Salma melangkah keluar dari gerbang sekolah dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Meski saku seragamnya kini benar-benar kosong melompong, sebab seluruh uang sakunya telah berpindah tangan ke penjual pisang keju di depan gerbang, namun tak ada sedikit pun penyesalan yang membekas di wajahnya.
Untuk pertama kalinya, uang itu habis karena keinginannya sendiri, bukan karena dirampas paksa oleh tangan-tangan jahat Reina dan Sinta.
Ia mulai menyusuri trotoar panjang menuju rumah. Matahari siang itu menyengat dengan terik yang luar biasa, memantulkan panas dari aspal ke permukaan kulitnya. Namun, anehnya, Salma tidak merasa selemas biasanya. Rasa manis karamel dan gurihnya keju yang tadi memenuhi rongga mulutnya seolah berubah menjadi energi yang memompa semangat di setiap langkah kakinya hari ini. Perutnya yang biasanya hanya diisi dengan sisa-sisa ketakutan, kini terasa hangat dan kenyang.
"Enak banget..." bisiknya lirih, masih bisa merasakan sisa kelezatan pisang keju rekomendasi Adit di ujung lidahnya.
Sesekali, ia menyeka keringat yang menetes di dahi dengan punggung tangan. Perjalanan pulang yang biasanya terasa seperti rute menuju tempat eksekusi, kini ia nikmati sebagai ruang kebebasannya sendiri. Ia sengaja berjalan sedikit lebih cepat, bukan karena takut pada Ayah, melainkan karena ingin segera sampai dan menunjukkan bahwa hari ini, meski hanya bermodal kaleng oli dan pisang keju, ia berhasil bertahan.
Setiap jengkal trotoar yang ia lewati menjadi saksi bahwa hari ini Salma tidak kalah oleh keadaan. Di tengah teriknya perjalanan panjang itu, Salma menyadari satu hal bahwa perut yang kenyang dan hati yang diakui oleh seorang teman adalah bekal yang jauh lebih kuat daripada sekadar uang di saku.
Tiba di persimpangan jalan yang sama, langkah Salma melambat. Ia berhenti tepat di batas trotoar, tempat yang kemarin menjadi saksi bisu kemarahan sang penjual koran. Secara refleks, kepalanya menoleh ke arah kios kecil itu.
Pria berusia tiga puluh tahunan itu ada di sana, namun pemandangan hari ini berbeda. Tidak ada bantingan majalah atau hardikan kasar. Pria itu tampak terduduk di kursi kayunya dengan kepala tersandar di tumpukan koran yang belum laku terjual. Matanya terpejam rapat, napasnya teratur namun tampak lelah. Ia tengah tertidur pulas di tengah kebisingan suara klakson kendaraan yang bersahut-sahutan.
Salma terdiam sejenak. Jemarinya meremas tali tasnya. Kemarin, pria ini menarik lengannya dengan kasar dan memakinya karena dianggap merepotkan. Namun, melihat tubuh yang tampak ringkih dan letih itu, rasa kesal di hati Salma luntur begitu saja. Ia tahu rasanya lelah, ia tahu rasanya harus bekerja keras demi tuntutan yang tak ada habisnya.
Lihat kalau lampunya merah, Neng maju! Jalan! Jangan malah ikut berhenti! Yang berhenti itu cuma mobil sama motor.