Salma mematung. Matanya yang bulat mulai berkaca-kaca, memerangkap bening air mata yang siap luruh hanya dengan satu kedipan. Di balik tangan Cantika yang terasa dingin, jemarinya saling meremas, bergetar hebat saat keringat dingin mulai merembes di telapak tangannya. Sensasi dingin itu merayap naik ke tengkuk, membuat bulu kuduknya berdiri.
Setiap kali kata "suntik" terlontar, bayangan jarum logam yang tajam dan mengkilap seolah menusuk-nusuk imajinasinya. Napasnya mulai terasa pendek dan patah-patah. Rona di pipinya menguap tak berbekas, menyisakan wajah yang pucat pasi seputih kapas.
Salma ingin berteriak agar mereka berhenti, namun suaranya seolah tersekat di pangkal tenggorokan, terkubur oleh riuh rendah sorakan teman-temannya yang tak kunjung reda.
Dan, air mata yang sejak tadi terbendung akhirnya pecah juga. Pertahanan Salma runtuh total. Isak tangisnya meledak, menyayat di sela-sela riuh rendah ejekan teman-temannya. Ia tak lagi peduli pada rasa malu. Baginya, setiap suara tawa di ruangan itu terdengar seperti ancaman yang nyata.
Dalam kepanikannya yang memuncak, Salma menyentak lengannya dengan kasar. Pegangan tangan Cantika yang semula mencoba menenangkan, terlepas begitu saja. Ia merasa seolah oksigen di kelas itu telah habis, membuatnya terengah-engah dalam tangis yang semakin histeris.
"Enggak mau! Aku enggak mau disuntik!" seru Salma di tengah isak yang sesak.
Ia menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan telapak tangan yang masih basah oleh keringat dingin. Tubuhnya merosot, seolah tulang-tulangnya tak lagi sanggup menyangga beban ketakutan yang begitu hebat. Wajahnya yang pucat pasi kini basah kuyup oleh air mata, sementara pandangannya mengabur, hanya menyisakan bayangan buram dari ruang kelas yang tiba-tiba terasa seperti penjara yang menyesakkan.
"HAHAHAHA.....!! SALMA CENGENG!" Celetuk seseorang dengan nada yang lantang. "HAYOH, BENTAR LAGI DOKTERNYA DATENG!"
Salma menggeleng dan mulai terisak sesak. "Enggaaaaak!"