Langkah kaki Salma terasa begitu berat menyusuri trotoar yang mulai panas terpapar matahari sore. Ia berjalan menunduk, mencoba menyembunyikan wajah sembapnya dari orang-orang yang melintas. Sesekali ia mengusap sisa air mata dengan punggung tangannya yang masih memerah bekas menggedor pintu kelas tadi.
Perutnya keroncongan, terasa perih dan melilit. Seharusnya, ia bisa membeli roti atau setidaknya es mambo di gerbang sekolah untuk sekadar mengganjal lapar dan menenangkan hati. Namun, jangankan untuk ongkos ia pulang, kantong seragamnya kosong melompong. Uang sakunya lagi-lagi bukan habis untuk mengisi perut, melainkan berpindah tangan ke saku Rena dan Sinta sebelum mereka mengurungnya tadi.
Sal, bagi duit dong! Seperti biasa.
Kalimat Sinta tadi siang kembali terngiang, diikuti paksaan mereka merampas lembaran uang yang sudah Salma simpan baik-baik sejak pagi.
Mengingat itu, dada Salma kembali terasa sesak. Di sekolah ia di-bully dan dipalak, sementara di rumah, ia harus berhadapan dengan tuntutan Ayahnya yang tak kenal ampun. Tidak ada tempat yang benar-benar terasa aman baginya.
Setiap langkah yang ia ambil membawanya semakin dekat ke rumah, namun semakin dekat pula ia dengan ketakutan yang nyata. Bayangan Herman yang berdiri di depan pintu sambil melirik jam tangan mulai menghantui pikirannya.
"Tolong, ya Tuhan... jangan biarkan Ayah marah," bisiknya lirih dalam doa yang putus-putus.
Ia mempercepat langkahnya meski kakinya sudah lecet karena sepatu yang terasa semakin sempit. Trotoar itu seolah memanjang tanpa ujung, sama seperti penderitaan yang harus ia tanggung sendirian hari ini. Di antara rasa lapar yang menggigit dan trauma yang membekas, Salma terus berjalan, menyeret tas ranselnya yang terasa ribuan kali lebih berat dari biasanya.