Salma melangkah keluar kamar. Ia berjalan perlahan, mencoba menunda waktu meski ia tahu, untuk menghilang itu mustahil. Di ruang tamu, Ayahnya sudah menunggu dengan pena di tangan, siap membedah isi kepalanya yang saat ini hanya berisi ketakutan dan bayangan wajah Bila.
"Salmaaaa ayo cepat!" pekik Herman lagi, suaranya meninggi di sela seruputan kopi hitamnya yang masih mengepul.
"Ba-baik, Ayah," sahut Salma dengan suara yang nyaris hilang.
Deg.
Jantung Salma mulai berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia lalu berjalan mendekat dengan kepala tertunduk, lalu perlahan menjatuhkan bokongnya di atas sofa ruang tamu. Secara kasat mata, sofa itu terbilang empuk dan nyaman dengan balutan kain yang halus. Namun, bagi Salma, duduk di sana terasa seperti duduk di atas tumpukan duri yang siap menusuk kulitnya kapan saja.
Ketidaknyamanan itu kian memuncak saat sudut matanya menangkap siluet yang sangat ia kenali. Tak jauh dari balik pintu, berdiri sebuah gagang sapu kayu yang bersandar membisu. Bagi orang lain, itu hanyalah alat pembersih lantai, tapi bagi Salma, benda itu adalah peringatan bisu tentang apa yang akan terjadi jika otaknya lambat bekerja.
Suasana ruang tamu mendadak terasa dingin dan mencekam. Aroma kopi yang menyengat di udara malah membuat perut Salma mulas. Ia kemudian meletakkan buku paketnya di atas meja dengan tangan yang masih gemetar hebat. Ia merasa seperti seorang terdakwa yang sedang menunggu vonis, sementara Ayahnya adalah hakim yang tidak memiliki ruang untuk sebuah kesalahan kecil sekalipun.
"Buka halaman empat puluh. Kerjakan soal nomor satu sampai sepuluh. Jangan ada yang salah, atau kamu tahu sendiri akibatnya," ujar Herman dingin tanpa mengalihkan pandangan dari buku di hadapannya.
Salma menelan ludah susah payah. Matanya mulai mengabur oleh bayangan air mata, membuat angka-angka di dalam buku paket itu tampak menari-nari mengejek ketakutannya. Ia melirik lagi ke arah gagang sapu itu, lalu cepat-cepat menunduk, mencoba memeras otaknya sekuat tenaga agar sore ini tidak berakhir dengan rasa perih yang sudah sangat ia hafal.
Hingga lima belas menit berlalu, Herman kemudian menarik buku paket yang ada di depan Salma dengan gerakan kasar. Suara gesekan kertas yang beradu dengan meja kaca terdengar nyaring di tengah kesunyian ruang tamu yang mencekam.
Salma tersentak, tangannya refleks menjauh dari meja. Ia meremas jemarinya sendiri yang sudah basah oleh keringat dingin. Matanya tak berani terangkat, hanya sanggup menatap ujung kaki Ayahnya yang tampak kaku.
"Salah!" Kata Herman kemudian sambil membalikan buku paket ke hadapan Salma. "Lihat nomor dua! Lima kali empat masa kamu jawab tiga puluh enam?!"
Herman menggeleng. "Salma. Ini sudah yang kesekian kalinya Ayah ajari kamu perkalian. Coba. Gimana caranya... Lima kali empat bisa jadi dua puluh?!"
Salma mengangguk. Dengan gemetar, ia mulai mengambil pensil dari kotaknya lalu mulai menulis angka lima sebanyak enam kali di kertas kosong. "I-ini... Ayah."
Herman menggeleng.
Braaaak!
"Bodoh!" Pekik Herman dengan lantang. "Kamu jawab tiga puluh enam, tapi yang kamu tulis lima kali enam. Gimana kamu ini, huh?!"
"A-Ayah... aku minta maaf, aku..."
Herman merampas kertas dari tangan Salma tanpa banyak bicara. Gerakannya begitu kasar hingga pinggiran kertas itu sempat menyayat kecil ujung jari Salma. Pria itu menatap deretan jawaban yang ditulis dengan pensil tipis-tipis, seolah-olah tulisan itu adalah sebuah penghinaan besar baginya.
Di saat yang sama, ia kemudian menulis deretan angka perkalian dengan sangat cepat di atas kertas yang baru. Suara goresan bolpoinnya terdengar kasar, menekan kertas hingga meninggalkan bekas yang dalam pada permukaan meja kaca.
"Nih! Hapalkan!" Herman membanting kertas itu tepat di hadapan Salma. "Harus ingat setiap angkanya jangan sampai salah!"