PUTARAN WAKTU SALMA

essa amalia khairina
Chapter #14

HADIAH DARI LANGIT

​Keesokan harinya, pada suasana sekolah yang masih terasa sama, langkah Salma lagi-lagi terasa kaku. Ia menyusuri koridor dengan kepala tertunduk, bahunya menciut seolah ingin bersembunyi di balik ranselnya yang berat. Kalimat ayahnya beberapa menit yang lalu masih terngiang jelas, berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak yang mengancam.

​Awas, jangan pulang terlambat seperti hari-hari kemarin!

​Suara Herman tadi begitu dingin, setajam sembilu saat ia menurunkan dirinya di depan gerbang. Sebelum jemarinya menyalakan kembali starter motor dan berlalu tanpa menoleh lagi.

​Salma menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya. Bau debu sekolah dan suara riuh murid lain yang berlarian di koridor tidak membuatnya merasa nyaman. Baginya, setiap sudut sekolah kini terasa seperti jebakan. Ia teringat pintu kelas yang terkunci, tawa mengejek Rena dan Sinta, hingga rasa perih di telapak tangannya yang masih sedikit berbekas.

​"Aku harus cepat pulang nanti. Jangan sampai terjebak lagi," bisiknya pada diri sendiri.

​Ia menggenggam tali tasnya erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih. Salma berjalan melewati kelas-kelas lain dengan perasaan waswas. Setiap kali melihat kerumunan murid, ia refleks menghindar, takut jika Rena dan Sinta sudah menunggunya dengan rencana buruk yang lain.

​Bayangan gagang sapu yang bersandar di balik pintu rumahnya seolah tak berarti ketika langkahnya tiba di sekolah saat ini. Di dunianya, waktu bukan lagi tentang belajar, melainkan tentang perlombaan untuk tidak memancing amarah dan godaan siapapun. Dengan hati yang mencelos, ia lalu masuk ke dalam kelasnya, duduk diam di bangkunya, dan berharap hari ini berlalu secepat kilat tanpa ada satu pun masalah yang menghambat kepulangannya.

****

​Selama jam pelajaran berlangsung, kegelisahan Salma tak kunjung surut. Matanya bergerak liar, sesekali melirik sembunyi-sembunyi ke sekeliling kelas, memastikan tidak ada sosok yang ia takuti. Namun, kursi di barisan tengah itu tampak kosong melompong.

​"Kamu cari siapa, Sal?" tanya Cantika pelan, mengejutkan Salma yang duduk tepat di sebelahnya.

​Salma tersentak, bahunya sempat terangkat karena kaget. "Aku... aku cari Sinta sama Reina."

​Cantika mengernyitkan dahi. "Oh. Kenapa dicari? Mereka nggak masuk hari ini, katanya sih sakit barengan."

​Mendengar itu, Salma seolah merasakan beban berat yang selama ini menekan pundaknya terangkat seketika. Ia merasa merdeka. "Benarkah?" tanyanya dengan binar mata yang tak bisa disembunyikan, meskipun suara Bu Khasna masih menggema menjelaskan materi di depan kelas.

​Cantika mengangguk mantap. "Oh ya, kemarin maaf ya aku nggak sekolah, aku kurang enak badan," bisiknya dengan nada menyesal. "Kamu pasti kemarin menghadapi hal besar tanpa aku, ya?"

​Salma terdiam sejenak, teringat bayangan dirinya yang terkunci di kelas gelap dan tatapan bengis ayahnya semalam. Namun, ia hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Enggak kok," dustanya demi menutupi luka yang masih basah.

​"Oke anak-anak!" seru Bu Khasna memecah suasana. "Apa kalian membawa kaleng bekas yang Ibu perintahkan kemarin?"

​"Bawa, Bu!" sahut murid-murid serempak.

​"Sesuai instruksi, silakan keluarkan semua alat dan bahannya sekarang."

​Suasana kelas berubah riuh. Meja-meja mulai dipenuhi dengan kertas lipat warna-warni, lem, gunting, dan kaleng-kaleng bekas. Salma memperhatikan sekeliling; rata-rata teman sekelasnya membawa kaleng bekas susu kental manis yang bersih dan rapi. Namun, saat Salma mengeluarkan miliknya dari tas, tangan kecilnya mendadak kaku.

​Ia meletakkan sebuah kaleng bekas oli milik ayahnya di atas meja. Kaleng itu berwarna gelap, dengan label yang sudah koyak sebagian, dan aroma khas minyak mesin yang menyengat langsung menguar di udara. Sontak, beberapa murid di dekatnya menoleh.

​"Kamu bawa kaleng bekas oli, Sal?" bisik Cantika dengan wajah prihatin. "Duh, di rumahku padahal banyak kaleng susu kosong hasil di bawa Ayah untuk di jual ke pengepul. Kalau tahu begitu, aku minta dua ke Ayah tadi pagi."

​Salma menelan ludah, mencoba mengabaikan rasa malu yang mulai menjalar ke pipinya. "Enggak apa-apa kok. Kata Ayah, kaleng apa saja sama saja fungsinya," jawab Salma lirih, teringat bagaimana ayahnya memberikan kaleng itu dengan kasar tadi pagi.

​"Ih, bau oli!" celetuk seorang siswa di barisan depan sambil menutup hidungnya dengan gaya berlebihan. "Jorok banget, sih! Kelas kita jadi bau bengkel, tahu!"

​Salma hanya bisa menunduk dalam-dalam, memegang guntingnya dengan tangan gemetar. Di saat anak-anak lain sibuk menghias kaleng susu mereka yang cantik dengan kertas lipat, Salma harus berjuang menutupi aroma mesin yang kuat dan noda hitam yang masih menempel di pinggiran kaleng olinya. Ia kembali merasa kecil, merasa berbeda, dan sekali lagi menyadari bahwa dunia ayahnya selalu masuk ke dunianya dengan cara yang paling menyakitkan.

"Orang lain bawa kaleng susu, ini malah kaleng oli!" Tambah Andi. "Gak denger Bu Khasna kemaren bilang apa?!"

"Andi..." Tegur Bu Khasna dengan gelengan di kepala.

Lihat selengkapnya