Cieeee.... Salma kangen ya sama Robi?
Pernyataan itu masih terngiang jelas di kepala Salma, berputar-putar seperti piringan hitam yang rusak. Namun, anehnya, cara Randu bicara dan nada menggodanya tadi tidak membuat Salma merasa terpojok. Justru, itu terasa seperti hiburan di tengah kekesalannya. Mengapa Randu bisa semirip itu dengan Adit?
Dulu, setiap kali Salma berada dalam ancaman atau situasi yang menyesakkan, Adit selalu muncul sebagai penyelamat dengan cara-caranya yang tak terduga. Dan kini, ejekan Randu yang jenaka seolah menjadi pelipur lara yang terselip di antara tawa bersama teman-temannya. Sosok itu membawa kehangatan yang sudah lama tak ia rasakan.
Di kantin yang mulai penuh oleh uap panas mangkuk bakso dan aroma menyengat bumbu instan, Salma justru kehilangan selera. Ia duduk termangu, menatap permukaan meja kayu yang sedikit berminyak.
"Sal, mau jajan apa lagi?" Suara Risa memecah lamunannya. "Sal? Kamu denger nggak, sih?"
"Uh?" Salma tersentak, mengerjapkan mata beberapa kali hingga fokusnya kembali pada empat wajah di depannya.
"Kok bengong? Mikirin apa sih dari tadi?" protes Kayla sambil menyuap siomay ke mulutnya.