Pelajaran Bahasa Inggris baru saja usai. Mr. Jem—begitu Pak Jemi akrab disapa, menutup buku absensinya dengan ketukan pelan yang seolah menjadi simfoni paling merdu bagi seluruh isi kelas—tanda kebebasan.
Setelah mengucapkan salam perpisahan yang disambut dengan teriakan "Thank you, Sir!" yang super kompak, pria itu melangkah keluar kelas, meninggalkan keriuhan murid yang mulai berbenah.
"Aku pulang dijemput Kak Stevan hari ini," lapor Risa tiba-tiba. Biasanya, Risa selalu mengekor di belakang Salma menuju parkiran karena rumah mereka searah, tapi hari ini dia tampak berseri-seri merapikan poninya.
Salma menghentikan aktivitas memasukkan buku ke dalam tas. "Enak banget ya punya pacar. Bisa jadi tukang ojek pribadi, bisa jadi mesin ATM juga kalau lagi tanggal tua," godanya sambil menyikut lengan Risa.
"Iya dong! Paket lengkap!" sahut Risa bangga tanpa rasa malu sedikit pun.
"Kamu pacaran sama Kak Stevan udah berapa lama emang, Ris?" tanya Kayla penasaran sembari menyampirkan tas di bahu.
"Kalau dihitung dari zaman SMP sih..."
"SMP?" Salma memotong cepat, matanya membulat. "Serius? Awet banget kayak formalin."
"Zaman SMP itu..." Salma mendesah pelan, seolah mengingat memori lama yang kosong. "Aku sama sekali nggak pernah ngerasain yang namanya pacaran. Rasanya flat banget."
"Baguslah," sela Kayla sambil menepuk bahu Salma. "Lebih baik taaruf aja nanti. Langsung sah, nggak pake drama diturunin di pinggir jalan."
"PIKEEEEET!"
Suara menggelegar itu memutus obrolan mereka. Arga, si seksi keamanan yang dedikasinya melebihi petugas bandara, berdiri di depan kelas sambil menunjuk-nunjuk jadwal di dinding. "Siapa yang piket hari ini?! Ayo, jangan kabur!"
Arga mulai mengabsen dengan suara lantang yang bikin telinga pengang. "Randu, Evan, Tiara, Danil, Sofia! Ayo ambil sapu! Yang nggak piket, silakan keluar kelas. Pulang langsung, jangan ngerumpi di depan pintu!"
"Cerewet banget sih, Ga," gumam Salma pelan sambil tertawa kecil. "Yuk, ah, pulang."
Satu per satu siswa berhamburan keluar kelas, menciptakan gelombang warna abu-abu putih yang memenuhi gerbang sekolah. Kayla sudah melambai lebih dulu, memacu motornya ke arah berlawanan. Kinan pun sudah nangkring di jok belakang ojek langganannya sambil sibuk merapikan helm, sementara Risa sudah melesat tanpa jejak demi memenuhi janji temu dengan sang kekasih.
Kini tinggal Salma dan Alisa yang masih bertahan di area parkir. Salma sedang berkutat, menarik mundur stang motor matiknya yang terjepit di antara deretan kendaraan roda dua yang diparkir terlalu rapat. Keringat mulai menetes di pelipisnya karena tenaga yang terkuras.
"Sal," panggil Alisa tiba-tiba. Suaranya terdengar ragu.
"Hm?" sahut Salma pendek tanpa menoleh. Kakinya masih berusaha mencari pijakan yang pas untuk menggeser motor di sampingnya yang menghalangi jalan.
"Itu kayaknya Vita deh. Belum pulang?"
Mendengar nama itu, Salma akhirnya berhenti menarik motornya. Ia menyeka dahi dengan punggung tangan, lalu menoleh ke arah yang ditunjuk Alisa. Di koridor yang mulai lengang, tampak sosok Vita sedang berjalan gontai menuju sisi lapangan. Ia tidak menuju gerbang, melainkan memilih duduk di sebuah bangku beton di bawah naungan pohon rindang yang besar.
"Eh, iya," gumam Salma. "Dia kenapa, ya? Bengong gitu, kayak lagi ada banyak pikiran."
Ada sesuatu yang janggal dari cara Vita duduk; bahunya merosot, dan tatapannya lurus kosong menatap lapangan voli yang beberapa jam lalu menjadi saksi bisu keceriaannya yang mendadak.
"Samperin, yuk!" ajak Alisa tanpa menunggu persetujuan Salma. Ia langsung melangkah lebar menuju ke arah Vita.