PUTARAN WAKTU SALMA

essa amalia khairina
Chapter #37

JAM OLAHRAGA

Priiiiiiiit!

Suara peluit melengking itu ditiup dengan tenaga penuh oleh Pak Purnomo atau yang lebih akrab disapa Pak Pur. Seketika, hiruk-pikuk di koridor dan kantin mereda, berganti dengan derap langkah puluhan murid yang berlari teratur menuju lapangan terbuka yang mulai disengat matahari pagi.

​Seperti biasa, Salma dan "paket lengkapnya"—Kayla, Risa, Kinan, dan Alisa langsung membentuk barisan tersendiri. Mereka adalah unit yang tak terpisahkan. Namun, saat mereka sedang merapikan barisan, seorang gadis berambut panjang menghampiri dengan senyum yang sangat ceria.

​"Eh, hari ini aku ikut baris di kelompok kalian ya?" tanya gadis itu riang.

​"Boleh banget, Vit!" sahut Alisa ramah.

​Gadis itu bernama Vita. Ia segera mengambil posisi di depan, tepat di depan Alisa. Salma memperhatikan punggung Vita sejenak. Sebenarnya Vita punya lingkaran pertemanannya sendiri—Resti, Fira, dan Hani yang biasanya menempel bak perangko. Namun hari ini, teman-temannya itu tampak berada di barisan yang agak jauh, dan aura di antara mereka terasa sedikit berbeda. Ada sesuatu yang janggal, sebuah jarak yang tak kasatmata, tapi Salma memilih untuk menyimpannya dalam hati. Mungkin hanya perasaannya saja.

​"Oke, anak-anak... Sebelum olahraga, seperti biasa kita pemanasan dulu!" seru Pak Pur dengan suara lugas dan lantang. Ia berdiri tegak dengan peluit yang kembali terselip di jemarinya. "Perempuan lari keliling lapangan dulu, baru setelah itu laki-laki. Paham?"

​"Siap, Pak!" sahut seluruh murid serentak.

​Di antara koor suara itu, suara Randu terdengar paling kencang dan bersemangat, mengundang beberapa pasang mata—termasuk Salma—untuk menoleh padanya. Laki-laki itu tampak sangat siap, dengan kaos olahraga yang membungkus tubuh tegapnya, ia menyeringai lebar ke arah teman-temannya.

​Salma menarik napas panjang, mencoba memfokuskan diri pada lintasan lari di depannya. Saat ia mulai melangkah kecil untuk berlari, ia merasakan udara pagi yang segar, mencoba membuang segala pikiran tentang keganjilan Vita atau kemiripan Randu dengan masa lalunya. Fokusnya kini hanya satu: menyelesaikan putaran lari tanpa harus terlihat payah di depan semua orang.

****

​"Selesai pemanasan! Sekarang kita masuk ke materi inti, yaitu bola voli," seru Pak Pur sambil menepuk bola voli di tangannya hingga menimbulkan suara dentum yang mantap. "Perempuan main dulu, yang laki-laki jadi wasit dan hakim garis. Siap ya?!"

​"Siap, Paaak!"

​Lapangan segera terbagi dua. Setelah pembagian tim yang cukup acak, lagi dan lagi, Salma berada dalam satu grup dengan "pasukan" setianya. Namun, ada satu tambahan permanen di tim mereka, Vita.

​Masalahnya, tim ini lebih cocok disebut "Tim Pengamat" daripada atlet voli. Sementara tim lawan sudah memasang kuda-kuda serius dan sesekali melakukan service yang menukik tajam, Salma dan kawan-kawannya justru berdiri santai tanpa dosa di tengah lapangan. Mereka hanya akan berlari kencang jika bola voli meluncur persis ke arah mereka, itu pun bukan untuk memukulnya, melainkan untuk menghindar.

​Tangan mereka lebih sibuk merapikan rambut atau sekadar menepis keringat sambil terus mengobrol, mengabaikan teriakan semangat dari tim sebelah.

​"Eh, Ris," bisik Salma pelan, mendekat ke arah Risa saat bola sedang melambung jauh di sisi lain lapangan. "Kamu sadar nggak, sih? Dari tadi Vita nempel kita terus?"

​Salma melirik ke arah Vita yang kini sedang tertawa kecil menanggapi celotehan Alisa dan Kayla. Meski ikut dalam obrolan, Vita seolah-olah sedang memasang "jangkar" agar tetap berada di lingkaran mereka, tak sedikit pun melirik ke arah kelompok teman lamanya, Resti dan kawan-kawan.

​Risa mengangguk kecil, matanya memicing memperhatikan gerak-gerik Vita. "Iya, aku sadar. Tumben banget, kan? Biasanya dia nggak bisa lepas dari Resti dan kawanannya."

​"Kenapa ya?" tanya Salma lagi, rasa penasaran mulai menggelitik benaknya.

​"Mungkin lagi ada 'perang dingin' di sebelah sana," duga Risa sambil mengangkat bahu.

Lihat selengkapnya