"Lho, Bunda nggak ikut?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Salma saat ia keluar dari kamar dengan tas ransel yang sudah terpasang rapi di bahu. Matanya membulat tak percaya menatap sosok Desi yang masih berbalut daster batik lusuh dengan rambut yang hanya dicepol asal. Tidak ada tanda-tanda sang ibu sedang bersiap untuk bepergian jauh.
"Bunda nggak bisa, Sal," jawab Desi tanpa menoleh. Tangannya sibuk menata ratusan kotak nasi ke dalam kardus besar. Uap panas dari masakan yang baru matang mengepul di sekelilingnya, membuat dapur terasa makin gerah. "Pesanan buat pengajian sore ini mendadak nambah lima puluh porsi. Kalau Bunda tinggal, siapa yang mau pegang dapur?"
Salma tertegun di ambang pintu. Semangat yang tadi meluap-luap seolah disiram air dingin. Selama dua tahun ini, ia selalu membayangkan mereka akan kembali ke rumah Nenek sebagai satu keluarga utuh, merayakan keberhasilan mereka bersama-sama.
"Tapi kan, Bun... aku udah bilang ke Bila kalau kita mau datang," bisik Salma lirih. Ada rasa kecewa yang mulai merayap di dadanya.
Herman muncul dari arah depan, sudah rapi dengan jaket motor dan kunci di tangan. "Sudah, Sal. Bunda memang nggak bisa dipaksa. Ini pesanan besar, sayang kalau dilewatkan." Ayahnya menatap Desi sekilas, lalu beralih ke Salma. "Nanti Ayah antar kamu sama Doni. Bunda di rumah saja sama asisten katering."
"Doni ikut?" tanya Salma, melirik adiknya yang sedang sibuk memakai sepatu sambil disuapi nasi oleh ibunya.
"Iya, Doni ikut biar nggak ganggu Bunda masak," sahut Desi sambil menyodorkan suapan terakhir ke mulut Doni. Ia lalu menatap Salma dengan tatapan yang sedikit melunak, meski tangannya tetap bekerja. "Salma, nanti sampaikan salam buat Nenek ya. Bilang ke Nenek, lain kali Bunda pasti mampir. Ini... ada titipan kue buat Nenek, sudah Bunda bungkus di meja makan."
Salma mengangguk pelan, meski ada rasa sesak yang tertahan di kerongkongannya. Ia tahu alasan yang diucapkan ibunya hanyalah permukaan dari sebuah luka yang jauh lebih dalam. Di balik tumpukan kotak katering dan kesibukan dapur yang seolah tak ada habisnya, ada keengganan besar yang Desi sembunyikan rapat-rapat.
Desi tidak hanya sibuk, ia memang tidak ingin kembali ke rumah mertuanya.
Salma masih ingat betul, suatu malam saat ia tak sengaja melewati kamar orang tuanya, ia mendengar bisikan getir sang ibu kepada ayahnya. Ucapan itu begitu tajam hingga terngiang-ngiang sampai sekarang. Desi pernah berkata bahwa ia tak ingin menginjakkan kaki lagi di rumah yang telah menghancurkan harga dirinya dan menyakiti hatinya begitu dalam.
Bagi Desi, rumah nenek bukan sekadar tempat tinggal lama, melainkan saksi bisu masa-masa sulit saat ia merasa disudutkan, direndahkan, dan dianggap tidak mampu sebagai seorang istri maupun ibu. Setiap sudut rumah itu seolah menyimpan memori tentang tatapan dingin dan kalimat-kalimat menyengat yang pernah menghujam batinnya.
"Udah siap semua?" Tanya Herman ketika kembali dari garasi mobil.
"Udah Ayah!" Kata Doni penuh semangat. "Aku duduk di depan bareng Ayah, ya?"
"Boleh," angguk Herman singkat, memberikan persetujuan yang membuat wajah Doni langsung berseri-seri. Herman kemudian beralih menatap Salma dengan tatapan instruksi yang tak terbantah. "Sal, kamu duduk di belakang saja. Sambil jaga kue titipan Bunda buat Nenek supaya nggak hancur kena guncangan."
Salma mengangguk pelan, sebuah anggukan mengalah yang sudah menjadi kebiasaannya. Sebenarnya ia ingin sekali duduk di samping Ayah, melihat jalanan melalui kaca depan dengan lebih leluasa. Namun, Doni sudah lebih dulu berkata dengan penuh antusias dan riang seolah ia adalah pemenang yang berhak atas tempat terbaik.
Salma tidak peduli lagi. Ia tak ingin membuang energi untuk mempermasalahkan posisinya yang selalu saja digeser oleh Doni. Baginya, duduk di kursi belakang dengan tumpukan kotak kue di pangkuan justru memberinya ruang untuk melamun tanpa harus terlihat oleh Ayah. Yang paling penting hari ini adalah tujuannya, pergi menemui Bila.
****