Teng! Teng! Teng!
Suara lonceng sekolah berdentang nyaring, membelah hiruk-pikuk koridor dan memaksa para siswa untuk segera mengakhiri obrolan mereka. Bagi sebagian orang, itu adalah tanda dimulainya petualangan baru, namun bagi Salma, bunyi itu terdengar seperti lonceng keberangkatan menuju medan perang yang asing.
Langkah kakinya terasa berat saat ia menyusuri lorong yang mulai sepi. Semuanya terasa berbeda dibandingkan tahun lalu saat ia masih duduk di kelas sepuluh. Berdasarkan angket peminatan yang ia isi dengan jemari gemetar semester kemarin, Salma akhirnya memilih jurusan IPA. Sebuah keputusan yang diambil bukan sepenuhnya karena gairah pada sains, melainkan karena ada harapan, atau mungkin beban yang dititipkan ayah dan ibunya di sana.
Ia berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu yang asing. Papan di atasnya bertuliskan "Kelas XI IPA". Ini bukan lagi kelasnya yang dulu. Tak ada lagi tawa riuh yang biasa menyambutnya di sudut ruangan yang sama.
Saat Salma melangkah masuk, suasana sunyi langsung menyergapnya. Matanya menyapu seisi ruangan, dan ia sedikit tersentak. Kelas itu terasa jauh lebih luas dan lengang. Jika di kelas sepuluh dulu ada sekitar lima puluh siswa yang berjejal hingga ke baris belakang, kini pemandangannya berbeda drastis. Hanya ada sekitar dua puluh siswa yang duduk terpencar, menciptakan jarak-jarak kosong yang membuat atmosfer ruangan terasa dingin.
Wajah-wajah di depannya jauh tampak lebih serius, lebih terfokus, seolah-olah seleksi alam telah menyaring mereka yang benar-benar siap untuk bertarung dengan tumpukan rumus dan praktikum. Salma menarik napas panjang, meremas tali tasnya kuat-kuat. Di antara setengah dari lima puluh murid itu, ia merasa seperti seorang penyusup yang masih membawa luka lama ke dalam ruang yang menuntut logika sempurna.
"Sal!" panggil seseorang, suaranya memecah kecanggungan yang sempat menghinggapi benak Salma.
Mata Salma seketika berbinar. Di salah satu sudut kelas, ia mendapati Risa sedang melambai ke arahnya. Risa adalah teman sebangkunya saat kelas sepuluh dulu—masa di mana satu meja panjang harus mereka huni bertiga, berdesakan namun penuh tawa.
Namun, pemandangan di kelas sebelas ini jauh berbeda. Bangku-bangku panjang itu kini telah berganti menjadi kursi tunggal dengan meja pribadi, mirip tatanan di ruang kuliah mahasiswa. Terlihat lebih eksklusif dan istimewa, memang, tapi bagi Salma, tatanan ini justru menciptakan sekat yang nyata. Setiap siswa kini memiliki "pulaunya" masing-masing. Terasa lebih sunyi, seolah mereka dipaksa untuk lebih mandiri dan kompetitif.
"Sini, Sal!" Risa menunjuk kursi kosong di sebelahnya. Tepatnya, di paling belakang.
Salma melangkah mendekat, dan senyumnya semakin mengembang saat menyadari bahwa kejutan pagi itu belum berakhir. Di barisan yang sama, ia melihat wajah-wajah yang sangat ia kenali. Ada Alisa yang duduk paling depan, Kinan yang tetap terlihat tenang dengan buku di tangannya, dan Kayla—si agamis yang dulu tak pernah sedetik pun jauh darinya. Mereka adalah lingkaran terdekat Salma, teman yang selalu bersama ke mana pun kaki melangkah.
Ternyata takdir masih cukup baik padanya. Di tengah ketakutannya akan jurusan IPA yang berat dan bayang-bayang Herman yang menuntut nilai sempurna, ia dipertemukan kembali dengan mereka dalam satu kelas yang sama.
"MasyaAllah, ya? Kita barengan lagi," bisik Kayla saat Salma duduk di samping Risa.
Salma mengangguk pelan, merasakan sedikit kehangatan menyusup ke dadanya. Setidaknya, di ruangan yang kini hanya berisi dua puluh orang ini, ia tidak benar-benar berjuang sendirian. Ada mereka—saksi bisu masa lalunya yang mungkin bisa membantunya menghadapi hari-hari berat ke depan tanpa kehadiran Adit di sisinya.
"Yap!" sahut Risa antusias. "Dan yang paling penting, aku sama Salma masih bisa sharing soal drakor, iya kan, Sal?"