PUTARAN WAKTU SALMA

essa amalia khairina
Chapter #28

IKUT AYAH

​Meskipun hari ini adalah tanggal merah dan sebagian besar orang menikmati libur di rumah, Herman tetap harus berangkat bekerja. Kini, sebagai seorang pengusaha yang memiliki semangat yang tinggi dan tanggung jawab yang besar, terkadang ia memang tidak mengenal hari libur.

​Melihat ayahnya yang tengah bersiap untuk pergi, Salma yang biasanya selalu menyendiri di dalam kamar tiba-tiba mendekat.

​"Yah... ikut, ya? Salma mau ikut sama Ayah," rengek Salma sambil membuntuti langkah ayahnya yang sedang memakai sepatu di teras. "Aku diam di rumah Nenek terus main sama Bila ya, Ayah?"

​Herman menoleh, tersenyum kecil melihat wajah putrinya yang ditekuk masam. "Lho, ini kan tanggal merah. Mending di rumah belajar sambil bantuin Bunda."

​"Nggak mau! Di rumah bosen, Bunda juga pasti sibuk di dapur sibuk sendiri. Giliran mau di bantu, jatuhnya aku malah di sangka gangguin." bantah Salma, jemarinya memilin ujung bajunya—kebiasaan lamanya jika sedang merajuk. "Salma janji nggak akan nakal. Di rumah Nenek. Salma kan udah besar, yah."

"Coba tanya sama Bunda," kata Herman saat melihat ​Desi yang keluar dari balik pintu kamar mandi.

Herman dan Desi saling melirik sejenak, menimbang-nimbang sebelum akhirnya Desi mengangguk pelan.

"Iya, boleh," jawab Desi kemudian.

​Herman mengernyitkan dahi. "Terus siapa yang jaga Doni kalau kamu ikut, Sal? Bunda kan mau masak."

​"Doni biar main sama Seva, Yah. Tetangga sebelah gampang, ibunya Seva juga ada di rumah kok," sela Desi cepat, memberikan jalan tengah.

​Dalam hati, Salma sempat mendengus kecil. Ia teringat masa-masa SD-nya dulu yang penuh tekanan, ia selalu dipaksa belajar dan belajar seolah dunia akan kiamat jika ia berhenti membaca buku. Sementara Doni? Adiknya itu tampak begitu bebas bermain tanpa beban. Namun, Salma segera membuang rasa iri itu jauh-jauh. Saat ini, ia punya misi yang jauh lebih penting, ia harus bertemu Bila dan meminta bantuannya untuk melacak keberadaan Adit. Mungkin dengan Bila, ia punya akses informasi yang ia butuhkan.

​"Ya sudah, cepat siap-siap," ujar Herman sambil mengecek jam tangannya.

​Salma baru saja hendak berbalik menuju kamar dengan perasaan menang, sampai tiba-tiba suara Desi memecah konsentrasinya.

Lihat selengkapnya