Denting bel sekolah yang panjang akhirnya membelah ketegangan, menandai berakhirnya jam pelajaran sekaligus menjadi melodi paling indah di telinga Salma. Baginya, bunyi itu bukan sekadar tanda pulang, melainkan lonceng kebebasan dari penjara ejekan yang menyesakkan. Para murid berhambur keluar dengan tawa riang, namun Salma melangkah dengan tenang, merasakan beban di pundaknya perlahan menguap.
Saat ia bersiap untuk segera pulang ke rumah dan mengubur hari ini, Cantika menghampirinya dengan senyum tulus. "Salma, mampir ke rumahku sebentar, yuk? Kita main sebentar supaya kamu nggak sedih lagi," ajak Cantika lembut.
Salma terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Meskipun hatinya masih dirundung rasa sakit dan sisa-sisa sesak akibat perundungan tadi, ia tidak bisa menepis kehangatan yang diberikan sahabatnya itu.
Sungguh, perlakuan Adit yang berani membelanya tadi dan perhatian Cantika yang tak putus-putus terasa seperti obat penawar bagi luka batinnya yang masih basah.
Mereka pun masih berjalan. Lima belas menit perjalanan itu membawanya menyeberangi sebuah jembatan beton besar yang di bawahnya mengalir sungai dengan air berwarna kecokelatan. Pikirannya masih melayang, membayangkan sebuah rumah megah dengan pagar tinggi, sesuai dengan bayangannya tentang sosok Cantika yang selalu ceria.
"Salma!" Seru Cantika kencang, menyadari langkah gadis itu terus melaju lurus tanpa henti.
Salma tersentak, lalu menoleh ke belakang. Ia melihat Cantika sudah berdiri diam di ujung jembatan. "Kamu mau ke mana? Ayo!" panggil Cantika lagi sambil melambaikan tangan.
Salma berbalik arah dengan dahi berkerut bingung. "Kita... belum sampai, kan?" tanya Salma ragu. Ia menoleh ke sekeliling, namun tak menemukan bangunan besar yang ia harapkan.
"Udah sampai," jawab Cantika singkat dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Rumahku lewat sini."
Salma hanya bisa terpaku saat melihat Cantika melangkah mantap, berbelok masuk ke sebuah jalan sempit yang terselip di pinggiran sungai. Jalanan itu kecil, becek, dan berimpitan langsung dengan arus air di bawahnya. Jauh dari kemewahan kota yang baru saja mereka lalui, langkah Cantika justru menuntun mereka ke dalam labirin pemukiman padat yang tersembunyi di balik bayang-bayang gedung tinggi ibu kota.
"Nah," gumam Cantika seraya menghentikan langkahnya tepat di sebuah titik yang membuat napas Salma tertahan. "Ini rumahku."
Salma tertegun, matanya menatap nanar pada pemandangan di hadapannya. Jauh dari kata aman, apalagi layak huni, rumah Cantika adalah sebuah bangunan ringkih yang seolah dipaksakan berdiri di atas bibir sungai. Dindingnya hanyalah susunan papan kayu kusam yang telah lapuk dimakan usia dan kelembapan, berseling dengan lembaran seng berkarat yang dipaku seadanya.
Sisi bawah bangunan itu bertumpu pada tiang-tiang kayu yang tampak rapuh, terendam langsung dalam air sungai yang menghitam dan dipenuhi sampah. Tak ada jarak aman. Rumah itu seolah bertaruh nyawa dengan arus air di bawahnya. Terpal-terpal plastik lusuh menutupi beberapa bagian lubang, berusaha melindungi bagian dalam dari terpaan angin dan hujan yang bisa datang kapan saja.
Pemandangan ini sungguh kontras dengan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di kejauhan, seolah menjadi saksi bisu betapa timpangnya kehidupan Cantika.
"Yuk, masuk!" Ajak Cantika.
Salma menelan ludah, hatinya yang tadi terluka akibat ejekan kini justru dirayapi rasa sesak yang baru. Di tempat inilah, sahabatnya yang selalu ceria itu menyembunyikan sisi lain hidupnya yang begitu keras dan penuh risiko.
"Kok, malah bengong?!" Desak Cantika sambil menarik lengan Salma masuk ke dalam. "Ayo, jangan malu-malu."
"I-ini..." Gumam Salma tertahan, kalimatnya menggantung di udara yang terasa lembap dan pengap. Matanya menyapu sekeliling ruangan sempit yang jauh dari bayangannya tentang sebuah tempat tinggal.
Barang-barang berserakan di setiap sudut, tumpang tindih tanpa aturan karena keterbatasan ruang. Tidak ada ranjang empuk di sana, yang ada hanyalah tumpukan dus-dus bekas yang diratakan sedemikian rupa sebagai alas tidur, dilapisi kain tipis yang sudah pudar warnanya.
Pandangan Salma beralih pada sudut lain, mencari tempat duduk yang layak. Namun, yang ia temukan hanyalah sebuah kursi plastik yang kakinya sudah retak dan diikat karet ban, seolah dipaksa untuk terus bertahan menyangga beban.
"Maaf ya, berantakan banget," suara Cantika terdengar lirih, nyaris tenggelam oleh suara gemericik air sungai yang tepat berada di bawah lantai kayu tempat mereka berpijak.
Salma terdiam seribu bahasa. Rasa takut akan jarum suntik yang menghantuinya seharian tadi mendadak terasa begitu kecil dibandingkan kenyataan hidup yang harus dihadapi Cantika setiap hari. Di sini, di balik dinding seng yang berkarat, Salma melihat kekuatan yang luar biasa dari balik senyum ceria sahabatnya yang selama ini ia kenal. Ada luka yang jauh lebih dalam dari sekadar ejekan teman-teman sekelas, yakni perjuangan untuk sekadar memiliki tempat berteduh.
"Nak. Kamu sudah pulang?" Seru seseorang mengejutkan.