PUTARAN WAKTU SALMA

essa amalia khairina
Chapter #27

JAM ISTIRAHAT

​Bel sekolah berdentang nyaring, memicu sorak-sorai "Hore!" dari penjuru kelas seolah baru saja terbebas dari belenggu. Dalam sekejap, koridor penuh sesak. Ada yang menyerbu kantin seperti pasukan lapar, ada pula yang langsung berlari ke lapangan mengejar bola.

​Sejauh ini, kehidupan SMP Salma berjalan jauh lebih tenang. Ia berhasil menyesuaikan diri dengan baik dan, syukurnya, bayang-bayang perundungan masa lalu tak lagi terulang. Ia memilih berteman sewajarnya. Selain Tari yang setia menemani, ada Hana—sahabat lama sejak SD yang kembali satu sekolah dengannya. Tak hanya Hana, sebenarnya ada juga Dea di sekolah ini, namun Salma bernapas lega karena mereka tidak berada di kelas yang sama.

​Meski berbeda kelas, hubungan Salma dan Hana tetap erat. Bahkan kini mereka sering pulang bersama karena arah rumah yang searah.

​"Eh, lihat ke lapangan yuk!" ajak Hana penuh semangat saat mereka telah janjian dan bertemu di koridor. "Hari ini ada pertandingan basket antar kelas, lho!"

​"Ayo, ayo! Seru tuh! Tapi ke kantin dulu yuk, laper banget nih gue." timpal Tari tak kalah antusias. Salma, dengan kepolosan yang masih melekat, hanya mengangguk patuh mengikuti tarikan tangan kedua temannya itu.

​Setelah mengantre jajanan di kantin, ketiganya mencari tempat duduk di pinggir lapangan. Di tengah keriuhan sorak penonton, mata Salma terpaku pada satu sosok yang mendominasi area lapangan. Ternyata, salah satu pemainnya adalah Herlan.

​"Pantesan badannya bagus... ternyata atlet basket," gumam Salma tanpa sadar, matanya tak lepas dari gerak-gerik tegap Herlan yang terlihat sangat lincah.

​"Siapa, Sal?" celetuk Hana yang ternyata menangkap bisikan itu.

​Salma terkesiap, wajahnya mendadak panas karena tertangkap basah. "Eh? Eng-enggak, kok! Bukan siapa-siapa."

​"Cieee, Kak Herlan yaaa?" goda Tari sambil menyenggol bahu Salma dengan nakal. Kebetulan Salma duduk di tengah, terjepit di antara godaan kedua temannya.

​"Enggak, ih! Bukan!" elak Salma, meski jantungnya berdegup sedikit lebih kencang.

​"Hus!" Hana tiba-tiba menyela, ekspresinya berubah serius. "Jangan sembarangan godain. Kak Herlan tuh kabarnya udah punya pacar."

Jleb.

Salma merasa ada sesuatu yang menusuk ulu hatinya. Perasaan yang baru saja mekar itu mendadak layu sebelum sempat disiram.

Lihat selengkapnya