PUTARAN WAKTU SALMA

essa amalia khairina
Chapter #26

COWOK GERBANG SEKOLAH

​"Ayooo... Ayo! Lima menit lagi gerbang tutup! Jangan sampai ada yang hobi jadi penunggu pagar!"

​Suara lantang itu membelah keramaian di depan gerbang sekolah. Seorang laki-laki, siswa OSIS senior—berdiri tegak sambil bertepuk tangan ritmis, seolah sedang memacu semangat para adik kelasnya untuk bergegas. Siswa-siswi yang baru turun dari angkot atau motor langsung berlari tunggang-langgang, berusaha menyelamatkan diri dari hukuman pagi. Di samping gerbang, seorang siswi senior lainnya tengah berdiri dengan tatapan tajam, memeriksa kelengkapan atribut mulai dari dasi hingga kaos kaki setiap siswa yang melintas masuk.

​Detik-detik penentuan itu tiba. Petugas gerbang sudah mulai menarik pagar besi yang berat itu untuk menutup rapat.

​Di saat yang sama, sebuah motor berhenti mendadak di depan gerbang. Salma turun dengan terburu-buru, bahkan nyaris lupa menyalami ayahnya karena matanya terpaku pada celah gerbang yang semakin menyempit.

​"Ayah, Salma masuk dulu!" serunya tanpa menoleh lagi.

​Salma berlari sekuat tenaga. Namun, langkahnya tertahan tepat ketika ujung pagar hampir menyentuh tiang. Jantungnya mencelos—ia pikir ia akan tertahan di luar.

​"Tunggu! Tahan!"

​Tiba-tiba, sebuah tangan menarik pergelangan tangan Salma dengan kuat. Gadis itu, Tari, teman sebangkunya, gegas menarik Salma masuk ke dalam area sekolah tepat sedetik sebelum gerbang benar-benar terkunci rapat dengan bunyi dentang besi yang menggema.

​Laki-laki senior yang tadi memacu barisan itu seketika menoleh, langkahnya mendekat hendak mencegat karena melihat ada yang masuk di detik yang tidak sah. Ia baru saja akan membuka mulut untuk melayangkan teguran, namun kalimatnya tertahan di udara.

​Mata laki-laki itu bertemu dengan mata Salma. Keheningan singkat tercipta di tengah riuh rendah suasana pagi itu. Senentara, Salma yang masih terengah-engah menatapnya dengan sisa-sisa rasa takut dan bingung.

​"Dia teman aku, Kak! Tadi izin keluar sebentar beli alat tulis!" teriak Tari sambil menarik Salma semakin menjauh, tak membiarkan senior itu sempat mengajukan satu pertanyaan pun.

​Salma hanya bisa mengikuti tarikan tangan Tari, meninggalkan laki-laki itu yang masih berdiri mematung di dekat gerbang, menatap punggungnya yang semakin menjauh di tengah kerumunan siswa.

Perlahan, Tari melepaskan genggamannya begitu mereka sampai di koridor yang tak jauh dari kelas mereka dan cukup tersembunyi dari jangkauan pandangan para pengurus OSIS di gerbang tadi. Ia bersandar di pilar tembok sambil menyeka keringat yang membanjiri dahinya dengan punggung tangan.

Lihat selengkapnya