Kota ini selalu punya cara buat bikin aku ngerasa jadi anak kecil lagi. Setiap sudut jalan, setiap aroma aspal basah setelah hujan, semuanya serentak teriak satu nama yaitu kamu, Adit.
Lucu ya. Lebih dari tiga tahun, dan aku masih sering 'scanning' kerumunan orang setiap kali kemari. Aku cari sosok kamu di antara siswa-siswa SMA yang pulang sekolah, di antara orang-orang yang duduk di kafe, atau sekadar di antara pengendara motor yang berhenti di lampu merah. Bahkan ke sekolah tempat kita belajar dulu. Tapi hasilnya selalu nol. Kamu kayak hilang ditelan bumi setelah aku pergi.
Ingatan soal masa-masa buli itu... anehnya nggak pernah bener-bener pergi. Tapi bedanya, sekarang rasa sakit itu bukan lagi bikin aku nangis, tapi malah bikin aku haus buat ketemu kamu.
Kenapa sih, dari sekian banyak orang yang ada di dunia ini, cuma kamu yang nggak pernah ikut nertawain aku? Kamu itu pahlawan paling nggak modal yang pernah aku kenal. Nggak pakai jubah, nggak pakai kata-kata manis, tapi cukup dengan muka datar dan keberanian buat pasang dada demi cewek cengeng kayak aku.
Di SMA-ku yang sekarang, banyak cowok yang jauh lebih keren dari kamu, setidaknya menurut standar teman-temanku. Tapi nggak ada satu pun dari mereka yang bisa bikin aku ngerasa dekat dan aman. Kata orang, Ayah dan Bunda, masa SMA ini adalah masa yang paling indah. Di sisi mana aku bisa mendapatkan keindahan itu, sementara aku masih terjebak di masa lalu dan sampai saat ini tak ada seorangpun yang berhasil membawaku lari.
Bagaimana caranya aku bisa move on kalau standarku soal 'cowok baik' itu ya kamu, Adit? Aku nggak cari pahlawan lagi. Aku sudah kuat sekarang. Aku sudah bisa lawan orang-orang yang coba jahat sama aku. Tapi aku butuh kamu... cuma buat mastiin kalau pahlawan kesianganku itu masih ada di suatu tempat, sedang hidup dengan baik.
Apa kota ini terlalu besar sampai kita nggak pernah papasan, atau emang kamu sengaja nggak mau ditemuin? Setiap kali aku injak kota ini, aku selalu berharap ada keajaiban... kamu muncul di depanku, setidaknya, beri aku kesempatan untuk mengucapkan terima kasih atas bantuanmu yang dulu.
Salma menghela napas panjang, mengeratkan pegangannya pada pagar balkon sebuah kafe pusat kota. Ia tahu, pencarian ini mungkin tidak akan ada ujungnya, tapi bagi Salma, Adit adalah detak jantung dari setiap sudut jalanan yang ia lalui di kota ini. Kerinduannya bukan lagi sekadar cinta monyet, tapi sebuah hutang rasa yang belum lunas.
Sinar matahari kota sore itu perlahan menghangat, dan bagi Salma, hawa hangat ini selalu membawa debar yang akrab. Rambutnya yang dibiarkan terurai alami, bertebaran di tiup angin senja. Dan, wajahnya yang hanya dipoles tipis dengan pelembap bibir, memancarkan kesan polos yang jujur.
"Udah sore, nih," kata Bila mengejutkan, suaranya memecah lamunan Salma usai ia membayar tagihan makan mereka di kasir.
Bila melirik jam tangannya, lalu menatap Salma dengan tatapan yang seolah ingin menyerah. "Mau ke mana lagi kita, Sal? Ke toko buku udah, ke mall udah, bahkan tadi ke..." Bila mengembuskan napas panjang, seolah lelah hanya dengan mengatakannya. "...sekolah lama kamu juga udah kita puterin. Hasilnya? Nihil, kan?"
Salma hanya terdiam, menggenggam erat kantong plastik berisi buku yang baru dibelinya. Ia tahu Bila sudah sangat sabar menemaninya melakukan "patroli" tak resmi di setiap sudut kota yang punya memori tentang Adit.
"Balik yuk, gerah nih. Aku pengen mandi," cerocos Bila lagi tanpa memberi jeda. "Besok kan hari pertama kita sekolah lagi setelah libur panjang. Lagian nih, ya, ini kan hari terakhir kamu di kota sebelum pulang ke rumah. Kamu seminggu nginep di rumah Nenek masa mau ditutup dengan drama kena omel Ayah karena pulang kesorean? Kamu nggak mau kan Ayah kamu yang 'super galak' itu kumat lagi gara-gara kamu telat sampai rumah?"
Salma menghela napas, menyadari ucapan Bila ada benarnya. Ayahnya memang sudah lebih lembut, tapi soal disiplin waktu, Herman tetaplah Herman yang dulu. Ia melirik ke arah luar mall di mana langit sudah mulai berubah jingga keunguan.