"Kak Salmaaaa!"
Teriakan cempreng itu menyambut Salma tepat saat ia baru saja mematikan mesin sepeda motornya di halaman rumah. Seorang gadis kecil berlari kecil menghampirinya, rambut pirang halusnya bergoyang mengikuti langkah kakinya yang riang.
"Kak Salma baru pulang sekolah?" tanya gadis kecil itu dengan mata bulat yang berkedip polos.
Salma mengangguk, mencoba mengulas senyum meski tubuhnya terasa remuk. Ia melepas helm dan merapikan rambutnya yang lepek. "Iya, Sayang. Bunda mana, Lily?"
"Bunda lagi antar katering," jawab Lily sambil memeluk tas sekolah Salma yang masih tersampir di bahu.
"Terus kamu dari tadi sama siapa?" Salma mengerutkan kening, menyadari rumah tampak terlalu sepi.
"Sama Kak Doni. Tapi Kak Doni pergi main, Kak. Disamper Kak Seva tadi."
Mendengar itu, Salma mendengus kesal. Napasnya memburu seketika. "Jadi kamu dibiarin di rumah sendirian gitu? Beraninya dia! Nggak bener banget jaga adik sendiri," cerocos Salma sambil menggandeng tangan kecil Lily masuk ke dalam rumah. Rasa tanggung jawab Doni yang payah selalu berhasil menyulut emosinya di saat ia sedang lelah-lelahnya. "awas saja kalau dia pulang!"
"Kakak jangan marah-marah, Lily takut." Rengek Lily.
Begitu sampai di dapur, Salma segera mengambil gelas, mengisinya dengan air dingin, lalu meneguknya kasar hingga tandas. Rasa sejuk itu perlahan menyebar, membasuh sisa kelelahan dan emosinya yang sempat memuncak. Namun, entah kenapa, memori singkat tentang Randu di kelas tadi mendadak melintas. Senyum tipis hampir saja terbentuk di sudut bibirnya sebelum ia tersadar akan kehadiran Lily.
"Nah, gitu dong senyum." Celetuk Lily mengejutkan. "Kan cantik."
"Lily." Gumam Salma sambil mengacak-acak rambut adiknya gemas.
"Kak... aku mau main game di HP Kakak dong, boleh?" pinta Lily dengan nada merayu, kedua tangannya tertangkup di depan dada.
Salma menatap adiknya sejenak. "Boleh, tapi sebentar ya? Jangan lama-lama."
Ia merogoh ponsel dari saku seragamnya. Sebelum menyerahkan benda itu ke tangan Lily yang sudah tak sabar, Salma dengan telaten meredupkan cahaya layarnya—memastikan mata adiknya tetap aman. Lily langsung merampas ponsel itu dengan cepat, jarinya bergerak cekatan seolah sudah hafal luar kepala di mana letak aplikasi permainan favoritnya.