"Bundaaaa!"
Teriak Salma dari dalam kamar mandi, nadanya terdengar antara panik dan bingung.
Desi segera mencuci tangannya yang berlumuran bumbu, mengelapnya asal pada celemek yang terikat di pinggang, lalu bergegas menuju sumber suara. "Kenapa, Sal? Ada apa?" tanyanya cemas sambil mengetuk pintu kayu yang tertutup rapat.
Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Salma yang pucat pasi. Matanya yang bulat tampak berkaca-kaca, menatap ibunya dengan tatapan nanar yang sulit diartikan. Di tangan gadis itu, terselip rasa takut yang amat besar.
"Apa, Sal? Kenapa?" Desak Desi cemas.
"Bun... ada darah," bisik Salma parau. Tubuhnya gemetar hebat.
"Darah?" Ulang Desi. "Kamu luka? Ada yang sakit."
Salma menggeleng kuat-kuat, matanya membelalak ketakutan saat ia perlahan memperlihatkan noda merah di celana dalamnya kepada Desi. Tubuhnya gemetar hebat, sebuah reaksi alami dari rasa trauma dan ketidaktahuan yang bercampur menjadi satu.
Desi tertegun sejenak, menatap noda merah di kain itu sebelum akhirnya suara tawa kecil keluar dari bibirnya. Ia terkekeh, bukan karena menganggap hal itu lucu, melainkan karena rasa lega dan haru yang membuncah. Ternyata, waktu berlalu begitu cepat hingga anak gadis yang dulu sering ia timang kini telah mencapai titik balik dalam hidupnya.
"Kenapa Bunda malah ketawa, si?!" tanya Salma dengan suara bergetar, wajahnya masih memerah karena malu dan bingung.
Desi perlahan meredakan tawa kecilnya, namun binar geli itu masih tertinggal di matanya. Ia mendekat lalu merangkul bahu Salma yang masih kaku. Ia mengusap lengan putrinya itu dengan gerakan lembut, berusaha menyalurkan ketenangan ke tubuh yang sedang gemetar hebat tersebut.
"Salma, sayang... dengar Bunda," suara Desi kini terdengar sangat dalam dan teduh. "bukan maksud Bunda menertawakan ketakutanmu. Bunda tertawa karena lega, juga karena sadar kalau putri kecil Bunda ini ternyata sudah benar-benar besar."
Salma mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap Desi dengan penuh tanya. "Maksudnya? Aku sakit, Bun? Atau aku luka di dalam?"
Desi tersenyum tipis, lalu menyampirkan anak rambut Salma ke belakang telinga. "Kamu tidak sakit, dan kamu sama sekali tidak terluka. Ini namanya menstruasi, sayang. Noda merah itu adalah tanda kalau tubuhmu sehat, tanda kalau kamu sudah transisi menjadi seorang perempuan dewasa secara biologis."
Salma terdiam, napasnya yang tadi memburu perlahan mulai teratur, meski sisa rasa takut masih membayangi wajahnya.
"Semua perempuan mengalami ini, Sal. Dulu Bunda juga setakut kamu, bahkan mungkin lebih heboh sampai menangis di kamar mandi berjam-jam," lanjut Desi dengan nada bercanda untuk mencairkan suasana. "Ini fase baru dalam hidupmu. Artinya, sekarang ada tanggung jawab baru yang harus kamu jaga pada dirimu sendiri."