"Saniii!"
Di jam istirahat, seruan itu seketika membuat gadis yang duduk di samping Salma menoleh ke sumber suara. Tanpa hitungan, keduanya menoleh ke arah Dea yang kemudian beranjak dari bangkunya dan kini berjalan mendekati mereka.
Di samping Dea, ada seorang gadis berambut panjang. Tubuhnya lebih pendek dari Dea. Salma lalu membaca tulisan di bordir seragam putih yang dikenakan gadis itu. E-L-I-D-A. Begitu ejaan nama yang tertangkap oleh indra penglihatan Salma.
Ya. Elida tampak diam, jemarinya sibuk memainkan ujung pulpen, namun matanya sesekali melirik ke arah Dea seolah menunggu komando. Berbeda dengan Dea yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya, Elida terlihat lebih tenang, namun ada kesan misterius dari wajahnya yang bulat.
"San, ini teman baru kamu?" Kata Dea sambil melirik sekilas ke arah Salma. "Kok mau aja temanan sama orang miskin kayak dia?! Ibunya aja cuma jualan nasi. Bau bawang, tau!"
Hati Salma seketika mencelos. Rasanya seperti ada sesuatu yang berat menghantam dadanya hingga ia sulit bernapas. Jika Dea hanya mengejeknya miskin atau menertawakan seragamnya yang sesekali kusam dan bau keringat, Salma mungkin masih bisa menulikan telinga. Ia sudah terbiasa dianggap tidak ada. Namun, ketika nama Ibunya dibawa-bawa, pertahanannya runtuh.
Pikiran Salma langsung terbang ke dapur rumah mereka yang sempit. Ia teringat bagaimana Desi, ibunya, harus bangun saat hari masih gelap, berkutat dengan asap kompor dan uap nasi yang panas demi memenuhi pesanan. Ia teringat jemari ibunya yang kasar dan memerah karena terlalu lama memotong bumbu, semua itu dilakukan agar Salma bisa tetap sekolah dan Doni bisa makan enak.
Matanya mulai memanas, namun ia sekuat tenaga menahan air mata itu agar tidak jatuh di depan Dea. Ia tidak ingin memberikan kepuasan pada gadis itu dengan melihatnya menangis. Salma menunduk semakin dalam, menatap buku tugasnya hingga tulisannya tampak kabur. Kata-kata Dea barusan terasa jauh lebih menyakitkan daripada gonggongan anjing yang mengejarnya tadi.