PUTARAN WAKTU SALMA

essa amalia khairina
Chapter #10

KEJUTAN

"Apa?!"

Gadis berambut panjang dengan bola mata coklatnya itu menatap tajam Salma sambil merengkuh kedua bahu sahabatnya itu.

"Ka-kamu mau pindah rumah?!" Kata Bila dengan nada setengah meninggi. "Kamu lagi gak bercanda kan, Sal?"

Salma menggeleng beku sambil menatap serius sahabat dekat sekaligus tetangga samping rumahnya itu. "Ayah sama Bunda bicara soal pindah sekolahku juga. Yang jelas, aku gak akan lagi bisa main bareng kamu, Bi."

Nabila—atau yang lebih sering dipanggil Bila oleh Salma—tertawa pelan. Namun, itu bukan tawa yang melegakan; itu adalah tawa pahit yang terdengar seperti pecahan kaca. Gadis itu menyandarkan bahunya di kusen jendela, menatap Salma dengan mata yang memancarkan simpati sekaligus kemarahan yang tertahan.

"Aku kemaren juga sempet nguping pembicaraan Ayah sampai..."

Kalimat Salma menggantung di udara.

"Sampai apa, Sal?" Desak Bila pelan.

"Kuping aku di jewer sama Ayah." Jawab Salma datar.

"Kamu di pukul lagi sama Om Herman? Galak banget si Ayah kamu, Sal!"

Salma hanya tertunduk, tak lama kembali menatap mata Bila. "Kamu tahu gak... di sisi lain, aku merasa senang bisa pindah sekolah. Aku gak di buli lagi. Tapi, di sisi lain... aku pasti bakal kehilangan kamu dan Cantika."

Bila mengangkat sebelah alisnya. "Siapa Cantika?"

"Cantika itu... teman baik satu-satunya di kelasku." Jawab Salma dengan nada penuh kehilangan. ​"Di saat yang lain buli aku, dia justru yang selalu ada buat aku, Bil," sambung Salma, suaranya mulai bergetar. "Dia yang berani marahin anak-anak kalau aku udah nangis di kelas. Dia juga bahkan hibur aku saat aku sedih sama perlakuan mereka."

Bila meraih tangan Salma, mencoba menguatkan dengan cara khas anak kecil. "Eh, jangan sedih gitu dong. Kan nanti kamu bisa kasih alamat rumah baru kamu ke Cantika. Dia pasti mau main ke rumah baru kamu."

Salma mengangguk. "Masalahnya..."

Lihat selengkapnya