Keheningan di dalam mobil terasa lebih menyesakkan daripada kemacetan yang mengepung mereka di luar. Salma menyandarkan kepalanya di jendela, merasakan getaran mesin yang halus sementara matanya kosong menatap deretan kendaraan yang tak kunjung bergerak.
Herman tetap diam. Jemarinya mengetuk kemudi dengan irama yang kaku, pandangannya lurus ke depan, seolah-olah kaca depan adalah satu-satunya hal yang layak mendapatkan perhatiannya. Tidak ada musik, tidak ada suara pendingin udara yang biasanya terasa sejuk, hanya ada atmosfer berat yang membuat kabin itu terasa semakin mencekik.
Salma mengalihkan pandangan ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, berpendar di balik kaca yang mulai sedikit berembun. Orang-orang di trotoar tampak terburu-buru, kontras dengan situasi di dalam mobil yang seakan membeku dalam waktu. Di tengah lautan manusia yang bergerak cepat, aku justru mematung, merasakan kekosongan yang kian nyata. Ternyata, berada di antara ribuan orang tidak ada gunanya jika satu-satunya wajah yang ingin kulihat justru tidak ada di sana.
"Salma?" panggil Herman mengejutkan akhirnya.
"Iya, Ayah?" sahut Salma berusaha tenang.
"Besok adalah hari pertama kamu kembali ke sekolah." Kata Herman. Ia lalu menarik tuas persneling ke depan dengan gerakan mantap, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam. Mesin mobil menderu pelan, membawa mereka melaju lebih cepat membelah sisa kemacetan yang mulai terurai. "Ayah harap... kamu bisa belajar lebih serius dari kelas sepuluh."