Malam itu telah menjadi malam terpanjang bagi Salma. Setiap detik jam dinding yang berdetak seolah mengejek kecemasannya. Maka, begitu fajar menyingsing, ia tidak menunggu perintah Bunda untuk bangun. Sebelum mentari benar-benar naik, Salma sudah memacu motornya menembus kabut tipis menuju sekolah.
Sekolah masih sangat sepi. Gerbang kecil baru saja dibuka oleh Pak Tarna, sang penjaga sekolah, yang menatapnya heran karena datang saat langit masih berwarna ungu gelap. Salma tidak peduli. Ia berlari kecil menyusuri koridor yang bergema, melewati ruang guru, laboratorium, perpustakaan, hingga sampai ia di depan kelasnya.
Napasnya tersengal. Dengan tangan gemetar, ia pun mendorong pintu kelas yang tidak terkunci.
Sreeet...
Suara gesekan pintu tua itu terdengar nyaring di tengah kesunyian. Salma mematung di ambang pintu. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat sosok yang sudah duduk manis di sana.
Di bangku depan, Vita sedang duduk tenang. Cahaya lampu kelas yang neon menyinari wajahnya. Dan di tangannya... ada buku bersampul biru itu. Vita sedang membacanya dengan sangat serius, jemarinya perlahan membalik halaman demi halaman.
"Vit..." suara Salma tercekat di kerongkongan, hampir tidak terdengar.
Vita tersentak. Ia mendongak, matanya yang besar menatap Salma dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara terkejut, sedih, dan sesuatu yang menyerupai rasa pengertian yang dalam.
"Sal... ka-kamu udah datang?" suara Vita terdengar tenang, namun ada getaran halus di sana. Ia tidak langsung menutup buku itu, melainkan tetap membiarkannya terbuka di halaman yang dipenuhi coretan nama 'Adit' dan 'Randu.'
Salma melangkah maju dengan lemas, tasnya merosot dari bahu. "Kamu... kamu nemuin buku itu?"
Vita mengangguk perlahan. "Maaf, Sal. Buku ini tiba-tiba tadi pagi udah ada di mejaku." jawabnya menyesal. "Aku penasaran siapa pemiliknya, tapi..."