PUTARAN WAKTU SALMA

essa amalia khairina
Chapter #39

DIARY SALMA HILANG

Randu itu Randu. Adit itu Adit. Jangan sampai kamu terjebak dalam bayang-bayang Adit sampai kamu nggak bisa lihat siapa yang benar-benar ada di depan mata kamu sekarang.

Kembali terlintas pernyataan Alisa di benak Salma. Gadis itu benar, sangat benar hingga rasanya menyakitkan. Tapi, mengakui kebenaran tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagi Salma, Adit bukan sekadar nama dalam ingatan; Adit adalah satu-satunya orang yang memanusiakannya di saat dunia terasa seperti neraka.

Dan dalam kenyataannya, Salma tak bisa bohong kalau Randu memang punya cara tersendiri untuk mengusik ketenangannya. Ada sesuatu pada laki-laki itu yang membuat radar pertahanan Salma mendadak runtuh. Bukan hanya karena kemiripan sifatnya dengan Adit, tapi karena Randu adalah seseorang paling nyata yang pernah ia temui.

​"Kue, Sal?"

​Suara Desi memecah keheningan ruang tengah. Ia muncul dari arah dapur sembari membawa nampan berisi beberapa potong kue bolu kukus yang masih mengepul hangat. Aroma vanila yang manis seketika memenuhi ruangan, namun entah kenapa, selera makan Salma sedang mogok total.

​Salma tersentak, ia mengerjapkan mata seolah baru saja ditarik paksa dari dimensi lain. Ia menggeleng lemah tanpa menatap wajah sang Ibu. "Enggak, Bun. Kenyang," gumamnya singkat.

​Tanpa menunggu tawaran kedua, Salma langsung beranjak dari tikar tempatnya berselonjor sejak tadi. Ia berpamitan dengan nada terburu-buru kepada Ibu, Ayah, dan kedua adiknya yang sedang asyik tertawa menonton acara komedi di televisi. "Salma tidur duluan ya, udah ngantuk banget," katanya tanpa menoleh.

​Ia hampir terbirit-birit saat melangkah menuju kamar, lalu menutup pintunya dengan bunyi klik yang cukup tegas, seolah sedang mengunci dunia luar agar tidak ikut masuk ke dalam kepalanya yang riuh.

​Herman, sang ayah, menurunkan sedikit koran yang sedang dibacanya dan menoleh ke arah pintu kamar Salma yang sudah tertutup rapat. "Salma kenapa? Tumben jam segini udah mau tidur, biasanya suka ikut nonton sebelum jam sembilan," tanya Herman heran.

​Desi hanya mengangkat bahu pelan sembari meletakkan nampan kue di atas meja. Ia menatap pintu kamar anak sulungnya itu dengan tatapan penuh arti—tatapan seorang ibu yang tahu bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan.

Lihat selengkapnya