PUTARAN WAKTU SALMA

essa amalia khairina
Chapter #23

KETIKA SALMA BERTEMU BILA

​Langkah kaki Salma membawa dirinya berhenti tepat di depan sebuah pagar besi minimalis yang tampak masih baru. Ia mengerutkan dahi, sempat ragu apakah ia sedang berdiri di depan rumah yang benar atau bukan.

Rumah Bila tampak jauh berbeda dari ingatannya dua tahun lalu. Dinding beranda rumah Bila yang dulu berwarna krem kini sudah berganti cat abu-abu modern, dan sebagian terasnya tampak sedang dalam proses renovasi dengan tumpukan sate besi di pojok halaman.

​Salma menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya yang kian kencang. Dengan tangan sedikit bergetar, ia berjinjit, mengintip halaman rumah Bila lebih jauh lagi dari balik gerbang.

​"Assalamu’alaikum... Bila?" seru Salma. Suaranya terdengar canggung di telinganya sendiri, seolah-olah ia adalah orang asing yang sedang bertamu ke rumah pejabat. "Bi... laaaa?!"

​Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok wanita seusia Desi dengan daster rumahan yang rapi. Itu adalah Ibu Bila. Wanita itu memicingkan mata sebentar, mencoba mengenali gadis jangkung yang berdiri di depannya.

​"Cari siapa, ya?" tanya Ibu Bila ramah namun masih menyimpan tanya.

​"Ini... Salma, Tante. Cucunya Nenek Surti," jawab Salma sambil tersenyum malu-malu.

​Wajah Ibu Bila seketika berubah cerah. Ia membuka pintu lebih lebar, matanya berbinar kaget. "Ya Allah, Salma! Kamu sudah tinggi sekali, Tante sampai pangling! Kamu kapan datang dari kota?"

​"Baru saja, Tante. Bila-nya ada?"

​"Ada, ada! Dia lagi di belakang, ayo masuk dulu, Sal. Biar Tante panggilkan, ya. Pasti dia kaget sekali lihat kamu sudah jadi gadis begini!"

​Salma mengangguk sambil melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang kini terasa lebih dingin karena AC, namun hatinya justru terasa menghangat. Ia duduk di pinggir kursi sofa yang empuk, matanya tak berhenti memperhatikan foto-foto yang terpajang di dinding, hingga sebuah suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah koridor dalam.

​"Salma?!"

​Salma spontan berdiri. Di ambang pintu, berdirilah seorang gadis dengan rambut sebahu dan mata yang berkaca-kaca. Persahabatan dua tahun yang hanya terjalin lewat doa kini berdiri nyata di depannya.

Bila yang dulu tampak kecil dan kekanak-kanakan, kini telah bertransformasi sepenuhnya. Salma terpaku sesaat, seolah-olah sedang berkaca pada masa lalunya sendiri. Melihat Bila yang sekarang—dengan segala perubahan fisik dan kedewasaannya—membuatnya menyadari betapa jauh mereka berdua telah melangkah. Namun, sebelum Salma sempat merasa asing, kehangatan itu datang menyerbu.

​"Ya ampuuun!" seru Bila dengan suara yang bergetar karena emosi yang meluap. Tanpa aba-aba, ia pun langsung menghambur dan memeluk Salma dengan sangat erat. Nyaris, membuat Salma terhuyung ke belakang, namun ia segera membalas pelukan itu tak kalah kuatnya.

Di balik pundak Bila, Salma memejamkan mata erat-erat. Segala sesak yang ia simpan di sekolah barunya, segala dinginnya perlakuan Dea, dan rasa dianaktirikan di rumah, seolah luruh begitu saja dalam pelukan ini.

​"Salma, aku nggak mimpi kan? Kamu beneran di sini?" bisik Bila di sela pelukannya.

​Salma hanya bisa mengangguk, tenggorokannya mendadak tercekat hingga tak mampu mengeluarkan suara. Aroma sabun yang akrab dan rasa nyaman yang hanya bisa diberikan oleh seorang sahabat sejati membuat Salma merasa dunia kembali berputar di poros yang benar.

​"Aku kangen banget, Bil. Banget!" ujar Salma akhirnya dengan suara serak.

Lihat selengkapnya