Salma tiba di depan rumahnya dengan napas yang masih tersengal. Jantungnya baru mulai berdetak normal setelah kejadian mengerikan di trotoar tadi. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengetuk pintu kayu rumahnya yang kokoh. Tak lama, terdengar derap langkah kaki yang diseret, dan Surti pun membukakan pintu.
"Kamu udah pulang," sapa Surti datar, matanya hanya melirik sekilas ke arah cucunya.
"Iya, Nek," jawab Salma lirih. Matanya segera mengedar ke penjuru ruang tamu, mencari sosok yang paling ia takuti.
Seolah bisa membaca kecemasan di wajah Salma, Surti mendengus pelan. "Ayah kamu lagi keluar. Sibuk nyupirin orang yang sewa mobil. Mungkin pulangnya agak malam."
Mendengar itu, Salma mengembuskan napas panjang. Beban berat yang seolah menghimpit dadanya sejak dari sekolah tadi mendadak luruh. Setidaknya, untuk beberapa jam ke depan, rumah ini bukan lagi medan perang baginya.
"Kalau gitu... aku boleh main sama Bila, Nek?" tanya Salma hati-hati. Ada binar harapan di matanya. Hanya Bila yang bisa membuatnya merasa menjadi anak kecil biasa kembali.
"Terserah," sahut Surti acuh tak acuh sambil membetulkan letak kain jariknya. "Bila tadi datang ke sini nyamper kamu. Katanya dia tunggu di rumahnya."
"Kalau gitu, aku main sekarang ya, Nek?"
Surti mengerutkan dahi, menatap Salma dengan heran. "Gak makan dulu? Tumben. Gak laper emang?"
Salma teringat pisang keju yang ia makan bersama Adit. "Masih kenyang, Nek," jawabnya. "Kalau nanti laper, aku balik lagi ke rumah."
"Ganti baju dulu. Jangan main pakai seragam begitu, kotor," perintah Surti tegas. "Bisa-bisa Ayah kamu tantrum lagi!"
"Iya, Nek."
Salma melangkah masuk menuju kamarnya. Namun, saat jemarinya menyentuh permukaan seragam merahnya, memori tentang tangan pria asing yang merayap di balik roknya kembali berputar seperti kaset rusak. Rasa tidak nyaman itu merayap lagi, membuat kulitnya merinding. Ia merasa kotor. Ia merasa perlu bicara, perlu memberitahu seseorang bahwa sesuatu yang salah telah terjadi padanya.
"Oh iya, Nek... aku..." Salma berbalik, suaranya bergetar, matanya menatap punggung Surti dengan penuh harap.
"Nenek mau ke dapur dulu, mau masak air," potong Surti cepat tanpa menoleh. Langkahnya yang mantap terus menjauh menuju bagian belakang rumah.
"Nek!" panggil Salma sekali lagi, sedikit lebih keras.
Namun, Surti tetap tak peduli. Sosoknya menghilang di balik pintu dapur, meninggalkan Salma berdiri sendirian di tengah ruangan yang sunyi. Kata-kata yang sudah sampai di ujung lidah Salma tertelan kembali. Ia ingin mengadu tentang pria di trotoar, tentang rasa takutnya yang melebihi rasa takut pada ayahnya. Tapi di rumah ini, suara Salma seolah-olah memang ditakdirkan untuk tidak pernah terdengar.
Dengan bahu yang merosot, Salma masuk ke kamar. Ia menanggalkan seragamnya dengan gerakan cepat, seolah ingin segera melepaskan semua kejadian buruk yang menempel di kain itu. Ia harus segera bertemu Bila. Ia butuh pelukan seorang sahabat untuk meyakinkan dirinya bahwa ia masih baik-baik saja.
****
"Bilaaaa!"
Suara Salma melengking di depan gerbang kayu rumah Bila, membawa sisa-sisa sesak yang berusaha ia buang jauh-jauh. Itu adalah panggilan darurat, sebuah seruan yang menandakan bahwa Salma sudah tidak sanggup lagi menyimpan beban hari ini sendirian.