Salma akhirnya pulang. Ia pun melangkah masuk ke rumahnya, namun setiap pijakannya terasa berat, seolah lantai yang dingin itu adalah rawa yang siap menelannya. Aroma pengharum ruangan otomatis—sangat kontras dengan aroma nasi hangat dan keringat tulus yang baru saja ia tinggalkan di rumah Cantika.
Di ruang tengah, sang ayah, Herman, sedang duduk di balik meja kayu jati yang kokoh. Ia tampak kaku dengan kemeja rapi yang kancing atasnya terbuka, matanya terpaku tajam pada layar laptop yang memancarkan cahaya biru. Jemarinya menari di atas keyboard dengan bunyi ketukan yang cepat dan menuntut, menciptakan irama yang selalu membuat jantung Salma berdebar karena takut.
"Aku pulang..." bisik Salma lirih. Suaranya hampir tenggelam oleh bunyi pendingin ruangan.
Herman tidak menoleh. Ia hanya menggeser kacamatanya sedikit, sementara tangannya masih sibuk mengklik tetikus. "Gimana nilai matematika kamu hari ini?" tanya Ayah langsung, tanpa basa-basi, tanpa menanyakan apakah Salma lapar atau bagaimana harinya di sekolah.
Salma menelan saliva dengan susah payah. Kerongkongannya terasa kering, dan bayangan pelukan hangat ayah Cantika tadi mendadak buyar, digantikan oleh rasa mulas yang hebat di perutnya. Ia melangkah mendekat dengan jari-jari yang saling bertaut cemas di depan seragamnya.
"P-Pak Mamatnya... nggak ke kelas, Ayah," jawab Salma terbata, suaranya bergetar.
Mendengar itu, gerakan tangan Herman di atas laptop mendadak berhenti. Keheningan yang tercipta jauh lebih menakutkan daripada suara bentakan. Herman perlahan menoleh, menatap Salma dengan pandangan menyelidik dari balik lensa kacamatanya yang dingin. Bagi Herman, alasan seperti "guru tidak datang" hanyalah sebuah penundaan dari hasil yang ia tuntut harus selalu sempurna. "Kamu gak lagi bohong kan?!" Desaknya.
Salma menggeleng cepat, tubuhnya mengecil seolah ingin menghilang ke dalam lantai marmer di bawah kakinya. Atmosfer di ruangan itu mendadak mendingin, mencekik keberaniannya yang hanya seujung kuku.
"Herman!"
Sebuah seruan parau namun tegas membelah ketegangan. Salma tersentak, ia mengangkat wajahnya yang pucat dan mendapati sosok wanita ringkih melangkah keluar dari balik pintu dapur.
Nenek... batin Salma, ada sedikit cahaya lega yang berpendar di matanya.
Surti, wanita tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya itu, mendekat dengan langkah yang sedikit diseret namun penuh wibawa. Ia menatap tajam ke arah Herman, anak laki-lakinya yang masih terpaku di depan laptop.
"Kamu ini apa-apaan!" suara Surti bergetar karena emosi. "Yang ditanya selalu nilai dan nilai! Kamu tidak lihat wajah anakmu ini? Dia ini manusia, Herman, bukan mesin hitung!"
Herman menghela udara lalu beranjak dari sofa. "Aku hanya tak ingin dia bernasib sama seperti Ayahnya yang PHK dini, Ma! Dia harus lebih pintar dariku."
Surti menggeleng sambil melipatkan kedua tangannya di bawah dada. "Nasib seseorang itu gak akan ada yang sama. Meskipun ada istilah buah gak jatuh jauh dari pohonnya... garis takdir seseorang itu pasti akan berbeda-beda, Herman!" Jelasnya lantang. "Pintar itu gak menjamin kita sukses! Yang salah itu perusahaan. Bukan kamu!"
Herman lagi-lagi hanya menghela udara dan dihembuskannya perlahan.
"Sekarang... kalau Salma dapat nilai jelek kamu mau ngapain dia? Mau nyubit? Mau pukul dia habis-habisan?" Lanjut Surti. "Dia itu anak perempuan! Anak gadis kamu!"
Di sela-sela omelan Surti yang masih menggantung di udara, suara derum mesin mobil yang halus namun bertenaga terdengar memasuki pelataran rumah. Sorot lampunya sempat memantul di jendela kaca ruang tengah, menciptakan bayangan panjang yang bergerak di dinding, menandakan sang empunya rumah lainnya telah tiba.