PUTARAN WAKTU SALMA

essa amalia khairina
Chapter #17

SATU TAHUN SETELAH PINDAH

Salma duduk bersimpuh di atas tikar, jemari kecilnya mulai tampak terampil membantu Desi membungkus porsi-porsi nasi kotak pesanan pelanggan.

Rumah baru mereka tidaklah besar, juga tidak terlalu kecil. Sebuah bangunan sederhana dengan cat yang masih bersih, namun terasa begitu asing.

​Namun, rumah ini jauh, terlalu jauh dari jangkauan Bila. Jarak yang kini memisahkan mereka bukan lagi sekadar beberapa petak rumah, melainkan batas antar-kota yang membentang luas. Salma masih menyimpan rapi ucapan Bila di kepalanya—tentang panggilannya yang akan selalu terdengar. Namun di sini, sesunyi apa pun Salma memanggil, hanya gema kosong yang menjawabnya.

​"Udah aja, Sal. Sisanya biar Bunda yang beresin," kata Desi sambil melirik jam dinding yang berdetak nyaring. "Ayo siap-siap, udah jam setengah sebelas. Waktunya kamu berangkat sekolah."

​Mendengar perintah itu, perut Salma mendadak melilit. Rasa mulas yang sama, yang selalu datang tiap kali ia harus berhadapan dengan aspal jalanan, kembali menyerang.

​"Ayo, Sal. Kenapa bengong?" tegur Desi saat melihat anaknya hanya terpaku.

​"Bun..." suara Salma mencicit pelan. "Kita bisa enggak... ke rumah Nenek lagi?"

​Desi terdiam. Nama Surti seketika membawa rasa pahit di lidahnya. Ia teringat bagaimana ibu mertuanya itu selalu menyudutkannya, membuat kepindahannya ke kabupaten ini sebenarnya adalah sebuah pelarian yang melegakan. Ia merasa aman di sini, jauh dari tatapan menghakimi mertuanya. Namun, ia lupa bahwa bagi Salma, pelarian ini adalah sebuah pengasingan.

​Desi mengembuskan napas panjang. "Kamu sekarang fokus belajar dulu, Sal. Sebentar lagi ujian. Kamu ini kan udah kelas empat. Kalau mau ketemu Bila, nanti aja kalau libur panjang. Udah, cepat sana siap-siap. Nanti kamu terlambat."

​"Kan Bunda yang mau antar aku pakai motor?" tanya Salma penuh harap.

​"Tadinya begitu. Tapi Doni baru aja tidur pulas setelah pulang sekolah tadi. Kalau Bunda antar kamu, siapa yang jaga Doni di rumah sendirian? Ayahmu juga masih di luar, sibuk antar pesanan makanan."

​Jantung Salma berdegup kencang. "Jadi... Salma pergi sendiri, Bun?"

​Desi berlutut, mengusap bahu anaknya dengan lembut. "Sayang, kamu itu udah besar. Sekarang udah bukan kelas tiga lagi. Belajar mandiri, ya? Pelan-pelan aja jalannya."

​Salma membisu, namun kepalanya berisik. Memori tentang trotoar panas, suara bising kendaraan, dan tangan dingin pria asing yang menyelinap di balik roknya kembali mendadak muncul seperti mimpi buruk yang nyata. Kejadian itu tak pernah ia ceritakan, namun bekasnya masih terasa seperti luka yang basah.

​"Tapi, Ma... Aku takut kalau ada orang jahat," gumam Salma, nyaris menangis.

"Enggak kok, Mama doain kamu selamat sampai sekolah. Kamu kan anak pemberani."

​"Tapi dulu, Ma... ada orang yang—"

​Drrrrtt... Drrrrtt...

​Getar ponsel di atas meja makan memutus kalimat Salma. Desi segera beranjak dari tikar, setengah berlari menuju sumber suara. "Halo? Iya, pesanan atas nama siapa?" sahut Desi antusias. Sambil berbicara di telepon, ia melambaikan tangan ke arah Salma, memberi isyarat tanpa suara agar anaknya segera masuk ke kamar dan berganti pakaian.

​Salma menunduk pasrah. Kalimat tentang pelecehan itu kembali tertelan di tenggorokannya, terkubur oleh deru urusan orang dewasa yang tak pernah punya waktu untuk mendengarkan ketakutan kecilnya. Dengan langkah berat dan perut yang masih mulas, ia berjalan menuju kamar, menyadari bahwa hari ini pun, ia harus menghadapi dunianya yang menakutkan lagi seorang diri.

****

Lihat selengkapnya