku hanya memasang wajah tanpa dosa. Dan sang korban pun tersulut emosi. Hendak membalas sang pelaku, namun ditahan.

“Woi! Malu diliatin orang!”

“ Gak lah kan aku ngomong gitu!?”

“ Iya bener sih.”

“ aku sama Zara sudah oke, tinggal tunggu dari kalian.”

Iya Zara dan Vanya tidak perlu memusingkan soal izin. Tentu saja karena mereka anak perantauan, yang mana tidak perlu ambil pusing soal perizinan, Toh mereka jauh dari keluarga. Terlebih Zara yang hanya mengandalkan dirinya sendiri. Dia dan ke tiga temannya sedang merencanakan pergi liburan. Dan sudah menandakan tanggal-tanggal merah dikalender. Ini bukan rencana yang sudah dibuat jauh-jauh hari, melainkan ini keputusan yang mendadak. Maka terjadilah diskusi hari ini memikirkan apa-apa yang harus dibawa. Mereka juga baru saja berkeliling pasar dengan niat hendak membeli baju untuk liburan nanti. namun nyatanya hasilnya nihil.

“ Jadi pakai baju apa ini?”

Rani tampak lelah dan frustasi. Hampir semua didatangi dengan memilih dengan berbagai model. ketiga yang lain menyarankan ini dan itu. Dan berakhir buntu, Hanya membuang energi dan waktu mereka di hari minggu ini. Berbeda dengan Rani, Zara masih asik dengan makanannya setelah jidatnya menjadi korban dari ulah Cely. Benar-benar terlihat sangat kelaparan. Zara sudah memesan untuk kedua kalinya nasi kucing belum dengan perintilan yang lain. Vanya dan lain hanya gelengkan kepala. Itu sudah menjadi kebiasan dan sudah tidak kaget lagi. 

“Saranku mending bongkar deh itu isi lemari.” sambil mengunyah dengan mulut yang hampir penuh. Cely hendak ingin protes dengan tingkah Zara namun ia hentikan dengan satu telunjuk untuk diam dan itu sangat berefek. “ Lagian baju buat mantai itu bakal jarang banget dipake lagi. In this economy best,. kita masih dengan gaji imut. lagian kita semua sibuk sama kerjaan yang belum tau kapan dapat moment gini lagi.” Dan benar semua perkataannya. tidak ada yang salah. semua harus dipetimbangkan. terlebih jika dipikir-pikir mereka sudah banyak mengeluarkan biaya untuk pergi liburan kali ini. Semua tampak mengangguk setuju mendengar itu.

“Bener sih. Tapi semisal memang harus beli ya pasti bisa dipakai juga dihari-hari lain.” Vanya ikut menyambung.

“Kamu sih membuat pilihan yang akan membuat Rani semakin pusing. liat hasil tadi yang cuma buat untuk santai aja gak dapat, nah ini mikirin untuk jangka panjang. makin nyut” dah itu kepala. dan bener-bener buang waktu buat itu. 

“Beli online aja.” Kali ini Zara membalaskan itu pada Vanya. jitakan itu sangat keras sampai berbunyi. Vanya mengeluh sakit

“ Yang bener aja! makin pecah kepala dia. Yakin deh semakin di scroll itu makin gak dapat percaya deh.”

“Sok tahu banget!”

“Aku udah rasain!”

“Pantes Ngasih saran mantep banget didenger ternyata.” Cely dan yang hanya menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang baru didengar.

Setelah mereka semua selesai makan. mereka tidak hanya berhenti disana. mereka melanjutkan ke tempat lain namun bukan mencari apa yang mereka cari, melainkan pergi mencari tempat baru. Dan ya itu permintaan dari Zara.

“Ini serius naik becak?”

Lihat selengkapnya