Langkah Salma yang semula gusar perlahan melambat begitu ia melewati gerbang. Napasnya masih terengah, namun kakinya seperti tahu tempat ini bukan pelarian, melainkan kandang lain yang pintunya selalu terbuka menunggu dirinya untuk masuk.
Dan, benar saja...
Belum sempat ia menata langkah, di ambang pintu kelas, suara-suara itu menyambutnya. Tawa kecil yang sengaja dikeraskan, panggilan nama yang dipelintir, bahkan tatapan-tatapan itu kembali menyudutkan dirinya hingga renyah dan menjadi kecil.
“Halo… Salmaaa... mmmrauuut!” celetuk seorang anak laki-laki seusianya, pura-pura peduli. “Baru dateng? Sayang banget Bu Khasna belum ke kelas, jadi… kita gak bisa lihat kamu di hukum kayak kemarin lagi, deh!”
“Haha… haha…!”
Tawa itu meledak serentak, nyaring dan sengaja dikeraskan. Suaranya berlapis-lapis, memantul seisi kelas, menutup kemungkinan bagi Salma untuk bernapas lega. Kepalanya semakin tertunduk dan rambutnya jatuh menutupi wajah–bukan untuk bersembunyi, melainkan karena ia tak sanggup menatap.
“Eh, Sal…”
Seseorang mendekat, langkahnya santai namun sengaja mempersempit jarak. Ia membungkuk sedikit, seolah hendak berbisik. Namun suaranya justru dibuat jelas, lantang dan cukup untuk didengar siapa pun di sekitar.
“Hari ini akan ada dokter yang datang dari puskesmas, lho…!”
Salma membeku. Kalimat itu meluncur seperti sembilu yang menambah ketakutannya sejak ancaman Herman tadi. Ia bisa merasakan hawa hangat dari anak lelaki itu di dekat telinganya yang perlahan membuat perutnya terasa begitu mual.
“Selamat pagi anak-anak…” sambut seseorang di ambang pintu.
Salma tersentak. Ia segera berlari cepat ke bangkunya. Begitu juga dengan kedua anak lelaki tersebut. Perlahan, air matanya menggenang. Pandangannya mengabur sambil menggigit bibir bawahnya hingga ia bisa merasakan rasa asin darah di ujung lidahnya.
“Dion bohong, kok...” Bisik seorang gadis yang duduk di sebelah bangku Salma, suaranya nyaris tenggelam oleh Buk Khasna yang sedang berbicara di depan kelas.
Gadis itu menoleh sekilas ke arah Salma, lalu kembali menatap ke depan kelas. Tersimpan letih di bola mata coklatnya, namun juga secuil keberanian yang ia kumpulkan ketika sama-sama kerap menjadi sasaran seperti Salma–seorang teman bahkan bisa di katakan satu-satunya orang yang senasib dan saling peduli yang dimilikinya di kelas ini.
Glek.
Salma menelan salivanya lagi. Kali ini, ia menoleh ke arah Cantika dan nyaris berbisik pelan. “Beneran, hari ini gak ada suntik?”
Cantika mengangguk mantap. “Kamu gak usah khawatir.”
Huft.
Salma akhirnya bisa bernapas lega, meski dadanya terasa sesak. Ia memang takut suntik–ketakutan yang sepertinya hanya menyelimuti dirinya dibandingkan dengan murid lainnya.
Beberapa bulan lalu, saat dokter dari puskesmas datang ke sekolah, ketakutan Salma meledak begitu saja. Ia berlari kesana kemari di dalam kelas, berusaha menghindar, sementara sang dokter kebingungan mengejarnya. Alih-alih memahami, sebagian murid justru tertawa–menjadikannya tontonan dan obat pereda rasa takut yang berusaha tak mereka perlihatkan seperti dirinya.
Sejak itulah semuanya berubah. Bisik-bisik, ejekan, hingga tatapan meremehkan mulai menjadi makanan kesehariannya yang mau tak mau harus ia kunyah pahit dalam diam. Hampir semua murid mengolok-olok dirinya, hingga secara perlahan, ia adalah satu-satunya sasaran buli renyah yang di anggap lumrah untuk ditertawakan, dipermainkan dan dilupakan perasaannya.
“Salma!”