Bangunan itu berdiri kokoh di antara langit pagi yang cerah, seolah telah menyimpan terlalu banyak kisah untuk sekedar menjadi latar. Dinding bata merahnya tersusun rapi dengan pilar-pilar putih yang menjulang di bagian tengah fasad, menopang atap segitiga bergaya klasik yang menegaskan wibawa dan ketenangan. Namun, ketenangan itu hanya milik bangunan. Tidak dengan dirinya yang kini berdiri di hadapannya, menyimpan riuh yang tak sanggup ia ucapkan.
“Salma?” seru Herman, suaranya memecah lamunan putrinya. Ia masih mengenakan helm, duduk di atas motornya dengan satu kaki menapak aspal basah sisa guyuran hujan tadi malam.”Kenapa malah bengong?! Ayo masuk! Nanti kamu telat.”
Glek.
Salma Putri Widjaya yang akrab disapa Salma–menelan salivanya perlahan. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada sesuatu yang mengganjal dan enggan turun. Matanya menatap bangunan sekolah itu tanpa benar-benar melihatnya. Tubuhnya diam, tetapi dadanya riuh.