Salma akhirnya tiba di depan gerbang sekolah dengan kondisi yang memprihatinkan. Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya, membasahi sela-sela rambutnya yang terkuncir kuda dan mengalir turun ke leher hingga kerah seragamnya terasa lengket. Napasnya masih memburu, pendek-pendek dan tidak beraturan, sisa dari kepanikan luar biasa saat dikejar anjing di dekat kebun bambu tadi.
Ia berhenti sejenak di dekat pos satpam, menyandarkan tubuhnya yang lemas pada pagar besi yang dingin. Kakinya terasa seperti jeli, gemetar hebat hingga ia hampir tidak sanggup berdiri tegak. Wajahnya yang biasanya cerah kini tampak pucat pasi, matanya menyiratkan kelelahan yang mendalam.
Beberapa siswa yang baru tiba dengan diantar motor atau naik delman menatapnya heran melihat penampilannya yang kacau, namun Salma tidak peduli. Dunianya saat ini hanya berisi detak jantung yang berdebam kencang di telinga.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia menyeka keringat di dahinya menggunakan punggung tangan, menyibakkan anakan rambut yang menempel di wajahnya. Perutnya yang mulas sejak di rumah kini terasa semakin melilit, seolah-olah semua kejadian menakutkan di jalan tadi berkumpul menjadi satu gumpalan kecemasan di ulu hatinya.
Ia menatap gedung sekolah di depannya dengan pandangan nanar. Di sini ia aman dari anjing, namun ia tahu, di dalam sana ada Dea dan teman-teman lainnya yang sudah siap dengan bisikan-bisikan tajam tentang dirinya yang "menumpang".
Salma menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri dan mengatur napasnya yang masih memburu sebelum melangkah masuk ke area kelas.
Sungguh, perjalanan yang hanya beberapa kilometer menyusuri pinggiran sawah dan kebun bambu itu terasa seperti menempuh ribuan mil bagi jiwanya yang kecil. Sambil membenahi letak tas ranselnya yang terasa berat, ia pun melangkah pelan menelusuri koridor sekolah menuju kelas, mencoba menyembunyikan sisa trauma yang baru saja ia alami sendirian di bawah sinar matahari yang semakin menyengat.
"Eh. Itu si Salma." Bisik seorang gadis ke telinga Dea yang tengah sibuk mengeluarkan buku pelajaran dari dalam isi tasnya.
Begitu Salma masuk ke dalam kelas, lagi-lagi ia hanya tertunduk, menghindari kontak mata dengan siapa pun. Ia mulai mengitari meja kayu yang kini menjadi tempatnya berlabuh, meja yang berada di barisan paling depan, tepat di bawah hidung guru.
Ya, berbeda dengan sekolahnya dulu di mana posisi duduk ditentukan berdasarkan siapa yang paling cepat datang atau keinginan sendiri, kini di sekolah barunya, para murid harus duduk bergantian. Sistem rolling itu dibuat agar setiap anak bisa merasakan duduk di barisan paling depan. Namun bagi Salma, peraturan ini terasa seperti hukuman yang bergilir.
Duduk di paling depan berarti ia menjadi pusat perhatian. Ia tidak bisa bersembunyi di balik punggung teman yang lebih tinggi saat ingin menghapus sisa air mata atau sekadar melamunkan rumah lamanya. Di sini, ia merasa telanjang. Ia bisa merasakan tatapan teman-temannya dari belakang, seolah-olah mereka sedang meneliti setiap helai rambutnya yang sedikit berantakan karena angin kebun bambu tadi, atau seragamnya yang tidak semahal milik mereka.
Salma menarik kursi perlahan, suaranya yang berdecit di atas lantai semen terdengar begitu nyaring di telinganya. Ia segera duduk dan merapatkan tubuhnya ke meja, mencoba mengecilkan diri sekecil mungkin.
"Enak ya duduk di depan, jadi kesayangan guru," celetuk sebuah suara dari barisan tengah. Salma tahu itu sindiran, bukan pujian.