PUTARAN WAKTU SALMA

essa amalia khairina
Chapter #20

TERJEBAK DALAM RINDU

​Langkah kaki Salma terasa begitu berat saat menyusuri jalanan menuju rumah. Rasa lelahnya bukan hanya karena fisik yang terkuras habis setelah perjalanan jauh melewati sawah dan kebun bambu, tapi juga beban mental yang menumpuk di pundaknya.

​Begitu pintu rumah terbuka, aroma bumbu dapur yang menyengat langsung menyambutnya. Di ruang tamu, ia melihat sang Ayah, Herman, sedang duduk bersila di depan meja kayu pendek, jemarinya lincah menghitung lembaran uang hasil usaha mereka. Herman bahkan tak menoleh, fokusnya hanya pada angka-angka itu.

​"Kamu sudah pulang, Sal?" suara Desi muncul dari arah dapur. Ia menghampiri Salma sambil menyeka keringat di dahi dengan ujung daster. "Kamu mau makan dulu atau mandi dulu? Wajahmu kusam sekali."

"Iya, Bun. Aku pergi dan pulang jalan kaki." Jawab Salma lesu.

"Lho. Gak bareng Dea?"

Salma menggeleng. "Dea kata Ibunya udah pergi duluan tadi, Bun."

"Tapi Salma, Bunda udah kasih kamu uang buat ongkos naik delman."

Salma menelan saliva. "Sepi, Ma. Gak ada delman yang lewat kalau siang." Jawabnya, sambil menatap ibunya dengan tatapan nanar. Ia ingin sekali menghambur ke pelukan Desi, menceritakan tentang anjing yang mengejarnya, tentang bentakan Bu Yati, dan tentang mulut pedas Dea yang menghina keluarga mereka. Namun, melihat wajah lelah ibunya juga, suaranya tercekat.

"Gak apa-apa." Sambar Herman. Matanya masih terfokus ke arah lembar uang yang dihitungnya. "Jalan kaki lebih sehat. Dan, kamu harus terbiasa kalau kebagian sekolah siang. Ayah gak bisa antar kamu ke sekolah karena sibuk sama kerjaan Ayah dan antar pesanan catering Bunda."

Herman kemudian menjilat ujung jempolnya, lalu melanjutkan hitungannya dengan teliti.

Salma tidak membalas. Pernyataan itu bagai hantaman palu yang memaku kakinya ke lantai. Kata-kata "jalan kaki lebih sehat" terdengar begitu ironis dan menyakitkan di telinganya. Ayahnya tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu—bahwa di balik kata "sehat" itu, Salma harus bertaruh nyawa menghadapi anjing liar di kebun bambu dan menahan napas setiap kali melewati pria asing yang tampak mencurigakan.

"Ya udah, Salma..." Ucap Desi. "... kamu mau mandi dulu atau makan dulu?"

​"Aku... aku mau mandi dulu, nggak apa-apa, Bun?" bisik Salma pelan.

​"Iya, udah sana. Biar seger," sahut Desi singkat sebelum kembali berbalik ke arah dapur tanpa bertanya lebih lanjut bagaimana hari Salma berjalan.

​Di bawah kucuran air, Salma memejamkan mata. Perlahan, ucapan Sani tadi siang kembali berdenging di telinganya. Di sekolah ini, kamu harus kuat sendiri. Kalimat itu terasa sangat nyata sekarang. Di rumah pun, ia merasa harus berjuang sendiri.

​Selesai mandi, Salma menuju ruang makan yang menyatu dengan ruang tengah. Di depan televisi yang menyala, Doni sedang asyik bermain dengan mainannya, sementara Desi duduk di lantai, sibuk melipat tumpukan kotak katering dengan gerakan cepat dan cekatan.

​Salma pun menyendok nasi dengan malas. Setiap kunyahannya terasa hambar. Bayangan anjing besar, wajah menakutkan Bu Yati, hingga hinaan Dea tentang ibunya yang "bau bawang" terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Ia butuh telinga untuk mendengar, ia butuh validasi.

Lihat selengkapnya