PUSARAN DALAM BADAI KABUT

wahyu selvia
Chapter #3

Bagian 2 (2024)

Di dalam bawah sadar, semua terasa sesak dan tersiksa. Tumpukan beban luka yang menumpuk dan menggunung. Air mata mengalir tanpa diminta. Bisikan halus suara tangisan pun terdengar. Malam yang penuh dengan gelap dan suram. Dia terbangun dari tidur nyenyaknya. Terbangun dengan pipi yang sudah basah. Napas yang tidak teratur seolah dia sudah menangis berjam-jam tanpa henti. Melihat kearah jam dinding. Waktu menunjukkan jam 12 malam. Masih terlalu dini untuk bangun. Lagi dan lagi Ia terbangun tengah malam. Padahal baru saja terasa terlelap. Sungguh tidak pernah bisa tidur dengan nyaman beberapa bulan terakhir. Selain mimpi-mimpi itu ada hal lain yang mengganggu. Raungan yang kadang rasanya ingin mengamuk. Suara itu berasal dari ruang tamu kecil. Suara yang seharusnya sudah bisa didengar.

Duduk di balkon menikmati angin malam. Angin malam dipersilahkan masuk kedalam kamar mungil itu. Hanya helaan nafas yang terdengar dengan menatap langit gelap dengan menyelipkan bulan purnama yang sempurna. Pandangan kosong yang tidak bisa diartikan. Hidup dalam penuh kegelapan. Zara tengah menenangkan diri lagi. beberapa bulan terakhir kegelisahan terus menemani keseharian. Hanya memberikan jeda sebentar sampai akhirnya gelisah itu muncul lagi. sampai detik ini ia tidak tahu cara meredakan kegelisahan yang membuat rasanya hidup ini tidak karuan. Motivasi soal cita-cita atau mimpi sudah buram dan tak terlihat.

Semenjak lulus kuliah Zara hanya memfokuskan dirinya pada keluarga. Anak gadis bungsu yang dipaksa oleh keadaan. Dia tidak bisa dan dilarang untuk bekerja. Hidupnya setahun belakang hanya mengabdi kepada kedua orang tua terutama sang ibu dirumah itu. Ibu yang jatuh sakit akibat stroke. Ingin menyalahkan keadaan namun bisa jadi dia bisa gila. Sekarang rasanya sudah hampir gila. Hidup yang sangat monoton. Kegiatan itu-itu saja yang berulang. Dari pagi sudah banyak aktivitas yang dilakukan. Kegiatan utama paginya adalah membersihkan dan menggantikan pakaian ibunya dan juga menyuapi makan. setelahnya adalah urusan rumah tangga. Seperti menyapu, mencuci hingga memasak. Kegiatan yang monoton tapi sangat melelahkan.

Tidak ada yang spesial dalam aktivitas itu. Tetapi menariknya ia masih ada mimpi kecil dalam lubuk hati terdalam. Yaitu menjadi penulis. Setelah padatnya kegiatan yang diselesaikan. Hanya waktu malam yang menjadi bagian dalam diri. Dan punya waktu hanya untuk diri sendiri. 

Muak adalah satu kata yang selalu melintas saat tenggelam dalam gelap. Tumpukan penolakan membuat terasa sesak dan berat. Tubuh telah memberikan sinyal yang banyak. Salah satunya adalah adalah wajah yang terlihat cekung dan tidak mempunyai aura yang membawa semangat. Jelas tidak sedap dipandang. Dirinya juga membenci dirinya sendiri. Hidup dengan ketidak dayaan. Rambut pun ikut menjadi korban. rontokan berserakan di lantai tiap menyisir. bukan sehelai dua helai. tumpukan rambut rontok selalu ia buang tepat di bawah pohon pisang. 

Dingin malam semakin menusuk kulit. Pucat sudah bibirnya. kantung matanya semakin terlihat dan menghitam. Seolah hantu wanita yang sedang bergentayangan. Tetapi ada satu hal yang terlintas dipikiran. “ Loncat dari atas sini gimana ya rasanya?” ia pun berdiri dan melihat kebawah dengan tatapan kosong. “Haruskah aku mengakhirinya malam ini?” Niat itu kadang terlintas disaat tertekan. Tidak ada yang tahu soal rasanya menghilang saja dari dunia. Niat itu selalu hilang akibat suara raungan itu. Entah itu maksud menolong atau hanya sebagai peringatan. “ Atau bunuh saja dia?”. Satu pikiran jahat yang sangat tidak pantas. Lebih baik dipukul sekali dibanding harus dihukum seperti ini.

Banyak pikiran buruk yang selalu melintas. Namun pada akhirnya itu hanya pikiran yang sama sekali tidak dilakukannya. Sampai akhirnya tak sanggup, akhirnya dia membutuhkan pertolongan. bukan sekedar pertolongan dari orang terdekat. Karena orang terdekat sekalipun tidak mengerti kondisi yang sebenarnya. 

“Saya ga tau dok.” Kalimat yang keluar dari bibir kering itu. Tangisan pecah saat ditanya oleh dokter. Benar Zara akhirnya memutuskan untuk datang ke orang yang profesional untuk menangani. Gelisah yang selalu datang dengan tidak ada lagi semangat dan motivasi dalam menjalani keseharian. Seolah ini sudah menjadi akhir dari segalanya. Atau rasanya ingin lari dari kenyataan. Semua mengalir begitu saja. Cerita sesak yang sudah lama dipendam lama. Dia hanya mengusahakan untuknya sendiri. Tidak ada yang tahu dan dia juga tidak ingin memberi tahu kepada orang tua. Jika iya, hanya akan dimarahi dan dicap bahwa jauh dari tuhan. sungguh lelah dengan semua yang selalu disalahkan.

Siapa yang akan menyangka hidup akan berakhir seperti itu. Hidup yang awal nya seperti putri. Yang selalu dimanjakan kedua orang tua. Selalu ada apapun keinginan itu. Kini kenyataan berbeda. Semesta berkata lain. Dia dipaksa untuk bisa melewati ini semua sendiri. Sifat manja dipendam. Tantrum menolak sesuatu yang tidak suka pun sudah hilang. Berakhir banyak diam dan mengalah. Sedikit saja memberontak maka akan berakhir tangisan. Entahlah Zara merasa begitu lemah. Tenaga yang ada seolah tenggelam dalam kesedihan. Kekuatan yang tersisa dalam ruhnya adalah tentang bagaimana ia bisa melalui ini dengan ikhlas menerima keadaan. Sesak sedikit mulai terangkat dari dada. Tenang bagai berada di perairan sungai.  

xxx

Matahari bersinar cerah. langit tampak begitu cerah. Dingin yang menusuk kulit pun terabaikan.Semangat kembali datang. Zara pagi-pagi sekali sudah menyelesaikan tugas utamanya. Kini adalah waktunya kegiatannya sendiri. yaitu jalan-jalan pagi diselingi dengan lari. Jujur di awal kali mencoba itu sangat sulit sekali. Ya tentu saja karena malas. Apalagi disaat mencoba berlari sampai satu menit dia sudah kelelahan dan napas yang sudah terengah-engah. Fisik yang sangat lemah sekali. Dan salah satu alasannya tentu saja karena belum dilatih dan belum terbiasa. Sampai akhirnya ia paksa dan berhasil. Efek yang dirasakan membuat ketagihan. Walaupun fisik menjadi lelah tapi efek baiknya adalah tubuhnya menjadi lebih bahagia. Stres dan gelisah yang selalu dirasakan perlahan mulai hilang. Demi menyemangati ia memutuskan untuk membeli sepatu olahraga dengan segala printilan lainnya. Dan dengan itu membuatnya semakin tambah bersemangat. Jalanan masih sepi. Tentu saja karena ini masih di jam 7 pagi. disaat orang lain masih di alam mimpi.

“See you coco!” 

Seekor Anjing yang tiba-tiba keluar dari kandang dan mengantarkannya ke jalan raya. Anjing penjaga rumah yang selalu menyapa dan menyambut saat dia pulang dan pergi. Seperti pagi ini. Seekor anjing yang bisa meluluhkan hati seorang Zara. Karena coco dia menjadi lebih sayang dan bahagia ketika melihat anjing apapun bentuknya. Karena sebelumnya ia sangat takut apalagi dengan gonggongan meski anjing itu masih jauh dia sudah akan takut dan lari untuk kabur. Hanya coco yang dapat meluluhkan hatinya. Senang rasanya ketika dia benar-benar disapa meskipun hanyalah hewan tapi baginya coco adalah sosok yang sangat berharga. 

 Zara menyapa alam. Hamparan rumput hijau sangat memanjakan mata. Belum lagi dengan banyaknya pohon-pohon besar dan rindang. Nilai tambah adalah suara kicauan burung-burung kecil. Sangat damai sekali. Ini adalah waktu yang sangat baik. Benar-benar refleksi alami dan gratis. Tetapi ada hal yang mencolok dari semua. Warna baju yang dipakainya sangat kontras. mulai dari atas hingga bawah semua berwarna merah muda. Sangat menyilaukan mata. Tentu saja itu akan menjadi pusat perhatian.

“ Eh! Zar! Ngapain sendirian?” Nah kan belum apa-apa sudah ada yang menyapa dirinya.

“Olahraga pak.” 

“Oalah kecepetan jam segini toh. Mari mbak.” Orang itu pun pergi berlalu dengan sepeda motor. Tampak sepertinya akan berjualan terlihat dari barang bawaan yang sangat banyak ke kampung sebelah. Zara hanya tertawa kecil tidak tahu harus menjawab apa. Toh dia juga sengaja memilih di jam-jam seperti ini. Tetapi wajar jika ada yang menyukainya apalagi warna unik yang menyala itu semakin orang sangat ingin sekali menyapa dirinya.

Iya tidak heran tempat tinggalnya bukanlah diperkotaan. Melainkan di desa yang sangat jauh dari kota. Sangat maklum ketika orang-orang desa tidak terbiasa melihat aktivitas sudah sangat umum di ibukota. Apalagi ketika mendengar kata olahraga begitu asing bagi mereka. Iya, masih minim soal manfaat olahraga itu sangat baik dan sehat. Dia juga tidak ingin merasa paling tahu. Jadi memilih untuk menghargai saja. Mungkin sebagian orang akan lebih memilih untuk pergi saja ke tempat dimana taman atau lapangan untuk berolahraga. Dia lebih nyaman dan tenang ketika jalanan sepi. Karena kadang di keramaian membuatnya tidak nyaman dan malah rasa gelisah menjadi datang. secara basic dia adalah orang yang introvert. Dia akan lebih malas ketika ada yang mengenali. Dia akan lebih merasa bebas dan menjadi diri sendiri ketika tidak ada yang mengenali atau ditempat yang asing.

Matahari semakin naik. Panas pun mulai terasa. Sudah pasti membuat wajah mungilnya itu belang. Keringat juga sudah bercucuran. Sudah satu jam menghabiskan waktu diluar. Sudah saatnya kembali ke rumah. Tetapi ada satu hal yang menarik dari tadi saat pergi dan perjalanan pulang. setengah dari perjalanan, banyak sekali deretan pohon jeruk yang berbuah. Belum lagi warna dari jeruk itu sendiri sangat menggoda orange keemasan. Sungguh amat menggiurkan. Zara adalah satu satu dari makhluk dimuka bumi ini menyukai buah jeruk. apapun segala jenis jeruk dia akan menyukainya. Sungguh ini godaan berat. Ia sudah yakin bahwa hamparan pohon jeruk itu ada pemiliknya. Satu hal yang terlintas dalam pikirannya saat ini. Semua yang ada dimuka bumi ini milik Tuhan.

Seolah memberikan jawaban tiba-tiba terdengar suara buah yang jatuh. Spontan dia segera berlari kearah suara. “Gila! gede banget mah ini.” Mengambil tanpa rasa dosa.

“Mbak zara ya? Ambil aja mbak!” Kikuk seorang pencuri tengah tertangkap basah.

“ Punya Bude toh?” Sosok tetangga yang ia kenal.

“Ho’oh ambil aja yang banyak. Orang rumah suka jeruk juga kan.” Tiba-tiba datang memberikan kantong plastik kresek berwarna hitam.

“ Eh? Beneran ini toh?”

“Iya ambil aja ndok. Sebelum dipanen sama Pakde dijual.”

“Izin ya bude.”

Harti berlalu pergi, sepertinya ia akan pergi ke tempat perkebunannya yang satu lagi. Ini hanya salah satu dari banyaknya kebun yang dimilikinya. Niat hati hanya mengambil buah yang jatuh tapi ternyata sang pemilik memberikan lebih daripada itu. Dia sangat bersemangat mendapatkan kesempatan ini. terlebih melihat banyaknya buah yang rasanya ingin semuanya dipetik saja. Tidak lupa mengambil ponsel dan mengabadikan keindahan didepan mata. Jeruk-jeruk yang berukuran besar dan sudah pasti ini manis. Rasanya ingin memanjat pohon saja, Tetapi karena sangking lebatnya semuanya hampir merunduk dan dengan mudah untuk mengambil tanpa perlu mengeluarkan tenaga lebih hanya untuk memanjat. untuk memuaskan rasa memetik ia memetik satu buah setiap pohonya. Mengabadikan di sosial disaat itu juga. Semesta memberikan kebahagian meski ini sederhana. Tidak terasa satu kantong kresek besar sudah penuh. Kini saatnya pulang.

Coco sudah menunggu di pinggir jalan. Dia sedang merebahkan diri dengan berguling-guling tidak jelas. Jarak 10 meter coco sudah bangkit dan berlari ke arah Zara dan menyambut dengan bahagia. Ini yang selalu disukai.

“Ade bawa jeruk Pak.!”

Tidak ada suara sambutan. Seperti tidak ada dirumah. akhirnya ia mengupas jeruk itu dan mulai membuang biji satu persatu. Setelahnya ia memberikan pada ibunya. Kondisi sang Ibu sangat memprihatinkan. Lumpuh tidak berdaya. Selain itu sudah tidak bisa bicara. Hanya suara raungan dan tangan kiri yang masih bisa bergerak. Ini masih jam 10 pagi. Segera mendinginkan badan dengan minum air. Bukannya memilih membersihkan diri dengan mandi. Ia memilih mendinginkan tubuh dengan merebahkan dilantai yang dingin. Kakinya terasa denyut akibat dari jalan jauh. Dia tidak bisa beristirahat begitu lama. Karena tugas yang utama masih menunggu. 

Yap. Memasak. Untung saja bahan-bahan masakan masih ada, jadi dia tidak perlu keluar rumah untuk pergi berbelanja. 

“Masak apa ya hari ini?” monolognya. Hal yang dipusingkan setiap hari. Mungkin ini yang dirasakan wanita atau seorang ibu setiap harinya. Hanya perkara soal masakan saja sudah runyam belum perkara yang lain. Padahal bisa saja tidak memasak dan membeli lauk di luar. Namun akan lebih menyenangkan hati dengan memasak makanan untuk orang yang ada di rumah. 

Lihat selengkapnya