PUTARAN WAKTU SALMA

essa amalia khairina
Chapter #35

DI LABORATORIUM

​Siang itu, udara di dalam laboratorium kimia terasa lebih berat. Bau khas belerang yang samar beradu dengan suara deru kipas angin yang berusaha keras menghalau gerah. Di papan tulis, rumus-rumus senyawa organik yang ditulis Pak Tomi tampak seperti labirin rumit yang siap menyesatkan siapa saja yang kurang konsentrasi.

​Namun, Pak Tomi bukan tipe guru yang membiarkan muridnya tenggelam dalam angka dan simbol tanpa makna. Menjelang akhir jam pelajaran, pria paruh baya berkacamata itu meletakkan kapur tulisnya, lalu berbalik menatap muridnya yang tampak mulai kelelahan.

​"Anak-anak, sebelum kita tutup, Bapak ingin kalian ingat satu hal tentang reaksi kimia," ucap Pak Tomi pelan namun berwibawa.

​Salma yang sedari tadi sibuk mencatat, mendongak. Lagi, ia mencuri pandang ke arah Randu yang duduk beberapa bangku di depannya, tampak asyik berbisik dengan temannya sambil menyunggingkan senyum jenaka yang lagi-lagi membuat Salma berdesir. Cepat-cepat ia mengalihkan fokus, memperhatikan Pak Tomi yang kini berdiri tegak di depan meja praktikum.

​"Dalam kimia, ada yang namanya kesetimbangan dinamis. Reaksi seolah berhenti, padahal sebenarnya molekul-molekul di dalamnya terus bergerak dalam kecepatan yang sama. Kehidupan pun begitu," Pak Tomi tersenyum tipis, "kadang kalian merasa hidup kalian jalan di tempat, tidak ada kemajuan, atau terjebak dalam masalah yang itu-itu saja. Padahal, di dalam diri kalian, proses pendewasaan sedang terjadi dengan sangat hebat. Kalian tidak berhenti, kalian hanya sedang berproses mencapai titik setimbang."

​Pak Tomi mengetuk papan tulis pelan, memberikan penekanan pada setiap kata. "Dan ingat, setiap unsur butuh energi aktivasi untuk memulai sebuah reaksi. Jangan takut pada tekanan atau panas yang kalian rasakan sekarang, karena tanpa itu, kalian tidak akan pernah berubah menjadi sesuatu yang baru."

​Salma tertegun. Kalimat itu menghantamnya tepat di ulu hati. Ia teringat akan tuntutan dingin dari ayahnya setiap malam di dalam mobil, bayang-bayang Adit yang tak kunjung hilang dari memorinya, hingga rasa sesak karena harus bertahan di jurusan yang sebenarnya bukan pilihannya. Ternyata, tekanan yang ia rasakan selama ini mungkin adalah energi aktivasi yang ia butuhkan untuk bertransformasi—untuk melepaskan diri dari wujudnya yang lama.

Lihat selengkapnya