PUTARAN WAKTU SALMA

essa amalia khairina
Chapter #24

MENGGENGGAM SENDU DAN RINDU

​Obrolan antara Salma dan Bila yang saling menumpahkan rindu akhirnya harus terhenti oleh waktu. Perpisahan itu terasa berat, namun janji untuk saling mengisi buku diary, kini menjadi kekuatan baru bagi mereka.

Tepat pukul delapan malam, mobil Herman kembali memasuki halaman rumah, mengakhiri perjalanan panjang yang melelahkan namun berkesan.

​Di sepanjang perjalanan pulang, Doni kembali menjadi pusat perhatian, ia tertidur pulas dengan posisi yang nyaman, sementara Salma harus rela sedikit berhimpitan di kursi belakang bersama oleh-oleh pemberian sang nenek. Namun, kali ini Salma tidak mengeluh. Tangannya tak lepas mendekap buku biru pemberian Bila. Buku itu ia peluk erat di depan dadanya, seolah takut jika ia melonggarkan pegangannya, memori indah di rumah Nenek akan ikut menguap.

​Desi nampak keluar. Ia menyambut kepulangan mereka sambil menghampiri mobil. "Akhirnya kalian pulang tepat waktu."

Tanpa banyak bicara, ia pun langsung mengambil Doni yang masih terlelap di kursi penumpang.

"Doni lelah setelah bermain sama Mama, tadi." Kata ​Herman setibanya ia keluar dari kabin mobil sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku setelah menyetir berjam-jam.

"Ya sudah, biar Bunda yang menidurkan Doni dulu." Ucap Desi melangkah masuk ke dalam rumah.

Herman mengangguk. Geraknya terhenti saat melihat Salma keluar dari pintu belakang dengan tatapan kosong.

​"Puas kamu hari ini?" tanya Herman datar.

​Salma mengangguk pelan. "Lumayan, Ayah. Tapi..."

​"Tapi apa?" Herman menoleh, menatap putri sulungnya dengan dahi berkerut.

​Salma mendadak membisu. Di tengah aliran cerita yang tumpah ruah bersama Bila tadi, ia baru menyadari satu hal yang sangat fatal. Saking asyiknya mereka bernostalgia dan membahas dunia mereka masing-masing, ia lupa akan satu misi, yakni belum sempat bertemu dengan Adit, ​Laki-laki yang selama ini hanya ia anggap sebagai kawan masa kecil, kini memiliki ruang yang berbeda di benaknya semenjak Hana berhasil membuka kotak rahasia di hatinya.

​"Apa, Sal? Ada yang ketinggalan?" tanya Herman lagi saat melihat anaknya hanya diam mematung.

​Salma menelan ludah. Jika ia berani bicara soal laki-laki atau cinta pada ayahnya, itu sama saja dengan menyerahkan diri ke dalam lubang macan. Ia masih ingat betul nasiha atau lebih tepatnya ancaman lama ayahnya yang diucapkan dengan nada lantang dan raut wajah yang menakutkan, nanti kalau sudah SMP, jangan coba-coba main pacar-pacaran! Belajar yang benar!

​"Enggak, Ayah," geleng Salma cepat, mencoba mengusir bayangan Adit dari kepalanya. "Salma ke kamar dulu ya, Ayah."

​"Salma." Panggilan Herman yang berat menghentikan langkah Salma di ambang pintu.

​"I-iya, Ayah?" jawab Salma gugup, bahunya sedikit menegang.

​"Jangan lupa belajar. Sebentar lagi ujian. Jangan sampai perjalanan hari ini malah membuat pikiranmu kacau hanya karena Bila," pesan Herman tegas sebelum melangkah pergi.

​Salma mengangguk kecil, lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya. Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan punggungnya dan menghela napas panjang. Ia duduk di pinggir tempat tidur, menatap buku biru di pangkuannya. Ada rasa sesal karena gagal bertemu Adit, namun ada kelegaan karena ia kini memiliki tempat untuk mengadu.

Jangan sampai perjalanan hari ini malah membuat pikiranmu kacau hanya karena Bila.

Kalimat Herman mendadak terngiang-ngiang di telinga Salma, bahkan setelah pintu kamarnya tertutup rapat. Suara Ayahnya yang berat dan penuh penekanan seolah berputar di udara, meninggalkan rasa sesak yang familiar di dadanya.

​Salma menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang masih tak karuan. Ia menarik kursi belajar, menyalakan lampu meja yang sinarnya temaram, lalu membuka halaman pertama buku bersampul biru tersebut. Sementara, ujung pulpennya ragu sejenak di atas kertas putih yang masih suci, sebelum akhirnya ia mulai menggoreskan tinta dengan tangan yang sedikit gemetar.

Jika sekadar rindu pada sahabat saja sudah dicurigai, maka mengakui adanya perasaan spesial untuk seorang lelaki pasti akan dianggap sebagai "kiamat" oleh Ayah. Ayah pasti akan marah besar, mungkin emosinya akan jauh lebih meledak daripada saat aku melakukan kesalahan dalam urusan sekolah.

​Bagi Ayah, ujian dan masa depan adalah segalanya. Segala macam perasaanku, entah itu rindu yang membuncah pada teman lama atau debaran aneh cinta pertama hanyalah dianggap sebagai benalu. Penghalang yang harus disingkirkan demi angka-angka di atas kertas rapot.

​Salma berhenti menulis sejenak, menatap deretan kalimat itu dengan mata berkaca-kaca. Di sini, di dalam buku ini, ia tidak perlu bersembunyi. Ia kembali melanjutkan tulisannya dengan napas yang lebih lega.

​Tadi aku ke rumah Nenek, tapi aku gagal bertemu Adit. Mungkin ini cara dunia menjagaku agar tidak mati di tangan Ayah malam ini. Tapi Bil, lewat buku ini, aku berjanji akan jujur pada diriku sendiri. Tentang rasa sesak di rumah ini, dan tentang rahasia yang tidak boleh Ayah tahu.

​Salma lalu menutup buku itu perlahan, menyembunyikannya di tumpukan buku pelajaran yang paling bawah. Di luar, suara langkah kaki Herman terdengar melewati kamarnya, sebuah pengingat bahwa di rumah ini, Salma harus kembali menjadi robot yang patuh, sementara jiwanya yang sebenarnya baru saja ia kunci rapat di dalam buku bersampul biru itu.

****

Tok. Tok. Tok

​Suara ketukan di pintu kamarnya memecah keheningan malam. Salma terkesiap, refleks ia segera mengambil buku paket matematika dan membuka halaman asal.

"Sal?"

Salma mengembuskan napas lega. Itu bukan suara berat Ayah, melainkan suara lembut yang sudah sangat jarang menyapa ruang pribadinya.

Lihat selengkapnya