Kring...!
Suara bel panjang itu memecah keheningan koridor sekolah, bagaikan musik yang paling dinanti oleh seluruh penghuni kelas. Dalam sekejap, suasana berubah menjadi riuh. Langkah kaki guru yang keluar dari pintu depan langsung dibuntuti oleh rombongan murid yang berlarian tak sabar untuk menghirup udara bebas usai mengenyam pengetahuan setengah hari ini. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, beberapa murid masih tertinggal di dalam kelas—termasuk Salma.
Melihat Rena dan Sinta masih berdiri di sudut ruangan, jantung Salma mencelos. Ia buru-buru memasukkan bukunya yang berantakan ke dalam tas. Perasaannya tidak enak. Dan, hatinya berkata bahwa ia harus segera keluar.
"Salma!" teriak Sinta, suaranya melengking tajam di ruang kelas yang mulai lowong sesaat melihat Salma keluar dan berjalan mengitari bangku. "Mau ke mana kamu?"
"A-aku... aku mau pulang," jawab Salma tergagap, tangannya gemetar saat menyampirkan tas di bahunya.
Rena melangkah maju, menghalangi jalan Salma dengan wajah yang dibuat-buat memelas. "Sal, tolongin aku boleh, gak? Kaos kaki aku hilang sebelah."
Salma mengerjapkan matanya, bingung. Ia refleks menunduk ke arah sepatu Rena. "Tapi... itu kamu pakai kaos kaki, Ren."
"Bukan yang ini!" sergah Rena cepat, nadanya mulai berubah menuntut. "Maksudnya kaos kaki aku yang satu lagi, cadangannya hilang. Boleh bantu cari nggak? Di kolong meja atau di mana gitu."
Salma ragu. Ia teringat Ayahnya yang pasti sudah menunggu dengan wajah kaku di rumah. "Tapi..."