Matahari pagi baru saja mengintip di ufuk timur, membiaskan cahaya keemasan yang menembus sela-sela ventilasi kamar. Suasana rumah sudah sibuk sejak jam empat subuh tadi, namun hari ini terasa berbeda bagi gadis kelas enam yang lebih tegap dan mandiri seperti Salma.
"Salma! Ayo, cepat!" teriak Herman dari depan pintu rumah. Suara deru motor yang dipanaskan memecah keheningan pagi. "Nanti kejebak macet!"
Salma bergegas menyampirkan tas ranselnya, memastikan jepit rambutnya terpasang rapi. Selama dua tahun terakhir, kehidupan keluarga mereka mengalami rotasi yang signifikan, mirip dengan sistem duduk di kelasnya dulu. Sejak naik ke kelas enam, jadwal sekolah Salma selalu pagi, yang berarti ia berangkat berbarengan dengan jam operasional bisnis orang tuanya yang sedang meroket.
Bisnis katering Desi berkembang sangat pesat. Dapur mereka kini tak lagi hanya tercium aroma bawang, tapi aroma kesuksesan dari ratusan porsi pesanan setiap harinya. Sementara itu, usaha Herman dalam memproduksi kotak makanan dan distribusi plastik di ibu kota—yang lokasinya strategis tak jauh dari rumah nenek, berjalan sangat lancar. Ekonomi keluarga mereka membaik, dinding rumah mereka kini tampak lebih kokoh, dan raut wajah Herman tak lagi sekeruh dulu saat menagih kemampuan perkalian Salma atau menghitung lembaran uang di ruang tamu.
Salma kemudian melangkah keluar, menghampiri ayahnya yang sudah siap di atas motor.
"Ayah antar sampai gerbang depan ya, sekalian Ayah berangkat kerja ke gudang plastik," ujar Herman sambil membetulkan posisi helmnya.
Salma mengangguk, lalu naik ke boncengan. Melewati jalanan yang dulunya terasa sangat menakutkan, kini ia memandangnya dengan sudut pandang yang berbeda. Kebun bambu yang dulu dihuni anjing-anjing liar kini mulai bersisihan dengan pembangunan ruko. Trauma itu masih ada, namun tertutup oleh tuntutan kedewasaan yang dipaksakan oleh waktu.
Meskipun secara fisik hidup mereka lebih dari cukup, Salma tetaplah Salma yang pendiam. Di tengah deru motor, ia menatap punggung ayahnya. Ia tahu, kelancaran bisnis ini membuat orang tuanya semakin sibuk. Herman dan Desi memang berhasil membangun "kerajaan" kecil mereka, tapi di dalam hati Salma, ia masih sering bertanya-tanya, apakah kemajuan ekonomi ini juga akan membuka ruang bagi suaranya yang selama ini terbungkam? Atau ia akan tetap menjadi sosok yang "diam dan patuh" di tengah kesibukan katering dan plastik yang semakin menggila?
"Belajar yang bener, bentar lagi ujian," pesan Herman singkat saat motor berhenti di depan sekolah. "Usahakan kalah nanti mau masuk SMP, kamu harus masuk negri."
"Iya, Yah," jawab Salma pelan. Ia turun, mencium tangan ayahnya, dan melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan kepala tegak.
"Salmaaa?!"
Langkah Salma mendadak terhenti. Ia memejamkan mata sejenak, lalu membelalakkan matanya ke arah langit dengan perasaan dongkol. Apalagi, sih? Mau marahin atau ceramahin aku soal apa lagi? dengusnya dalam hati. Ia sudah membayangkan rentetan teguran tentang kedisiplinan atau nasihat tentang ujian yang membosankan.
Dengan gerakan lambat, Salma berbalik. "Iya, Ayah? Ada yang ketinggalan?"
"Hari Minggu besok kita ke rumah Nenek," ujar Herman singkat.
Mata Salma yang tadinya tampak layu dan malas, tiba-tiba membelalak lebar dengan binar antusias yang tak bisa disembunyikan. Seolah ada aliran listrik yang menyengat semangatnya secara tiba-tiba. "Serius, Ayah? Kita ke rumah Nenek?"
Herman hanya mengangguk tanpa suara, wajahnya tetap datar namun tidak sedingin biasanya.
"Aku... aku bakal ketemu Bila?!" tanya Salma dengan suara yang mulai meninggi karena kegirangan. Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya, nama yang selama dua tahun ini hanya ia peluk dalam doa dan lamunan sebelum tidur.
"Iya. Ada obrolan penting keluarga sama urusan kerjaan," sahut Herman praktis, selalu menyisipkan urusan pekerjaan di balik setiap rencana, meski itu memang hari liburnya.
Salma hampir saja melompat. Ia bersorak riang dalam hati, bahkan senyum lebar yang jarang terlihat kini merekah di wajahnya. Rasa lelah dan tekanan di sekolah baru ini seolah menguap begitu saja mendengar janji pertemuan itu.
"Sudah, sana masuk! Belajar yang bener!" perintah Herman lagi, kali ini dengan sedikit dorongan agar putrinya segera masuk kelas.